FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Dosen Kesehatan Lingkungan UNAIR Sebut, Krisis Ekologi dan Deforestasi Bawa Risiko Zoonosis

KABAR FIKKIA – Peringatan Hari Zoonosis Sedunia menjadi pengingat penting akan meningkatnya ancaman penyakit menular dari hewan ke manusia. Dalam wawancara bersama FIKKIA News, Disny Prajnawita, S.KM., MPH., dosen Kesehatan Lingkungan FIKKIA UNAIR, mengungkapkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan serius dalam pengendalian zoonosis. Terutama akibat deforestasi dan perubahan tata guna lahan yang terus berlangsung

Disny Prajnawita, S.KM., MPH.,

Tren Zoonosis dan Perubahan Lingkungan

Prevalensi penyakit seperti rabies, leptospirosis, flu burung, dan antraks mengalami tren peningkatan. “Rabies misalnya, masih tinggi di beberapa provinsi seperti NTT akibat rendahnya cakupan vaksinasi hewan penular,” jelas Disny.

Sementara itu, Leptospirosis kerap meningkat saat musim hujan atau pasca banjir, terutama di kota-kota besar dengan sanitasi yang belum memadai. Pola ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan berperan besar dalam memunculkan kembali penyakit yang dulunya terkendali.

Deforestasi dan alih fungsi lahan kian meningkatkan risiko zoonosis. Satwa liar kehilangan habitat alaminya dan berpindah ke permukiman, meningkatkan kontak manusia-hewan. Ini memicu penularan penyakit seperti malaria, DBD, leptospirosis, hingga malaria monyet (Plasmodium knowlesi). “Perubahan ini tentunya akan  mendorong ledakan populasi hewan pembawa penyakit seperti tikus, dan mendukung berkembangnya vektor seperti nyamuk,” tambahnya.

Nyamuk anopheles penyebab malaria. Sumber: Liputan6.com

Dosen kesehatan masyarakat itu mengungkapkan pada tahun 2023, kasus malaria monyet dilaporkan meningkat di lima provinsi. Kabupaten Sabang, Aceh menjadi kota dengan prevalensi tertinggi. Di Kalimantan dan Sumatra, konversi hutan menjadi lahan tambang dan perkebunan turut diikuti lonjakan kasus ISPA, malaria, dan leptospirosis. Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan erat antara kerusakan ekosistem dan penyakit infeksi.

Tantangan Kebijakan dan Implementasi

Meski Indonesia sudah mengusung pendekatan One Health, Disny menyebut pelaksanaannya belum optimal. “Alih fungsi lahan sering dilihat dari sisi teknis dan ekonomi saja, bukan kesehatan. Terutama pembukaan lahan untuk pertanian. Seharusnya masuk ke dalam dokumen AMDAL atau KLHS,” jelasnya.

Konversi lahan hutan alam ke sektor pertanian, hutan industri, dan perdagangan satwa liar juga disebut sebagai kontributor utama peningkatan risiko zoonosis. Diperparah oleh buruknya sanitasi dan rendahnya kesadaran masyarakat.

Solusi: One Health dan Peran Masyarakat

Pendekatan One Health menurut Disny sangat penting dalam menghadapi risiko zoonosis. Dengan menggabungkan aspek kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, pendekatan one health memungkinkan deteksi dini dan respons lintas sektor yang lebih efektif.

Tenaga kesehatan masyarakat berperan strategis dalam edukasi, advokasi, dan pelatihan komunitas. Di sisi lain, pemerintah perlu memperkuat surveilans lintas sektor, serta mengintegrasikan risiko kesehatan dalam setiap rencana pembangunan.

Disny juga mendorong pencegahan berbasis komunitas. Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, tidak memperdagangkan satwa liar, serta menerapkan sanitasi yang baik.

“Langkah sederhana seperti cuci tangan, menghindari kontak dengan satwa liar, menjaga sanitasi lingkungan yang baik, dan memasak makanan dengan benar, bisa memberi dampak besar,” ujarnya.

Dengan kolaborasi semua pihak dan perlindungan terhadap ekosistem, ia optimis ancaman zoonosis dapat ditekan secara berkelanjutan.

Penulis: Ryan Adi Taufiqurrahman

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *