FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kualitas Air Kunci Kesuksesan Akuakultur

Budidaya perikanan atau sering disebut sebagai Aquaculture dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan protein global. Sektor akuakultur menyumbang 69,5% produksi ikan di Indonesia, lebih dari dua kali lipat produksi perikanan tangkap, dan produksi akuakultur tumbuh sebesar 11,47% per tahun dari tahun 2012 hingga 2017 (KKP, 2018). Besarnya potensi akuakultur di Indonesia, memacu pemerintah melalui KKP untuk meningkatkan produktivitas budidaya. Bertambahnya populasi penduduk suatu negara setiap tahunnya berbanding lurus dengan kebutuhan pangan. Bahan pangan berprotein tinggi menjadi tuntutan kebutuhan pokok yang harus terpenuhi. Ikan salah satu bahan pangan yang mengandung protein tinggi, sampai saat ini permintaannya semakin meningkat. Akan tetapi, tangkapan alam perikanan tidak bisa dijadikan acuan utama dalam memenuhi kebutuhan pangan. Di samping ketersediaan nya yang kurang menentu, daya dukung lingkungan juga menjadi hal yang harus diperhatikan. Akan tetapi, hingga saat ini masih banyak permasalahan dalam budidaya perikanan yang belum terselesaikan. Hal tersebut dapat menghambat operasional budidaya dan menurunkan trafik produktivitas akuakultur.

Kualitas air dan permasalahan didalamnya

Sumber permasalahan akuakultur terletak pada kualitas air yang digunakan sebagai media budidaya ikan. Kualitas air selama proses budidaya tentu saja tidak bisa dikatakan stabil, walaupun sebelumnya telah melalui perlakuan khusus. Faktanya bahwa ikan hanya mampu menyerap 20-30% nutrisi, sementara sisanya diekskresikan dalam bentuk amonia dan protein organik yang merupakan produk akhir metabolisme protein. Amonia di perairan terdapat dalam bentuk amonia (NH3) dan amonium (NH4+) yang disebut sebagai total amonia nitrogen (TAN). Senyawa toksik seperti amonia lebih mudah diserap oleh ikan dan lebih cepat masuk ke jaringan tubuh. Hal tersebut dapat mempengaruhi mekanisme metabolisme dan kinerja organ tubuh ikan. Apabila, jumlah amonia semakin tinggi dalam tambak dapat menyebabkan kematian udang atau ikan secara massal dan kerugian besar dapat terjadi pada petambak (Wahyuningsih dkk., 2020)

Parameter kualitas air

Keberhasilan manajemen kualitas air tidak dapat berdiri sendiri. Melalui parameter-parameter tertentu kualitas air dapat ditinjau lebih dalam. Walaupun terlihat sederhana, angka yang keluar dalam parameter tersebut telah memberikan informasi status kesehatan perairan budidaya. Parameter kualitas air, seperti suhu, kadar oksigen, kekeruhan, warna, pH, kesadahan, kandungan  karbon  dioksida,  amonia,  nitrit  dan  nitrat saling berkesinambungan. Apabila salah satu parameter diketahui memiliki nilai yang kurang optimal, maka dapat dipastikan nilai parameter lainnya juga kurang optimal. Parameter pembatas yang paling berpengaruh pada budidaya ikan yaitu DO (kadar oksigen). Nilai kadar oksigen yang rendah dapat meningkatkan suhu perairan. Apabila suhu pada kolam tinggi, nilai pH dapat menjadi rendah, sehingga suasana kolam menjadi asam. Pada kondisi tersebut patogen lebih mudah menyerang ikan, sehingga jika dibiarkan secara terus menerus dapat menyebabkan kematian masal pada ikan (Wulansari dan Razak., 2022)

Lingkungan perairan tambak adalah faktor penting bagi kelangsungan hidup komoditas yang dibudidayakan. Dikarenakan, air memiliki peran penting sebagai tempat ikan melakukan aktivitas kehidupan. Kondisi perairan dapat dikatakan buruk, apabila patogen dapat tumbuh dengan baik. Sebaliknya, kondisi perairan tambak dapat dikatakan baik apabila jumlah patogen terkendali. Penampakan air tidak dapat dijadikan tolak ukur untuk menilai kualitas air baik atau buruk. Air yang jernih bisa saja memiliki kemungkinan lebih didominasi oleh patogen. Melalui pemeriksaan kualitas air dapat diketahui profil baik tidaknya kualitas air. Menjaga kualitas air tetap optimal sangat penting untuk dilakukan, karena profil kualitas air dapat dijadikan acuan status kesehatan ikan. Pembudidaya dapat lebih waspada dan melakukan tindakan pencegahan wabah penyakit hanya dengan mengetahui profil kualitas air budidaya. Oleh sebab itu, manajemen kualitas air menjadi kunci keberhasilan dalam budidaya perikanan (Fauziah dkk., 2020).

Manajemen kualitas air tidak dapat dianggap sebelah mata. Dampak yang ditimbulkan akibat kurangnya kontrol kualitas air dapat menggagalkan satu siklus budidaya. Akumulasi bahan organik yang tinggi dalam perairan budidaya dapat mengaktifkan infeksi patogen dan meningkatkan zat toksik di perairan budidaya. Manajemen kualitas air dapat dilakukan mulai dari persiapan wadah budidaya. Sebelum memulai menebar ikan dalam kolam, pembudidaya dapat melakukan pengeringan, pengapuran, dan pemupukan pada kolam media tanah. Selain itu, air yang akan digunakan terlebih dahulu diberikan perlakuan khusus dalam bak tandon. Penerapan sistem filter fisika, kimia, dan biologi dalam sistem budidaya dapat mengendalikan kualitas air secara optimal. Kualitas air memegang peran penting dalam setiap sistem budidaya, karena dapat keberlangsungan hidup ikan bergantung pada ekosistem habitatnya (Wahyuningsih dkk., 2020)

Penulis: Diva Desmieta

Editor: Lukman D. F

 

Daftar Pustaka

https://kkp.go.id/

Fauzia, S. R., & Suseno, S. H. (2020). Resirkulasi Air untuk Optimalisasi Kualitas Air Budidaya Ikan Nila Nirwana (Oreochromis niloticus). Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat (PIM), 2(5), 887-892.

Nurlatifah, S., Darmayasa, I. B. G., Julyantoro, P. G. S., & Sudaryatma, P. E. (2022). Penghambatan Faktor Virulensi Vibrio parahaemolyticus Menggunakan Isolat Bakteri dari Saluran Pencernaan Ikan Kerapu. Acta Veterinaria Indonesiana, 10(3), 228-238.

Wahyuningsih, S., Gitarama, A. M., & Gitarama, A. M. (2020). Amonia pada sistem budidaya ikan. Jurnal Ilmiah Indonesia, 5(2), 112-125.

Wulansari, K., & Razak, A. (2022). Pengaruh suhu terhadap ikan lele sangkuriang dan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Konservasi Hayati, 18(1), 31-39.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *