FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Dosen Reproduksi Veteriner FIKKIA Jadi Narasumber Bimtek Petugas Puskeswan Kabupaten Kediri

KABAR FIKKIA – Perjalanan pengabdian masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) telah sampai di Kota Kediri. Prodi Kedokteran Hewan memberikan pelatihan dan pembaruan ilmu terapan mengenai inseminasi buatan dan gangguan reproduksi pada petugas puskeswan dan kelompok ternak sapi di wilayah kerja Puskeswan Pare dan Tarokan. Roadtrip dimulai 22-25 Juli 2024 pada kelompok ternak di Kecamatan Gurah, Puncu, Grogol, dan Ngasem bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Kediri. Dosen Divisi Reproduksi Veteriner Dr. Trilas Sardjito, drh., M.S hadir memberi penyuluhan sekaligus praktik pemeriksaan hewan ternak warga.

Praktik IB di Kecamatan Puncu. Sumber: Istimewa

Pemerintah telah mencanangkan program kelahiran satu tahun satu sapi sebagai upaya percepatan swasembada daging. Berbagai tantangan yang dihadapi peternak, salah satunya produktivitas indukan sapi. Kasus yang ditemui ketika melakukan inseminasi buatan adalah gagal ovulasi, sehingga kawin suntik harus dilakukan berulang. Kejadian kawin berulang akan menambah masa tunggu kesiapan induk sapi.

Pakan bergizi pengaruhi keberhasilan inseminasi buatan

Perubahan iklim telah memberi dampak jelas pada ketersediaan pakan hijauan sapi. Dimusim kemarau saat ini peternak kesulitan mendapat pakan segar, sehingga terpaksa memberi pakan seadannya dengan rumput kering. Padahal asupan protein sangat diperlukan untuk mempersiapkan indukan sapi agar menghasilkan sel telur sehat. Dokter Trilas menjelaskan, secara kasat mata sapi memang tampak sehat, cukup gemuk dan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Namun, bermasalah dalam melepaskan sel telur/ ovulasi.

“Peternak sebaiknya memberi pakan bergizi pada sapi. Asupan protein yang kurang mengakibatkan tertundanya dikeluarkan sel telur (delayed ovulasi). Saat sel telur keluar, spermanya sudah keburu mati”. Terangnya pada petugas dan peternak Grogol.

Baca juga: FIKKIA x PDHI Jatim IV Adakan Seminar dan Workshop Inseminasi Buatan

Kondisi sapi yang kurang gizi juga berdampak pada imunitas. Sapi lebih rentan terserang penyakit, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk proses penyembuhan terutama bagian reproduksi.

Dokter Trilas menyarankan, agar peternak dapat meningkatkan asupan protein pakan sapinya. Penambahan silase, komplit feed, pemberian probiotik, dan bahan tambahan pakan mineral dapat dicampurkan pada pakan sapi. Asupan protein tersebut diberikan sebelum dan sesudah dilakukan inseminasi buatan.

Perhatikan kesiapan calon induk sapi

Peternak sebaiknya juga tidak mudah tergiur dengan adanya varietas sapi baru yang sedang trend. Sebelum dilakukan IB, peternak harus melihat kesehatan dan kesiapan calon induk sapi. Dokter Trilas mencontohkan induk sapi yang dikawin suntik dengan varietas Belgian blue. Biasanya induk akan kesulitan melahirkan. Ukuran dan bobot anak sapi yang besar tidak sesuai dengan lebar panggul induk sapi. Alhasil akan menyebabkan distokia (kesulitan melahirkan), bahkan berakibat kematian induk dan pedetnya.

Pemeriksaan kesiapan reproduksi calon induk sapi. Sumber: Istimewa

Maksimalkan smartphone

Dokter Trilas menuturkan, konsultasi berkala dengan tenaga medis veteriner sering dilupakan peternak. Padahal, keberhasilan IB akan sempurna ketika melihat anak dan induk sapi lahir selamat. Konsultasi penting dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan pasca IB. Peternak dapat memanfaatkan gawainya untuk berkomunikasi langsung dengan petugas dan dokter hewan puskeswan. Mulai konsultasi kesehatan ternak, pengecekan berkala induk sapi, serta bagaimana komposisi pakan yang cocok untuk induk sapi yang bunting dan laktasi.

Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-15 Life on Land dan ke-17 Partnership for the Goals

Penulis: Avicena C. Nisa

Editor: Tasya Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *