KABAR FIKKIA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi. Semangat tersebut diwujudkan dua mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR), Syeh Muzani (KU 24) dan Putri Ajeng Aprisa Simorangkir (KH 23). Keduanya terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026. Keduanya menghadiri kelulusan bersama 150 GSA perwakilan provinsi Indonesia pada Jumat (21/08/2026) di Thamrine Nine Tower, Jakarta
GSA merupakan program resmi Google yang melibatkan mahasiswa sebagai duta teknologi di lingkungan kampus. Melalui program tersebut, mahasiswa berperan memperkenalkan dan mengedukasi civitas akademika mengenai pemanfaatan teknologi Google. Salah satu fokusnya ialah penggunaan kecerdasan buatan seperti Google Gemini.

Syeh menjelaskan bahwa GSA menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengenalkan teknologi secara lebih luas di lingkungan perguruan tinggi.
“Google Student Ambassador itu program resmi dari Google yang memilih mahasiswa untuk menjadi duta di kampus, memperkenalkan dan mengedukasi tentang pemanfaatan AI seperti Gemini dan produk Google lainnya,” jelas Syeh.
Lolos dari Puluhan Ribu Pendaftar
Syeh dan Ajeng mulai mengetahui program GSA pada Februari 2026. Pendaftaran berlangsung pada 23 Februari hingga 16 Maret 2026. Proses seleksi mencakup administrasi, pengisian data diri dan pengalaman, serta pembuatan video wawancara mandiri.
Video tersebut dibuat tanpa proses penyuntingan dan diunggah melalui media sosial. Setelah melewati rangkaian seleksi, keduanya berhasil terpilih bersama sekitar 2.000 mahasiswa dari sekitar 81.000 pendaftar. Pengumuman peserta terpilih dilakukan pada 1 April 2026.
Bagi Ajeng, ketertarikannya mengikuti program tersebut muncul dari perkembangan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Ia menilai mahasiswa perlu memahami teknologi secara kritis agar dapat menggunakannya secara produktif.
“Mahasiswa tidak hanya perlu menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus memahami bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan secara bijak dan produktif,” ujar Ajeng.
Edukasi AI di Lingkungan Kampus
Setelah terpilih, Syeh dan Ajeng menjalankan berbagai kegiatan edukasi di lingkungan kampus. Syeh aktif membuat konten mingguan mengenai AI dan menyelenggarakan enam workshop pemanfaatan Google Gemini. Rangkaian workshop tersebut telah melibatkan lebih dari 100 peserta. Materi yang diberikan diarahkan untuk membantu mahasiswa memahami pemanfaatan teknologi AI dalam aktivitas akademik maupun kebutuhan produktif lainnya. Pendekatan tersebut memungkinkan pemanfaatan teknologi disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa di bidang masing-masing.

Pelaksanaan program juga menghadirkan sejumlah tantangan. Keduanya harus membagi waktu antara kegiatan GSA dan perkuliahan. Mereka juga dituntut menemukan ide konten serta menyusun proposal kegiatan yang perlu mendapatkan persetujuan Google. Meski demikian, pengalaman tersebut memberikan manfaat bagi pengembangan kemampuan personal. Keduanya memperoleh kesempatan meningkatkan kemampuan public speaking, mengelola kegiatan, serta membangun jejaring dengan mahasiswa dari berbagai daerah.
Ke depan, Syeh dan Ajeng berharap pengalaman sebagai GSA dapat terus memberikan manfaat bagi mahasiswa FIKKIA UNAIR. Syeh ingin terus berbagi wawasan mengenai pemanfaatan AI dan produk Google.
“Saya berharap tetap bisa memberikan insight tentang pemanfaatan AI dan produk Google,” kata Syeh.
Ajeng juga berharap pengalaman tersebut dapat membuka ruang belajar dan kolaborasi baru.
“Saya ingin perjalanan ini membuka lebih banyak kesempatan belajar dan memberikan manfaat bagi mahasiswa lainnya,” pungkas Ajeng.
Penulis: Muhammad Hisyam
Editor: Avicena C. Nisa