FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kasus PMK Marak Kembali, Apa Dampak bagi Perekonomian Kita?

Banyaknya temuan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) akhir-akhir ini menimbulkan keresahan tersendiri dikalangan peternak. Dilansir dari berbagai sumber, bahwa kasus PMK di sejumlah daerah di Jawa Timur menunjukkan peningkatan kasus setiap harinya. Tidak hanya itu, pemerintah dianggap kecolongan mengidentifikasi dan mengantisipasi penyebaran virus PMK. Mengingat bahwa sebenarnya Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) pernah menyatakan Indonesia telah bebas PMK sejak 1990. Sebagai respon tingginya kasus PMK, pemerintah melalui dinas peternakan melakukan pemeriksaan dan vaksinasi untuk memastikan pencegahan penyebaran penyakit yang sering menyerang hewan berkuku tersebut.

Lalu, mengapa PMK menjadi kejadian penting yang harus segera ditangani?

Ditemui saat menjadi narasumber di acara Podcast SIKIA Unair, Ratih Novita Praja, drh., M.Si. bersama Prima Ayu Wibawati, drh., M.Si yang juga pengajar Program Studi Kedokteran Hewan, memaparkan Penyakit mulut dan kuku (PMK) merupakan penyakit menyerang hewan-hewan ternak yang memiliki kaki berkuku belah seperti kambing, kerbau, sapi, babi, kuda, atau hewan liar seperti gajah dan rusa. Ratih yang menggeluti bidang mikrobiologi veteriner menambahkan penyakit Mulut dan Kuku (PMK) disebabkan oleh virus dalam klasifikasi family Picornaviridae dari genus Apthovirus.

Ratih menjelaskan bahwa PMK merupakan penyakit dengan tingkat kematian (mortalitas) rendah antara 1-15 %, tertinggi pada anak sapi. Sedangkan tingkat kesakitan (morbiditas) tergolong tinggi dengan penularan yang cepat.

Ciri-ciri hewan yang terinfeksi virus setelah masa inkubasi yaitu timbul gejala fisik munculnya gelembung air menyerupai cacar yang melepuh pada bagian gusi, bibir, mukosa lidah dan pipi, dan terjadi pada teracak kaki yang meyebabkan hewan mengalami demam 41o C, hilang nafsu makan, hewan tidak bisa berdiri, dan sebagian menyebabkan lepuhan pada puting.

Gejala klinis lain yaitu hilangnya nafsu makan yang mengakibatkan berkurangnya berat daging. Peternak tentu akan mengalami kerugian karena bobot hewan mengalami kemerosotan dibandingkan dengan berat hewan normal.

Oleh karena itu Prima yang sedang berkonsentrasi di bidang kesehatan masyarakat veteriner menjelaskan bahwa PMK tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan ternak saja. Dampak ekonomi akan lebih terasa bagi pengusaha peternakan, baik yang memanfaatkan daging, susu, kulit, ataupun produk hewan lainnya.

Berita Terkait : Mengulas Fakta Penyakit Mulut dan Kuku, Peternak Tidak Perlu Panik

“Produksi daging jelas berkurang, berat badan hewan menurun karena tidak nafsu makan. Harga jual ternak yang terinfeksi PMK juga ikut rendah . Terlebih lagi sektor usaha pemerahan susu, volume air susu yang dihasilkan berkurang karena puting susu terinfeksi, hewan akan kesakitan dan stress.” ujar Prima disesi wawancara.

Bila hal tersebut dibiarkan, secara otomatis mengakibatkan berkurangnya stok daging sapi sehat dipasaran. Sesuai hukum pemasaran kenaikan harga terjadi apabila permintaan konsumsi tinggi tapi ketersediaan terbatas, sehingga daya beli masyarakat jadi menurun. Inilah yang dihawatirkan mengapa PMK harus segera teratasi.

Dampak ekonomi tidak hanya dirasakan masyarakat kelompok produsen (peternak) namun berlanjut ke ranah distribusi hingga konsumsi. Mengapa demikian, Ratih menjelaskan apabila suatu Negara telah ditetapkan sebagai Negara darurat PMK oleh Organisasi Kesehatan Dunia, maka semua produk hewan ternak yang dihasilkan oleh Negara tersebut akan diblokir .

“Semua produk peternakan baik dalam bentuk mentah maupun olahan akan distop kegiatan ekspornya. Kita tahu produk peternakan seperti daging segar maupun frozen sangat banyak olahannya. Bisa jadi sosis, bakso, kornet, dll. Produk susu yang biasanya diolah menjadi susu kemasan, keju, yoghurt. Kita tidak bisa lagi menjual produk tersebut ke luar negeri.” Jelas Ratih

Mendengar penjelasan tersebut, maka merebaknya PMK bisa menyebabkan kerugian bagi perekonomian Negara secara keseluruhan. Kegiatan ekspor menjadi terhambat, dan otomatis akan mengurangi penerimaan devisa Negara.

Diakhir wawancara, kedua dosen Kedokteran Hewan SIKIA Unair tersebut membagikan tips agar hewan ternak terhindar dari PMK.

  1. Menjaga kebersihan diri, hewan ternak, dan kandang
  2. Melakukan isolasi hewan dan isolasi kandang apabila ditemukan kasus PMK
  3. Melapor pada kelompok ternak jika ada hewan yang terindikasi PMK
  4. Tidak terburu-buru menyembelih hewan yang terinfeksi, untuk mencegah penyebaran virus
  5. Vaksinasi hewan ternak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *