KABAR FIKKIA – Program Studi Akuakultur, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) baru saja mengadakan kuliah tamu inspiratif bersama Prof. Albertinka J. Murk. Seorang Chairholder Marine Animal Ecology, Wageningen University and Research, Belanda. Kuliah tamu mengangkat topik “Dasar-Dasar Toksikologi Lingkungan Terkait Keamanan Makanan Laut dan Ekologi (Toksikologi) Perairan”. Kegiatan diawali sambutan oleh Koordinator Program Studi Akuakultur Darmawan Setia Budi, S.Pi., M.Si. pada Jumat (14/03/2025) melalui kanal zoom meeting.
Prof. Tinka Murk, dikenal sebagai ahli toksikologi lingkungan yang terdaftar di Eropa. Beliau memberikan pemaparan mendalam mengenai berbagai aspek toksikologi lingkungan. Khususnya yang berkaitan dengan keamanan makanan laut dan ekologi perairan. Dalam kuliahnya, beliau menjelaskan mengenai dasar-dasar toksikologi lingkungan. Mengenai bagaimana bahan kimia berbahaya dapat mempengaruhi organisme hidup dan lingkungan. Dijelaskan, ancaman kontaminasi bahan kimia berbahaya pada makanan laut dan berdampak terhadap kesehatan manusia. Serta bagaimana bahan kimia berbahaya dapat mencemari ekosistem perairan dan mempengaruhi biota laut.
Masuknya Bahan Kimia Berbahaya ke Organisme
Bahan kimia berbahaya masuk dalam organisme melalui berbagai jalur, contohnya organ pernapasan. Organisme hidup akan menghirup gas, uap, atau partikel berbahaya lewat organ pernapasan. Bahan bahan berbahaya ini akan terakumulasi di dalam tubuh organisme hidup seperti ikan atau jenis kerang kerangan. Nantinya jika organisme hidup tersebut sampai dikonsumsi oleh manusia akan berdampak langsung terhadap kesehatan.
Dari sisi pemahaman akuatik, bahan bahan polutan organik persisten yang banyak ditemukan pada perairan yakni polusi plastik, tumpahan minyak dan pencemaran industri. Polusi plastik berdampak pada organisme akuatik seperti ikan, kerang, dan udang. Hewan tersebut dapat menelan mikroplastik yang menyerupai makanan mereka. Hal ini dapat menyebabkan penyumbatan saluran pencernaan, cedera internal, dan bahkan kematian. Plastik juga dapat melepaskan bahan kimia beracun yang dapat terakumulasi dalam jaringan organisme akuatik. Akumulasi cemaran dapat membahayakan kesehatan manusia yang mengonsumsi organisme tersebut.

“Bentuk mikroplastik menyerupai plankton, sedangkan plankton adalah makanan alami yang mudah terkonsumsi oleh organisme perairan.” Tuturnya
Pencemaran polusi plastik juga mencemari habitat akuatik, seperti terumbu karang dan padang lamun, yang penting bagi kehidupan organisme akuatik. Plastik dapat mengganggu siklus nutrisi dan aliran energi dalam ekosistem akuatik. Penilaian risiko ini bertujuan untuk menentukan tingkat aman suatu zat dengan mempertimbangkan sifat kimianya dan potensi efeknya. Polutan Organik Persisten (POPs) adalah senyawa beracun yang bertahan lama di lingkungan dan dapat terakumulasi dalam rantai makanan, menyebabkan efek negatif bagi kesehatan manusia dan ekosistem.
Prof. Tinka Murk juga menyampaikan harapannya agar kuliah tamu ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keamanan makanan laut dan kelestarian ekosistem perairan.
Kuliah tamu ini merupakan salah satu upaya Prodi Akuakultur untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di bidang ilmu kelautan dan lingkungan. Prodi Akuakultur berkomitmen untuk terus menghadirkan para ahli terkemuka dari berbagai negara untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan para mahasiswa.
Penulis: Anakku Karunia Pertama Henri Hariyanto
Editor: Avicena C. Nisa
