FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kuliah Reproductive Biology in Rusa timorensis: From Animal Handling to Semen Quality Assessment

KABAR FIKKIA – Senin, (02/06/2026) Prodi Kedokteran Hewan  FIKKIA menyelenggarakan kuliah tamu bersama Dr. Wan Nor Fitri Wan Jaafar dari Department of Farm and Exotic Animal Medicine and Surgery, Faculty of Veterinary Medicine, Universiti Putra Malaysia (UPM). Acara ini dihadiri secara daring oleh 90 mahasiswa kedokteran hewan yang antusias mengikuti materi bertajuk “Reproductive Biology in Rusa timorensis: From Animal Handling to Semen Quality Assessment.”

Dr. Wan Nor Fitri membuka kuliah dengan penjelasan mengenai animal handling. Menurutnya, penanganan rusa timorensis harus dilakukan dengan prosedur yang aman, etis, dan sesuai standar kesejahteraan hewan. Penanganan dilakukan dengan cara restraining aman, yaitu menahan hewan menggunakan metode fisik atau kandang khusus agar tidak stres berlebihan. Bila diperlukan, digunakan sedasi ringan untuk memudahkan pengambilan sampel, disertai pemantauan tanda vital hewan.

Breeding Seasonality sebagai Kunci Reproduksi

Dalam kuliahnya, beliau menekankan bahwa breeding seasonality atau musim kawin merupakan faktor kunci dalam memahami reproduksi rusa timorensis. Spesies ini memiliki pola reproduksi yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama ketersediaan pakan dan panjang hari (photoperiod). Rusa timorensis biasanya memasuki musim kawin pada periode tertentu dalam setahun, bertepatan dengan musim hujan ketika sumber pakan melimpah. Hal ini memastikan anak rusa lahir pada saat kondisi lingkungan mendukung pertumbuhan.

“Breeding seasonality adalah strategi biologis yang memastikan kelangsungan hidup spesies. Dengan sinkronisasi antara musim kawin dan ketersediaan pakan, rusa timorensis dapat memaksimalkan peluang reproduksi,” ujar Dr. Wan Nor Fitri.

Teknik Koleksi dan Analisis Semen

Bagian inti kuliah membahas teknik pengambilan sampel semen pada rusa . Dr. Wan Nor Fitri menjelaskan metode koleksi yang digunakan dalam penelitian, termasuk prosedur standar untuk menjaga kualitas sampel. Setelah koleksi, dilakukan analisis semen yang meliputi:

  • Motilitas sperma: kemampuan sperma bergerak aktif.
  • Morfologi sperma: bentuk dan struktur sperma yang normal.
  • Viabilitas sperma: tingkat kelangsungan hidup sperma.

Analisis ini, menurut beliau, menjadi indikator penting dalam menilai kesehatan reproduksi rusa. Data yang diperoleh dapat digunakan untuk mendukung program konservasi maupun pengembangan teknologi reproduksi satwa liar.

Selain aspek teknis, Dr. Wan Nor Fitri menekankan pentingnya penelitian reproduksi dalam konteks konservasi. Ia menyampaikan bahwa rusa timorensis memiliki nilai ekologis dan budaya yang tinggi di Asia Tenggara, sehingga keberlanjutan populasinya harus dijaga.

Kuliah ini memberikan wawasan baru bagi mahasiswa mengenai aplikasi ilmu reproduksi dalam konservasi satwa liar. Diskusi yang berlangsung interaktif memperkaya pemahaman mahasiswa tentang fisioteknologi reproduksi, theriogenologi, bioteknologi veteriner, dan kesehatan satwa liar. Dengan antusiasme tinggi, diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk memperkuat jejaring akademik internasional dan mendukung upaya pelestarian satwa endemik.

Penulis: Amalia Sofi Ramadanti

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *