KABAR FIKKIA – Program studi Kedokteran, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi menyelenggarakan Studium Generale bertopik Entrepreneurship Mindset: Berkolaborasi dalam Membangun dan Mempertahankan Tim Klinis yang Efektif. Kegiatan yang dinarasumberi oleh Prof. Dr. Budi Santoso dr., Sp.OG., Subsp.F.E.R. tersebut diselenggarakan pada Kamis (12/02/2026) yang bertempat di Aula Mojo FIKKIA. Mahasiswa mendapatkan wawasan mengenai pentingnya pola pikir kewirausahaan dalam pengelolaan layanan kesehatan.
Dokter yang akrab disapa Prof Bus itu menekankan bahwa dunia medis tidak hanya membutuhkan kompetensi klinis, tetapi juga kecakapan dalam melihat peluang dan berinovasi. Menurutnya, klinisi masa kini harus siap menghadapi perubahan sistem layanan kesehatan, perkembangan teknologi, serta tantangan manajerial di fasilitas kesehatan.
Jiwa Wirausaha bagi Tenaga Medis
Dalam pemaparannya, Prof. Bus menjelaskan bahwa kemajuan ekonomi suatu negara sering kali ditopang oleh kuatnya semangat wirausaha masyarakat. Tiongkok contohnya, negara yang berkembang pesat karena dukungan kebijakan pemerintah yang mendorong masyarakatnya untuk berwirausaha. Semangat serupa dinilai relevan diterapkan pada bidang kesehatan.
Maka dari itu menurut Prof. Bus, adanya pola pikir entrepreneurship dapat menjadi bekal untuk membangun usaha di bidang kesehatan, seperti klinik atau layanan kesehatan mandiri, yang tetap bisa memberi dampak meski sudah tidak aktif praktik.
“Entrepreneur mindset adalah cara pandang yang mendorong seseorang berani mengambil peluang, belajar dari risiko, serta terus berkembang,” jelasnya.
Membangun Tim Klinik yang Solid
Tak hanya membahas perihal kewirausahaan, Prof. Bus juga menyoroti pentingnya kolaborasi dalam tim klinik. Tim yang efektif membutuhkan pembagian tugas yang jelas, komunikasi terbuka, serta budaya kerja yang menjunjung integritas dan kejujuran. Pengelolaan sumber daya manusia di layanan kesehatan disebut sebagai tantangan tersendiri karena melibatkan banyak latar belakang dan karakter.
Memilih untuk membangun tim sendiri bukanlah keputusan sederhana. Keputusan yang diambil selalu menemukan rintangan yang kadang membuat gagal.
“Tapi janganlah kalian takut pada kegagalan. Banyak yang tidak bergerak dari tempat mereka berpijak karena takut akan gagal.” Ucapnya dengan semangat.
Mahasiswa juga diajak memahami tentang perbedaan antara pekerja konvensional dan entrepreneur. Jika pekerja konvensional berfokus mencari pekerjaan, entrepreneur cenderung menciptakan lapangan pekerjaan dan mengembangkan sistem. Sejalan dengan keberanian mengambil risiko saat mengambil suatu keputusan.
Leadership
Kepemimpinan menjadi poin penting dalam pembentukan tim klinik. Pemimpin yang baik mampu menjadi mentor, pemberi motivasi, sekaligus pencipta visi. Kepemimpinan bukan soal kekuasaan, melainkan kemampuan memberdayakan anggota tim demi tujuan bersama.
Menjadi pemimpin berarti mampu mengambil keputusan dengan bijak, konsisten antara ucapan dan perbuatan, memberi teladan melalui tindakan, serta hadir sebagai pengarah juga penengah yang menjaga kekompakan dan semangat tim dalam mencapai target pelayanan yang optimal.
“Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba. Karena dengan mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil,” tutupnya.
Penulis: Cantika Anggun
Editor: Avicena C. Nisa
