Indonesia seperti berada di panggung bencana besar ketika alam seakan melepaskan seluruh amukannya di penghujung tahun 2025. Dari lereng Gunung Semeru yang memuntahkan awan panas hingga banjir dahsyat dari dampak Siklon Tropis Senyar di berbagai wilayah utara Pulau Sumatera. Dalam waktu hampir bersamaan itu gelombang bencana merenggut nyawa, menghancurkan rumah, memutus infrastruktur, dan menyapu ribuan hewan ternak maupun satwa liar yang menjadi bagian penting dari ekosistem hidup manusia. Di tengah fokus utama pada penyelamatan manusia, tragedi yang menimpa hewan seringkali luput dari sorotan publik. Hewan baik ternak maupun satwa liar memiliki keterkaitan erat dengan keberlanjutan ekonomi, ketahanan pangan, kesejahteraan sosial, serta keseimbangan ekologi. Bencana yang menghancurkan populasi hewan bukan hanya menciptakan kerugian sekarang, tetapi juga meninggalkan luka jangka panjang bagi kehidupan masyarakat.
Di Lumajang, tercatat 4 sapi dan 168 domba mati tersapu awan panas Gunung Semeru sejauh 13 Km yang erupsi pada Rabu (19/11/2025). Di Pulau Sumatera, Banjir besar berdampak pada 591 ekor sapi, 32 ekor kerbau, 187 ekor kambing, 4420 ekor unggas. Dari populasi tersebut terdapat kematian 159 ekor sapi dan 2150 ekor mati. Belum termasuk yang hilang maupun sakit. Jumlah tersebut dari Kota Solok, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Solok, Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Agam, Kota Padang Panjang dan Kota Pariaman. Bergerak ke utara, seekor Gajah Sumatera ditemukan mati terbawa banjir dengan terhimpit kayu di Pidie Jaya, Aceh. Jadi pukulan bagi dunia konservasi satwa liar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo yang sedang mendapatkan atensi nasional akibat alih fungsi lahan. Kehilangan satu individu gajah bukan sekadar penurunan jumlah populasi, tetapi juga kehilangan potensi reproduksi dan pemimpin kelompok yang penting bagi struktur sosial mereka.
Rescue dan Keselamatan Satwa
Bisa dibilang upaya penyelamatan hewan pasca kebencanaan di Indonesia mengalami tren positif untuk mengurangi kerugian lebih tinggi. Dalam banjir besar akibat Siklon Tropis Senyar, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumatera Barat mendapatkan 5.631 paket obat-obatan dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian RI sebagai respons cepat terhadap ribuan ternak yang terjebak, terluka, atau mengalami gangguan kesehatan akibat banjir dan longsor. Bantuan tersebut berisi vitamin, antibiotik, antiseptik, obat cacing, hingga pakan tambahan untuk membantu memulihkan kondisi ternak yang selamat. Obat-obatan ini didistribusikan ke berbagai kabupaten yang paling terdampak untuk mencegah lonjakan penyakit pasca bencana yang sering muncul ketika kandang terkontaminasi lumpur dan air banjir. Selain bantuan medis, tim lapangan maupun masyarakat sebagai pemilik ternak juga melakukan evakuasi hewan dari kandang yang terendam dengan menyiapkan kandang darurat di area yang lebih tinggi.

Sumber: Gunung Semeru Meletus, 138 Kambing & 23 Sapi Mati – Espos.id
Kejadian erupsi gunung menggugah akademisi untuk terjun langsung ke masyarakat. Di erupsi Gunung Merapi tahun 2010, proses evakuasi berjalan dengan mengandalkan mahasiswa pecinta alam. Terus bertambahnya tahun membuat evaluasi kebencaan dari perguruan tinggi semakin matang. Erupsi Gunung Semeru November 2025 mendorong Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya memiliki Animal Disaster Unit dengan mandat khusus dalam menangani situasi kebencanaan yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan hewan. Semua langkah ini memperlihatkan penyelamatan satwa di tengah bencana menghindarkan ternak dari kematian, menyelamatkan ekonomi peternak, dan tetap memastikan standar kesejahteraan minimum meskipun dalam kondisi darurat.
Kegagalan Mitigasi
Indonesia yang berada dalam kawasan ring of fire dan wilayah tropis dengan luasan lautan yang luas memiliki potensi intensitas bencana tertinggi di dunia. Baik bencana hidrometeorologi, geologi, ekstra terestrial, maupun akibat aktivitas manusia. Mitigasi menjadi sebuah kebutuhan mendesak untuk melindungi kehidupan manusia, hewan ternak, maupun satwa liar. Di Indonesia telah memiliki beberapa lembaga yang khusus seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) maupun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang memantau potensi kebencanaan geologi dan hidrometeorologi. Peringatan dini dari lembaga tersebut seharusnya menjadi kewaspadaan bagi pemerintah maupun masyarakat pada kawasan rawan bencana.

Keapatisan dari pemerintah untuk melakukan penanggulangan bencana kini menjadi sebuah pertanyaan pelik yang menunjukkan kinerja buruk dalam mengurangi dampak bencana. Perlu ada upaya mitigasi mulai dari pemahaman bahwa hewan adalah bagian tidak terpisahkan dari ekosistem sosial dan ekonomi masyarakat. Ternak adalah sumber pangan, sumber pendapatan, bahkan tabungan hidup bagi jutaan peternak kecil. Sementara satwa liar adalah penanda kesehatan hutan dan sistem ekologis yang menjaga keseimbangan alam. Ketika bencana datang tanpa peringatan, hewan tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri sebaik manusia. Di sinilah pentingnya mitigasi.
Evaluasi Kedepan
Penyusunan protokol evakuasi hewan di Indonesia sangat penting untuk dibuat. Apriyani dkk., 2022 menjelaskan belum terdapat regulasi khusus di Indonesia dalam penyelamatan satwa saat bencana baik dalam sistem penanggulangan bencana nasional maupun pedoman internasiona. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia berlandaskan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Undang-undang ini mengatur bahwa proses penanggulangan bencana mencakup tiga tahap, yaitu pra-bencana, tanggap darurat, dan pascabencana, yang dilaksanakan oleh BNPB di tingkat nasional dan BPBD di tingkat daerah. Sehingga kewenangan BNPB, BPBD, maupun BKSDA dalam aspek ini masih abu-abu.
Mitigasi Risiko Bencana Kedaerahan
Langkah pertama dalam mitigasi adalah identifikasi dan pemetaan risiko. Setiap daerah harus mengetahui potensi ancaman yang bisa melanda wilayahnya—mulai dari letusan gunung api, banjir, longsor, gempa, hingga kebakaran hutan. Daerah yang berada pada zona merah ancaman erupsi misalnya, harus memiliki data jumlah hewan yang dipelihara masyarakat, posisi kandang, serta jalur evakuasi yang aman. Pemetaan ini penting karena proses evakuasi hewan tidak semudah mengevakuasi manusia. Sapi dan kerbau membutuhkan waktu lebih lama untuk bergerak, sedangkan unggas mudah panik dan berpotensi hilang bila tidak ditangani dengan benar. Selain pemetaan risiko, mitigasi juga mencakup analisis kapasitas daerah, termasuk kemampuan mengalokasikan personel, logistik, dan perlengkapan yang diperlukan untuk evakuasi.
Penyediaan Shelter Evakuasi
Mitigasi selanjutnya adalah penyediaan infrastruktur yang mendukung penyelamatan hewan. Banyak wilayah di Indonesia belum memiliki shelter atau tempat evakuasi sementara khusus untuk hewan, sehingga ketika bencana terjadi, ternak yang selamat terpaksa berkeliaran, kelaparan, atau terpapar risiko penyakit. Shelter hewan harus berada di lokasi aman, memiliki akses air bersih, ruang untuk pakan, dan area yang cukup bagi ternak besar maupun kecil. Selain itu, gudang logistik pakan, vitamin, antiseptik, dan obat-obatan harus ditempatkan di lokasi yang tidak terdampak bencana agar dapat digunakan segera saat kondisi darurat. Salah satu masalah terbesar pasca bencana adalah kelangkaan pakan karena sawah dan ladang hijauan rusak atau terendam. Tanpa ketersediaan pakan dan air, korban tidak hanya terjadi saat bencana, tetapi berlanjut pada hari-hari setelahnya.
Edukasi dan latihan kesiapsiagaan bagi peternak menjadi bagian penting dari mitigasi. Banyak peternak di desa yang belum paham cara mengevakuasi ternak secara cepat dan efektif. Padahal, keterlambatan beberapa menit saja bisa membuat sebagian besar ternak tidak terselamatkan. Pelatihan rutin bersama BPBD, Dinas Peternakan, dan kolaborasi Program Studi Kedokteran Hewan diperlukan untuk memastikan setiap peternak mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika sirine tanda bahaya dibunyikan. Simulasi evakuasi, teknik menenangkan hewan ketika panik, cara memindahkan ternak besar dalam jumlah banyak, hingga pelatihan identifikasi hewan dengan tag telinga atau microchip akan sangat bermanfaat dalam mengurangi jumlah hewan hilang atau tercecer. Edukasi juga menyasar penyakit pasca bencana yang berpotensi muncul akibat penurunan kualitas lingkungan, seperti leptospirosis pada kondisi banjir, gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik, hingga penyakit metabolik yang timbul karena stres.
Bagaimana dengan Satwa Liar?
Dalam ranah konservasi satwa liar, mitigasi melibatkan upaya yang lebih kompleks. Satwa liar tidak dapat diperintahkan untuk mengungsi. Oleh karena itu, sistem early warning berbasis pemantauan GPS collar pada gajah, harimau, atau satwa besar lainnya perlu dikembangkan. Kamera trap dapat mendeteksi perubahan pola jelajah satwa sebelum bencana, misalnya migrasi menuju area tertentu yang lebih aman. Kawasan konservasi dapat dilengkapi koridor evakuasi alami, yaitu jalur hijau yang menghubungkan habitat ke dataran tinggi atau area aman. Di beberapa negara, titik pengungsian satwa telah dibuat dengan menyediakan sumber air buatan dan vegetasi yang bertahan saat bencana. Konsep ini dapat diadaptasi untuk kawasan rawan banjir besar atau kebakaran hutan di Indonesia.
Mitigasi kebencanaan untuk hewan bukan hanya tentang menyelamatkan nyawa hewan itu sendiri sekaligus menjaga ketahanan pangan, menopang ekonomi masyarakat, dan mengurangi risiko zoonosis. Tanpa mitigasi yang kuat, setiap bencana akan terus mengulang luka yang sama. Dengan perencanaan matang, koordinasi lintas lembaga, serta kesadaran masyarakat, Indonesia dapat menjadi negara yang lebih tangguh dalam melindungi seluruh makhluk hidup ketika bencana kembali mengetuk sekaligus mengurangi dampak ekonomi peternak yang terjadi.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Avicena C. Nisa
