FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kuliah Tamu Akuakultur Bahas Teknik Manajemen Kualitas Air Tambak Udang

KABAR FIKKIA – Menambah keilmuan praktik budidaya udang, Prodi Akuakultur FIKKIA kembali menyelenggarakan kuliah tamu pada Jumat (28/11/2025) di Kelas G203 Kampus Giri. Kali ini, kuliah tamu membahas seluk beluk kualitas air tambak udang bersama alumni inspiratif Dinda Yuni Istanti, S.Pi. Seorang Analis Laboratorium di PT. Sidojoyo Wutama. Kuliah Tamu dihadiri 35 mahasiswa Akuakultur 2024 yang sedang menempuh Mata Kuliah Manajemen Kualitas Air.

Dokumentasi bersama narasumber. Sumber: Istimewa

Pentingnya Kualitas Air dalam Budidaya Udang

Dinda menjelaskan, kualitas air sangat penting untuk budidaya udang. Dalam hal ini, budidaya udang vaname. Kualitas air memengaruhi pertumbuhan, kesehatan, dan kelangsungan hidup udang. Kualitas air yang buruk dapat menyebabkan udang stress dan rentan terhadap penyakit. Pengukuran kualitas air juga perlu dilakukan secara rutin sebagai bagian dari manajemen kualitas air tambak agar ideal bagi pertumbuhan udang.

Parameter Kualitas Air

Pemantauan parameter kualitas air secara rutin mutlak diperlukan untuk menciptakan lingkungan tambak yang ideal. Dalam pemaparannya, Dinda menyampaikan 3 parameter pengukuran kualitas air. Parameter fisika, meliputi kecerahan, suhu, dan warna air. Sementara itu, parameter biologi berfokus pada kepadatan plankton dan jumlah total bakteri dan vibrio.

Pemantauan vibrio ini merupakan aspek penting untuk mengantisipasi adanya wabah penyakit pada bibit udang. Ada pun parameter kimia yang memiliki cakupan luas dan kompleks. Di antaranya, ada Total Organic Matter (TOM) untuk mengukur total bahan organic termasuk sisa pakan dan kotoran. Lalu pH, yaitu tingkat keasaman air yang ideal dan Alkalinitas sebagai penyangga pH agar tetap stabil.

Pemeriksaan Biologis Hepatopankreas Udang

Hepatopankreas merupakan kelenjar pencernaan yang memiliki fungsi penting pada udang. Berfungsi sebagai detoksifikasi, memproduksi enzim-enzim pencernaan dan menyimpan hasil-hasil pencernaan. Dinda menyampaikan, bahwa hepatopankreas ini juga sebagai booster energi berupa lemak dan karbohidrat pada udang.

Pemeriksaan hepatopankreas udang. Sumber: Istimewa

“Apabila hepatopankreas mengalami kerusakan, maka metobolisme udang akan terganggu dan akibatnya hasil panen tidak maksimal,” ujarnya.

Alumni Akuakultur 2017 itu membuka ruang diskusi dan atusias dari para peserta. Pertanyaan pertama dilempar oleh Kinanti Dwi Lestari (AKUA 24) tentang bagaimana mengenali ciri-ciri udang yang terkena penyakit.

Menjawab pertanyaan tersebut, DInda menjelaskan bahwa udang yang terkena penyakit dapat dilihat dari perubahan fisiknya. Seperti munculnya bintik putih, warna tubuh yang menjadi pucat atau bahkan penuruna nafsu makan. Apabila perubahan ini tidak langsung diidentifikasi penyebabnya, maka penyakit akan cepat menyebar pada seluruh isi kolam dan mengakibatkan kegagalan panen.

Diskusi ditutup dengan pertanyaan kritis dari Muhammad Hilmy Maulana, S.Pi., M.Si. mengenai pengaruh fluktuasi ketinggian air pada parameter kualitas air yang berubah secara mendadak. Dinda menjelaskan, bahwa perubahan kondisi air lebih dari ±2°C dapat menyebabkan stress fatal pada udang, sehingga peruubahan volume air yang signifikan pasti berdampak besar pada parameter lainnya.

“Untuk melatih ketalenan dalam diri, manfaatkan momen saat jadi mahasiswa dan fokuslah dalam mengikuti setiap kegiatan yang ada di lab,” ujarnya.

Di akhir sesi, Dinda berpesan, bahwa dalam melakukan budidaya di dunia akuakultur membutuhkan ketelatenan dan kecermatan agar tiap keputusan yang diambil tidak berisiko besar pada akhir masa panen.

Penulis: Farra Azzahrani

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *