Sebagai negara kepulauan sekaligus habitat penyu berkembang biak dan bertelur, menjadikan Indonesia memiliki keanekaragaman jenis penyu. Mengutip dari laman kkp.go.id Indonesia memiliki 6 dari 7 spesies penyu yang ada di dunia. Hal ini karena laut Indonesia menjadi rute migrasi Penyu Laut di persimpangan Samudera Pasifik dan Hindia.
Keenam spesies penyu tersebut antara lain: 1). Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), 2). Penyu Hijau (Chelonia mydas), 3). Penyu Belimbing (Dermochelis coriaceae), 4). Penyu Pipih (Natator depressus), 5). Penyu Tempayan (Caretta caretta), dan 6). Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate). Semua jenis penyu laut di Indonesia masuk dalam kategori hewan dilindungi. Artinya, usaha dan inovasi untuk melestarikan keberadaan penyu juga semakin digalakkan.
Pengembangan alat terapi YOSI BOX membawa kabar gembira bagi penggiat pelestarian alam, terutama di dunia konservasi penyu. YOSI BOX membantu pemulihan tukik penyu yang memiliki yolk atau kuning telur yang masuk sempurna ke karapas. Penyerapan yolk yang awalnya memakan waktu 3-4 hari dengan metode konvensional, sekarang membutuhkan 8 jam saja dengan bantuan YOSI BOX.
Temuan ini menjadi solusi terhadap resiko kematian tukik sesaat setelah menetas. Mengingat diawal kehidupan bayi penyu di lingkungan terestrial, rentan menjadi mangsa predator alaminya seperti kucing, anjing, ular, dan hewan pemangsa lainnya. Bayi penyu juga rentan terhadap perubahan lingkungan, infeksi bakteri, dan campur tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.
Salah satu jenis penyu yang berhasil diteri menggunakan YOSI Box adalah jenis Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) yang ditemukan bertelur di perairan Selat Bali. Saat diwawancarai apakah YOSI BOX akan berhasil pada jenis penyu lainnya dokter Adit memaparkan bahwa secara hipotesis juga berhasil untuk jenis penyu lain. Namun kembali lagi harus tetap dilakukan penelitian lebih lanjut untuk data pastinya, mengingat ini adalah hasil yang pertama kali dan tingkat keberhasilannya menjanjikan.
Ditemui di Pantai Cemara Banyuwangi, Adit selaku dokter hewan sekaligus tim pengembang YOSI BOX memperlihatkan tukik-tukik yang sehat. Ciri-ciri tukik yang siap dilepas-liarkan ke laut antara lain bergerak aktif, responsive, dan pemeriksaan fisik secara umum tidak ada parameter abnormal. “Awalnya tukik yang baru menetas ini datang dengan kondisi lemas, Alhamdulillah setelah diterapi sudah terlihat aktif.” Jelasnya
Berita terkait : Mengatasi Yolk Tukik yang Belum Sempurna, YOSI BOX Solusinya
Kedepannya, Adit dan tim pengembang lain dari Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) akan terus memanfaatkan untuk penelitian dan menjadi rujukan oleh penggiat konservasi penyu. Melakukan publikasi agar masyarakat mengetahui bahwa tukik yang baru menetas dengan kondisi tidak sehat segera dilakukan terapi menggunakan YOSI BOX. Sehingga proses penyembuhan bisa segera tercapai dan tukik bisa dilepas-liarkan kembali ke habitat alaminya.
