KABAR FIKKIA – Universitas Airlangga (UNAIR) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan menengah melalui peluncuran Program Beasiswa Guru UNAIR. Program ini ditujukan bagi guru jenjang SMP/MTS, SMA/MA, dan SMK sederajat di Jawa Timur yang lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru jenjang magister pada periode 14 Desember 2025 hingga 12 Januari 2026. Salah satu guru penerima beasiswa tersebut adalah Devia Rus Widiya, S.Pi. yang merupakan alumni angkatan 2019 dari Program Studi S1 Akuakultur Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) UNAIR Banyuwangi. Sekarang, Devia mengabdi sebagai Guru Agribisnis Perikanan Air Tawar di SMK Negeri Ihya Ulumuddin Singojuruh.
Peningkatan Kapasitas Guru
Salah satu Awardee Beasiswa Guru UNAIR, Devia Rus Widiya, S.Pi. mengatakan motivasi terbesarnya mengikuti beasiswa guru UNAIR adalah keyakinan ilmu harus memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. Dirinya merasa pengetahuan sebagai guru masih perlu terus dikembangkan sejalan dengan karir. Beasiswa itu menjadi kesempatan berharga untuk menimba ilmu demi anak bangsa
“Dengan adanya beasiswa guru ini, Saya sangat berterimakasih kepada Universitas Airlangga sudah memberikan kesempatan bagi seorang guru untuk terus menimba ilmu untuk anak bangsa,” katanya.
MBKM Antarkan Ketertarikan Biologi Perikanan
Devia melanjutkan studi magister di Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR dengan Program Studi Bioteknologi Perikanan dan Kelautan. Ketertarikannya pada bidang tersebut berawal dari pengalaman mengikuti program Kredensial Mikro Mahasiswa Indonesia (MBKM) empat tahun lalu. Keikutsertaan dalam program tersebut menumbuhkan minat mendalam terhadap bioteknologi perikanan.
“Pemikiran labil di masa itu ambil yang penting ada perikanannya, tiba tiba lolos di Bioteknologi Perikanan dan Kelautan. Dari situ saya mulai tertarik dengan jurusan ini lebih mendalam,” ungkapnya
Seleksi Beasiswa Cukup Menantang
Bagi Devia, proses seleksi beasiswa terasa menantang untuk memenuhi segala persyaratan administrasi yang dibutuhkan. Mulai dari biodata, motivation letter, CV, dan paling menantang berupa proposal tesis dari Bab 1 sampai 3. Rasanya seperti sudah siap seminar proposal. Meski ‘dar der dor’, Devia bersyukur karena topik penelitian masih beririsan dengan penelitian sebelumnya yang menurutnya lebih mudah dikembangkan.
“Tantangan terbesar justru terletak pada pencarian jurnal, mengingat komoditas yang diteliti masih jarang dikaji,” tuturnya.
Persiapan terbilang lumayan singkat yang hanya kurang dari 1 bulan. Posisi Devia juga bekerja sehingga membuatnya harus disiplin dan konsisten. Prosesnya dimulai dengan mencari tahu tentang jurusan, jangan pernah malu bertanya di banyak pihak, meminta saran dan pendapat dari dosen pembimbing semasa kuliah dan melek informasi digital.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Avicena C. Nisa
