FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Identifikasi Parasit Satwa Liar di Taman Nasional Baluran, Program On Job Training CMU x KH FIKKIA

KABAR FIKKIA – Aktivitas On the Job Training (OJT) pada Kamis (09/ 05/2024) di Taman Nasional Baluran sukses memberikan pengalaman tak terlupakan dalam bidang medic konservasi satwa liar. Mahasiswa kedokteran hewan dari Central Mindanao University (CMU) Filipina diajak menjelajah dan mengidentifikasi potensi paparan parasit yang menjangkit satwa.

Kegiatan ini melibatkan panitia dari mahasiswa dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) semester 2, 4 dan 6. Bersama dengan dosen pendamping, Aditya Yudhana, drh., M.Si. dan April Hari Wardhana SKH., MSc., PhD yang merupakan dosen tamu dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga ahli parasitologis dan tentunya mahasiswa CMU tingkat akhir.

Baca juga: Mahasiswa CMU x Tim Parasitina Kedokteran Hewan FIKKIA Lakukan Pemeriksaan Endoparasit Pada Ular Tampar

Pada hari kegiatan, mahasiswa CMU dibimbing sekaligus diberi materi terkait parasitologi saat melakukan tracking dan pengamatan langsung satwa liar di habitat alaminya di Baluran. Selama di hutan, semua kegiatan diawasi dan didampingi jagawana berpengalaman untuk menjamin keselamatan dan keamanan.

Pengamatan banteng dan rusa dari jarak aman. Sumber: panitia

Mereka melakukan pengamatan terhadap jejak, sisa bangkai, sisa tulang, dan feses yang ditemui di sepanjang jalur jelajah. Salah satu aspek penting dari kegiatan ini adalah pengumpulan sampel feses dari satwa disana, seperti rusa timor (Rusa timorensis) , Banteng Jawa (Bos javanicus), dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) untuk tujuan identifikasi parasit.

Sampel feses yang berhasil dikoleksi langsung ditempatkan dalam pot sample dan kemudian dibawa ke laboratorium untuk dilakukan analisa lebih lanjut. Proses identifikasi bertujuan untuk mengetahui adanya infeksi parasit alami yang terjadi pada satwa liar di Baluran. Contohnya, melalui analisis sampel feses dari monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), diharapkan dapat diidentifikasi jenis-jenis helminth (cacing) yang mungkin menginfeksi satwa tersebut.

Monyet ekor panjang (kiri) dan kawanan rusa (kanan) mudah ditemui di TN Baluran.
Sumber: USI FIKKIA

FIKKIA berupaya memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa dalam bidang ini. Melalui kerjasama dengan mahasiswa dari Central Mindanao University (CMU) Filipina, mereka berharap dapat mentransfer pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki ke pihak luar.

Drh. Adit berharap agar mahasiswa CMU memperoleh pengetahuan baru dan meningkatkan kompetensinya, sehingga saat berkarir sebagai dokter hewan di negara asal mereka, mereka dapat menerapkan keahlian spesifik dalam medic konservasi satwa liar.

Masih sedikitnya jumlah dokter hewan, terutama fresh graduate, yang mengambil spesialisasi dalam medic konservasi satwa liar menjadi perhatian utama dalam langkah ini. Meskipun potensi alam yang melimpah di Indonesia, khususnya di Banyuwangi, menawarkan berbagai peluang dalam pengembangan bidang ini. Melalui On Job Training Program ini, diharapkan dapat menjadi pionir dalam memperluas cakupan bidang kedokteran hewan dan memberikan kontribusi positif bagi pelestarian satwa liar terkhususnya di Indonesia maupun Filipina.

Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-15 Life on Land

Penulis: Putri Erlina

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *