KABAR FIKKIA – Komikat Kerohanian Islam (KKI) Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga kembali menggelar Kajian Bulanan Ikhwan dengan tema yang sangat relevan, “Toxic Masculinity vs Akhlak Rasulullah”. Acara berlangsung pada Sabtu (13/12/2025) di Ruang M-201 Kampus Mojo dengan menghadirkan Ustadz Ahmad Dibyan. Kajian ikhwan kali ini untuk membedah ulang definisi kejantanan di era modern melalui kacamata Sirah Nabawiyah.
Dalam pemaparannya, Ustadz Ahmad Dibyan menyoroti fenomena toxic masculinity. Dimana laki-laki sering dianggap bersikap agresif, anti-kritik, dan menyembunyikan emosi. Ia menegaskan bahwa Islam menawarkan keseimbangan karakter.
“Rasulullah adalah panglima perang yang paling gagah berani di medan jihad, namun beliau adalah sosok yang paling lembut di rumah. Maskulinitas dalam Islam adalah keberanian yang berpadu dengan adab, bukan dominasi yang menindas,” tegas Ustadz Dibyan.
Diskusi semakin hidup saat sesi tanya jawab. Ibnu, (KH 23), mengajukan dua pertanyaan mendalam. Pertama, Ibnu menyoroti dilema pergaulan di mana menolak candaan kasar di tongkrongan sering dicap lemah.
Menanggapi hal itu, Ustadz Ahmad Dibyan menekankan konsep ‘Izzah (harga diri).
“Tolak ukur kekuatan laki-laki dalam Islam bukanlah siapa yang paling keras lisannya, melainkan yang paling kuat menahan hawa nafsunya. Jadilah trendsetter kebaikan. Jika lingkungan itu terlalu toxic, tinggalkan dengan cara ma’ruf. Mempertahankan akhlak adalah keberanian sejati,” jawabnya.
Tak berhenti di situ, Ibnu melanjutkan dengan pertanyaan kedua terkait validitas bila bermimpi bertemu Nabi.
“Membahas keseharian Rasulullah membuat kita semua rindu. Saya ingin bertanya terkait validitas bila bermimpi bertemu Nabi. Apa indikator utama bahwa sosok dalam mimpi itu benar Rasulullah? Mengingat ada hadist setan tidak bisa menyerupai beliau, namun kita belum pernah melihat wajah asli Nabi,” lanjut Ibnu.

Ustadz Dibyan menjelaskan bahwa meski setan tidak dapat meniru wujud asli Nabi (HR. Bukhari dan Muslim), verifikasi visual tetap diperlukan karena setan bisa datang mengaku sebagai Nabi dengan wujud berbeda.
“Tolak ukur validitasnya adalah kesesuaian fisik sosok dalam mimpi dengan ciri-ciri fisik (Shama’il) Rasulullah, serta mimpi tersebut tidak mengajak pada keburukan,” jelasnya.
Beliau merinci ciri fisik tersebut: berpostur sedang, berkulit putih kemerah-merahan, wajah bersinar layaknya bulan purnama, dan rambut bergelombang menyentuh daun telinga.
“Jika ciri fisiknya bertentangan, maka itu tipu daya setan. Penting bagi kita mempelajari kitab Syama’il Muhammadiyah,” tambahnya.
Secara keseluruhan, kegiatan ini menjadi oase di tengah tantangan pergaulan modern. Kajian ini menyimpulkan bahwa menjadi laki-laki sejati adalah tentang penguasaan diri dan keluhuran budi. Diharapkan, agenda kerohanian seperti ini menjadi kultur berkelanjutan di FIKKIA dengan tema-tema aktual yang menyentuh realitas mahasiswa.
Melalui sinergi intelektualitas dan spiritualitas ini, besar harapan agar mahasiswa FIKKIA tidak hanya lulus sebagai profesional yang unggul di bidang kesehatan dan alam, tetapi juga matang secara emosional. Dengan bekal ‘izzah, mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang memutus mata rantai perilaku toksik di masyarakat.
Penulis: Ibnu Sadidan Fil Iman
Editor: Avicena C. Nisa
