FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kuatkan Literasi Kesehatan Digital, Mahasiswa UNAIR Targetkan Ibu PKK

KABAR FIKKIA – Meningkatnya peredaran hoaks kesehatan di media sosial menjadi perhatian penting dalam upaya peningkatan literasi digital masyarakat. Menanggapi hal tersebut, empat mahasiswa Prodi Kesehatan Masyarakat FIKKIA UNAIR menyelenggarakan workshop Digital Health Literacy bertajuk “Cerdas Menyaring Informasi Kesehatan di Internet” pada Minggu (11/05/2025). Bertempat di rumah Bu Anik Petrus, salah satu anggota PKK RT 04 RW 02, Kelurahan Giri, Banyuwangi.

Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 WIB dan diikuti oleh 20 ibu-ibu PKK yang antusias mengikuti rangkaian acara. Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta keterampilan ibu-ibu dalam memilah informasi kesehatan secara cerdas dan kritis di tengah maraknya hoaks di internet. Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat berbasis edukasi, selaras dengan visi kesehatan preventif dan promotif.

Workshop Literasi Digital di Kelurahan Giri. Sumber: Istimewa

“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Terima kasih kepada adik-adik UNAIR yang sudah hadir, mengedukasi, dan memberikan pelatihan kepada ibu-ibu PKK lingkungan ini. Semoga acara ini bisa membawa manfaat yang luas,” tutur Bu Nining selaku Ketua RT setempat saat menyampaikan sambutannya.

Melatih Kritis, Memilah, Memilih, dan Membagi Info Kesehatan

Bertindak sebagai pemateri workshop, empat mahasiswa yakni Annisa Dwi Cahyani, Satria Farrely Ardiansyah, Putri Aprilia Fatjrin, dan Naila Nurul Rahmah. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan ciri-ciri hoaks kesehatan, cara memverifikasi informasi melalui mesin pencari, serta perbandingan isi antara artikel di media sosial dengan sumber resmi seperti Kemenkes dan Alodokter. Peserta diajak langsung mempraktikkan pencarian dan analisis terhadap informasi mitos vs fakta menggunakan ponsel masing-masing. Para ibu membandingkan hasil pencarian dengan referensi terpercaya untuk membuktikan validitas suatu berita kesehatan.

Peserta aktif menjawab pertanyaan dan mengangkat tangan saat sesi diskusi. Sumber: Istimewa

Suasana semakin menarik ketika ibu-ibu diberi tantangan membuat video drama pendek dengan dialog alami menggunakan bahasa lokal. Alur cerita berisi pesan edukatif tentang cara membedakan informasi palsu dan fakta seputar kesehatan. Video yang dihasilkan mencerminkan pemahaman sekaligus kreativitas peserta dalam menyampaikan edukasi dengan gaya khas masyarakat lokal.

Menuju akhir kegiatan, diadakan sesi refleksi dan presentasi dari masing-masing kelompok. Para peserta menyampaikan kesan dan pesan selama pelatihan berlangsung, dan menyatakan siap menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari serta menyebarkannya kepada warga lain di lingkungan sekitar.

Pertemuan ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun budaya literasi digital di masyarakat, terutama dalam menyikapi informasi kesehatan yang beredar luas. Selain meningkatkan kesadaran, kegiatan ini juga memperkuat partisipasi ibu-ibu sebagai agen edukasi di tingkat komunitas.

Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-3 God Health and Well-Being

Penulis: Satria Farrely Ardiansyah

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *