Belum banyak yang tahu bahwa penyakit “gula” atau diabetes melitus juga dapat menjangkiti hewan. Di Indonesia sendiri skrining penyakit tersebut hanya masif pada manusia saja. Padahal semua hewan berpotensi terkena juga. Diabetes mellitus sendiri adalah gangguan metabolik yang ditandai oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi atau merespons insulin secara efektif yang mengakibatkan hiperglikemia kronis atau peningkatan kadar glukosa dalam darah.
Pada kucing, diabetes mirip dengan diabetes tipe 2 pada manusia. Tubuh kucing mengalami resistensi insulin dan kemudian mengurangi produksi insulin dari pankreas. Diabetes pada kucing cukup umum, terutama pada kucing yang lebih tua, kucing yang kelebihan berat badan, atau kucing yang memiliki gaya hidup kurang aktif. Prevalensinya meningkat seiring dengan meningkatnya angka obesitas pada kucing domestik yang menjadi faktor risiko utama dalam perkembangan penyakit.
Etiologi Diabetes
Penyebab utama diabetes pada kucing mencakup faktor-faktor yang telah disebutkan, seperti genetik, obesitas, dan gaya hidup yang kurang aktif. Faktor genetik dapat menyebabkan beberapa kucing memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap diabetes. Terutama jika terdapat riwayat diabetes dalam garis keturunan. Tak hanya itu, faktor lingkungan juga memainkan peran penting. Kucing yang jarang beraktivitas fisik seperti kucing peliharaan yang tinggal di dalam rumah dan tidak memiliki akses untuk bergerak bebas memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas.
Kelebihan lemak sendiri merupakan faktor risiko signifikan untuk diabetes. Obesitas meningkatkan resistensi insulin yaitu kondisi ketika tubuh kucing tidak dapat menggunakan insulin dengan efektif. Resistensi insulin memicu peningkatan kadar glukosa darah turut meningkatkan risiko berkembangnya diabetes mellitus. Kontribusi komplikasi organ pankreas turut meningkatkan perkembangan diabetes.
Penyakit Pankreatitis kronis atau hiperadrenokortisisme dapat mempengaruhi fungsi pankreas dalam produksi insulin. Selain itu, penggunaan obat-obatan tertentu seperti kortikosteroid juga dapat memicu resistensi insulin dan meningkatkan risiko diabetes. Terutama jika digunakan dalam jangka waktu lama. Obat-obatan ini sering kali diresepkan untuk mengobati kondisi inflamasi atau alergi pada kucing. Penggunaannya harus diawasi secara ketat oleh dokter hewan karena dampak sampingnya yang signifikan terhadap metabolisme glukosa.
Gejala Klinis
Gejala klinis diabetes pada kucing meliputi beberapa tanda yang umumnya tampak pada kondisi hiperglikemia. Kucing dengan diabetes sering kali mengalami polidipsia. Tandanya terlihat peningkatan rasa haus dan peningkatan frekuensi buang air kecil (poliuria). Hal ini disebabkan oleh kadar glukosa darah yang tinggi yang melebihi ambang ginjal. Sehingga glukosa keluar melalui urin dan menarik air bersamanya. Hal ini menyebabkan kucing lebih sering buang air kecil dan menjadi dehidrasi dan memicu peningkatan rasa haus. Selain itu, kucing yang mengalami diabetes mungkin mengalami polifagia. Yaitu peningkatan nafsu makan, meskipun mereka tampak kehilangan berat badan.
Polifagia terjadi karena tubuh kucing yang tidak mampu menggunakan glukosa sebagai sumber energi utama, sehingga tubuh mencoba mengkompensasi dengan meningkatkan asupan makanan. Namun, karena glukosa tidak dapat digunakan secara efektif, tubuh mulai memecah lemak dan otot sebagai sumber energi alternatif, yang mengakibatkan penurunan berat badan. Kucing yang mengalami diabetes juga mungkin menunjukkan gejala lain seperti lemah, letargi, dan pada kasus yang lebih lanjut, dapat mengalami ketoasidosis diabetik.
Ketoasidosis diabetik adalah kondisi serius yang terjadi ketika tubuh memecah lemak dalam jumlah besar untuk mendapatkan energi, yang menghasilkan asam keton dalam jumlah tinggi di dalam darah. Ketoasidosis dapat menyebabkan gejala seperti muntah, diare, dehidrasi parah, nafas berbau aseton, dan bahkan dapat mengancam nyawa jika tidak segera diobati. Penyembuhan luka pada kucing yang terkena diabetes juga mengalami hambatan akibat kegagalan pembentukan fibrin. Luka yang tak kunjung kering membuat sekitarnya lembab dan berbahaya jika terjadi infeksi. Keparahan luka tersebut dapat mencapai kemampuan apoptosis dan nekrosis yang menyebabkan organ tersebut harus diamputasi.
Diagnosis Diabetes
Diagnosis diabetes pada kucing biasanya dilakukan melalui kombinasi pemeriksaan klinis dan uji laboratorium, yaitu:
- Pemeriksaan Fisik. Dokter hewan akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mendeteksi tanda-tanda yang konsisten dengan diabetes. Terutama dari tanda-tanda luka yang tak kunjung sembuh.
- Tes darah dan urin. Kucing dengan diabetes akan menunjukkan kadar glukosa darah yang tinggi secara konsisten, serta glukosuria atau adanya glukosa dalam urin. Namun, peningkatan glukosa darah pada satu kali pemeriksaan tidak cukup untuk mendiagnosis diabetes karena faktor stres juga dapat menyebabkan hiperglikemia sementara pada kucing. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut atau pengukuran kadar fruktosamin, yang memberikan gambaran kadar glukosa darah dalam jangka waktu lebih panjang, biasanya dua hingga tiga minggu terakhir. Msdvetmanual menunjukkan kadar konsentrasi gula darah normal pada kucing berada di kisaran 75-120mg/dL. Pengukuran kadar fruktosamin sangat berguna untuk membedakan hiperglikemia kronis akibat diabetes dari hiperglikemia sementara akibat stres.
Pengobatan
Pengobatan diabetes pada kucing mencakup beberapa pendekatan, seperti terapi insulin, perubahan pola makan, dan pengaturan gaya hidup. Terapi insulin merupakan komponen utama dalam pengobatan diabetes pada kucing, terutama karena kebanyakan kucing yang didiagnosis diabetes membutuhkan insulin tambahan untuk mengontrol kadar glukosa darahnya. Insulin diberikan melalui injeksi subkutan, biasanya dua kali sehari, dan dosisnya disesuaikan dengan respons kucing terhadap terapi. Pemantauan kadar glukosa darah secara rutin sangat penting untuk menilai efektivitas terapi dan menyesuaikan dosis insulin. Selain itu, pemilik kucing perlu belajar cara menyuntikkan insulin dengan aman dan memantau tanda-tanda hipoglikemia dalam kondisi kadar glukosa darah terlalu rendah, yang dapat berbahaya jika tidak segera ditangani.
Selain terapi insulin, perubahan pola makan sangat penting dalam manajemen diabetes pada kucing. Diet rendah karbohidrat dan tinggi protein sering kali direkomendasikan untuk kucing diabetes, karena karbohidrat dapat meningkatkan kadar glukosa darah lebih cepat. Diet khusus untuk kucing diabetes tersedia secara komersial, atau dokter hewan mungkin merekomendasikan makanan buatan rumah dengan komposisi yang sesuai. Mengontrol asupan karbohidrat membantu mengurangi fluktuasi kadar glukosa darah, sehingga mempermudah pengendalian diabetes. Pemberian makan juga harus diatur pada waktu yang sama setiap hari, bertepatan dengan pemberian insulin, untuk memastikan kestabilan kadar glukosa darah.
Gaya hidup yang lebih aktif dapat membantu dalam manajemen diabetes pada kucing, terutama dengan meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin. Meskipun kucing yang tinggal di dalam rumah cenderung kurang aktif, pemilik dapat merangsang aktivitas fisik dengan menggunakan mainan, permainan interaktif, atau memberi kesempatan bagi kucing untuk berjalan atau bermain di lingkungan yang aman. Olahraga ringan ini dapat membantu mengurangi obesitas dan meningkatkan respons tubuh terhadap insulin.
Prognosis diabetes pada kucing sangat bervariasi tergantung pada respon tubuh terhadap pengobatan, serta kepatuhan pemilik dalam melaksanakan terapi. Beberapa kucing dapat mencapai remisi diabetes, yaitu kondisi dimana kadar glukosa darah dapat dikontrol tanpa memerlukan terapi insulin secara terus-menerus, terutama jika penyakitnya terdeteksi dan diobati sejak dini. Remisi lebih mungkin terjadi pada kucing yang mengalami diabetes akibat obesitas dan berhasil menurunkan berat badan.
Remisi tidak selalu berlangsung permanen dan beberapa kucing mungkin memerlukan terapi insulin kembali jika kambuh. Bagi kucing yang tidak mencapai remisi manajemen diabetes jangka panjang diperlukan untuk mencegah komplikasi serius seperti ketoasidosis diabetik atau neuropati diabetik. Secara keseluruhan, diabetes pada kucing adalah kondisi kronis yang memerlukan manajemen yang hati-hati dan komitmen jangka panjang dari pemilik hewan. Pengobatan dan perubahan gaya hidup yang tepat dapat membantu kucing hidup dengan nyaman dan mempertahankan kualitas hidup yang baik.
Penulis: Azhar Burhanuddin (Mahasiswa Kedokteran Hewan FIKKIA)
Editor: Avicena C. Nisa
