BERITA SIKIA – Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Universitas Airlangga melalui Program Studi Kedokteran Hewan terus meningkatkan program konservasi hewan liar terancam punah di kawasan Banyuwangi. Langkah tersebut telah terimplementasi secara konsisten dan berkala dalam membangun ekosistem konservasi penyu yang berkelanjutan. Bentang alam pesisir yang panjang menjadi salah satu alasan utama arah pengembangan konservasi satwa laut yang sering bertelur di pesisir banyuwangi itu. Jalan panjang berlalu mendorong upaya konservasi semakin masif menjangkau hulu ke hilir.
Prodi Kedokteran Hewan SIKIA, menjadi inisiator pembentukan komunitas antara akademisi, kelompok masyarakat, dan lembaga konservasi. Gerakan konservasi penyu sejalan dengan SDGs bidang lingkungan yang tertuang di poin 11 Sustainable Cities and Communities; poin 13 Climate Action; 14 Life Below Water; dan poin 15 Life on Land.
Tahun 2021
Ditengah pandemi Covid-19 yang masih bergejolak, Program Studi Kedokteran Hewan SIKIA yang baru bertransformasi telah melakukan riset dan pengembangan pembuatan INTAN BOX lewat kerja sama dengan Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF). Alat tersebut merupakan inkubator buatan menggunakan teknolog isistem otomatis untuk menetaskan telur penyu tanpa media pasir. Selain itu, alat tersebut telah berhasil mengontrol jenis kelamin tukik dari telur yang menetas lewat pengaturan suhu pada saat proses inkubasi. Ini merupakan langkah awal terbentuknya SDGs poin 11 Sustainable Cities and Communities
Dalam ekosistem, Kedokteran Hewan SIKIA juga melakukan perawatan dan pengembalian fungsi pesisir pantai dengan penanaman tanaman pandan laut. Komponen biotik tersebut memegang peranan penting sebagai dominasi vegetasi tempat penyu bertelur. Pandan laut beerfungsi sebagai tempat menyimpan sekaligus memberi perlindungan bagi telur penyu dari predator alaminya. Penanaman kembali pandan laut sekaligus mencegah terjadinya abrasi kawasan pesisir akibat perubahan iklim. Langkah tersebut terjejak dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat Optimalisasi Program Konservasi Ekosistem Laut Melalui Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Desa Karangrejo, Banyuwangi.
Pengabdian masyarakat melibatkan peran aktif banyak pihak dalam mewujudkan SDGs poin 13 Climate Action; 14 Life Below Water; dan poin 15 Life on Land.
Tahun 2022
Semangat konservasi harus ditularkan oleh civitas akademika kepada masyarakat sebagai garda terdepan yang dekat dengan kehidupan laut. Oleh karena itu pada tahun 2022, Program Studi Kedokteran Hewan SIKIA melakukan pemberdayaan masyarakat lewat Pengabdian Masyarakat bertema Optimalisasi Konservasi Penyu dan Vegetasi Pantai Melalui Pemberdayaan Kelompok Sadar Wisata Pulau Santen, Kelurahan Karangrejo, Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur.

Tak hanya itu, SIKIA UNAIR juga secara rutin dan berkala melakukan pelepasliaran tukik hasil tetasan INTAN BOX di sejumlah pesisir Banyuwangi. Hal tersebut merupakan wujud komitmen Kedokteran Hewan SIKIA dalam meningkatkan populasi penyu di lautan yang jumlahnya terus susut ditelan waktu.
Tahun 2023
Langkah keberlanjutan pemberdayaan di tahun sebelumnya terus dilakukan oleh Kedokteran Hewan SIKIA. Di tahun ini dengan berkolaborasi bersama Program Studi Kesehatan Masyarakat menginisiasi pembentukan Wisata Edukasi dan Konservasi Penyu Sebagai Upaya Pemberdayaan Kelompok Masyarakat di Pantai Pulau Santen, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Hal tersebut untuk mewujudkan masyarakat yang siap menjadi kader konservasi sebagai garda terdepan pesisir. Mereka siap menjaga kawasan yang menjadi tempat penyu bertelur.

Disisi lingkungan, penumpukan sampah pesisir menjadi suatu keprihatinan tersendiri. Kondisi tersebut menyebabkan ketidaknyamanan dan mengganggu alur peneluran penyu. Maka langkah sinergis diwujudkan dengan mengajak kader masyarakat sekitar Pulau Santen untuk mengolah sampah menjadi ecobrick. Langkah lanjutan dengan pendampingan dan berbagai program masih akan terus dilakukan.
Penulis: Putri Laura Faradina
Editor: Avicena C. Nisa
