FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kedokteran Hewan FIKKIA Latih Manajemen Kambing Perah Pada Peternak

KABAR FIKKIA – Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi terus memberikan dampak positif bagi masyarakat. Diantaranya melalui Program Pengabdian Masyarakat “Inovasi Microchip Sebagai Sarana Optimalisasi Pabrik Cempe dengan Data Recording pada Peternakan Kambing Perah Di Banyuwangi Berbasis Aplikasi.” Kegiatan tersebut hasil kolaborasi antara Perkumpulan Peternak Kambing Domba Nasional (PPKDN) – Sanggar Etawa Farm Community bersama Program Studi Kedokteran Hewan FIKKIA. Acara terselenggara secara hybrid di Silirbaru, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Ada 40 peternak Sanggar Etawa Farm Community yang hadir mengikuti diskusi pada Jumat (6/9/2024) malam.

Persiapkan microchip untuk catat genetik

Koordinator Program Studi S1 Kedokteran Hewan FIKKIA, Bodhi Agustono, drh., M.Si menyebut Banyuwangi menjadi salah satu sentra pengembangan kambing. Baik itu berupa kambing perah hingga kambing kontes. Salah satu masalah yang menjadi perhatian bagi kelompok ternak adalah pencarian genetik unggul. Oleh karena itu, kedokteran hewan FIKKIA menginisiasi sistem pencatatan digital pada masa mendatang. Sebelum itu, peternak wajib terlebih dahulu memahami manajemen kambing dalam proses budidaya. Sehingga peternak memiliki kambing yang berkualitas unggul. 

Tanya jawab salah satu peternak kepada narasumber di ruang zoom. Narasumber: Penulis

Ketua Pelaksana Pengabdian Masyarakat, Amung Logam Saputro, drh., M.Si menuturkan penerapan microchip akan mendukung proses digitalisasi pencatatan ternak yang terpusat. Catatan genetik akan lebih transparan agar peternak tak lagi risau atas indukan kambing terdahulu. Microchip akan ditanam dalam tubuh kambing pada bagian telinga atau leher. Sejatinya inovasi tersebut telah diterapkan pada anjing. Namun, melihat potensi genetik kambing di Banyuwangi yang terus berkembang sudah saatnya untuk melakukan penerapan yang sama dengan tujuan pemantauan kesehatan secara tuntas.

Manajemen kesehatan kambing perah

Pengabdian Masyarakat tersebut juga menghadirkan Farm Manager Bhumi Naraya Farm Yogyakarta yaitu Drh. Nur Adianto, M. Sc. Praktisi kambing perah itu hadir secara daring melalui zoom meeting. Selaras dengan yang telah KPS S1 Kedokteran Hewan FIKKIA katakan, pemahaman peternak dalam manajemen kambing perah merupakan cikal bakal produksi yang maksimal. Dari peningkatan produktivitas tersebut, peternak dapat mengetahui batas kemampuan dan kualitas kambing. Termasuk perawatan kambing perah harus memiliki ketercukupan nutrisi. Peternak harus memberikan formulasi pakan yang tepat untuk menghindari masa kering produksi berkepanjangan.

Tak hanya memberikan formulasi pakan, lulusan magister dari Universitas Gadjah Mada itu berbagi informasi terkait tantangan penjualan susu kambingnya. Bagi Adianto inovasi peternak merupakan penyelamat untuk dapat menyerap produksi secara berkelanjutan. Seperti pembuatan produk susu bubuk untuk meningkatkan masa simpan hingga sabun kecantikan. Beliau juga mendorong peternak untuk melakukan produksi yang stabil dan berkelanjutan. Hal tersebut untuk menghindari konsumen berpaling kepada peternak lain yang menghasilkan susu lebih stabil.

Untuk menjamin semua hal tersebut dapat tercapai, peternak perlu memperhatikan sistem manajemen kambing perah berupa recording data. Pembuatan data tersebut mutlak harus dilakukan.Peran penting pencatatan data juga sangat strategis untuk melakukan pelacakan genetik dan kesehatan. Kedepan, terdapat tahapan sosialisasi penggunaan microchip bagi peternak pada program pengabdian masyarakat itu.

Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-15 Life on Land dan ke-11 Partnership for the Goals.

Penulis: Azhar Burhanuddin

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *