KABAR FIKKIA – Kuliah Tamu Akuakultur kembali dihelat pada Jumat (14/11/2025) bertajuk “Dari Lumpur Jadi Lumbung: Menyelami Dunia Budidaya Udang”. Menghadirkan alumni inspiratif, Muhammad Ilham Riskyan, S.Pi. yang kini berprofesi sebagai Teknisi di PT. Surya Tani Pemuka. Kuliah tamu dihadiri oleh 30 mahasiswa akuakultur 2023 yang sedang menempuh Mata Kuliah Manajemen Akuakultur Payau. Alumni 2015 itu berbagi keilmuan seputar budidaya udang di Ruang G.204 Kampus Giri FIKKIA UNAIR
Persiapan Budidaya Udang
Persiapan Lahan penting dilakukan sebelum memulai budidaya. Persiapan meliputi pengeringan dasar kolam, pengapuran, dan pemupukan untuk memacu plankton alami. Kemudian, ia menekankan pentingnya pemilihan lokasi dan kolam. Idealnya lokasi harus jauh dari sumber polusi dan memiliki desain yang matang, termasuk perencanaan sistem aerasi dan sirkulasi air yang optimal.
Fokus selanjutnya bergeser ke penebaran benur. Ilham menekankan pentingnya memilih benur sehat (aktif, transparan, dan responsif) yang bersertifikat Specific Pathogen Free (SPF) dari sumber terpercaya. Keberhasilan awal ditentukan oleh optimalisasi suhu dan salinitas sebelum tebar. Penentuan padat tebar juga disesuaikan ketat dengan sistem budidaya (tradisional, semi-intensif, atau intensif).
Biosecurity Jaminan Kualitas Udang
Selama enam tahun berkecimpung melakukan budidaya udang, Ilham menilai perlu strategi yang tepat dalam manajemen pakan. Mulai dari benur hingga udang siap panen (starter, grower, finisher). Monitoring pertumbuhan digunakan untuk menghitung Free Convesion Ratio (FCR) dan prediksi hasil. Namun, poin yang paling krusial adalah biosecurity.
“Benteng utama untuk melindungi tambak adalah biosecurity. Biosecurity yang ketat menjamin produksi udang tetap sehat.” Ujarnya.
Penjelasan Ilham memicu rasa penasaran dari peserta. Angger Irawan (Akuakultur 23) membuka diskusi dengan pertanyaan tentang kunci FCR optimal. Menanggapi hal ini, Ilham menjelaskan empat pilar utama: manajemen dan kualitas pakan yang tinggi, kualitas air yang stabil, dan skrining kesehatan rutin, semuanya bertujuan memastikan penyerapan pakan yang maksimal.
Diskusi ditutup dengan pertanyaan teknis dan kritis, Muhammad Hilmy Maulana, S.Pi., M.Si. mengenai indikator dalam penentuan panen parsial agar target tercapai.
Ilham menjelaskan bahwa keputusan panen parsial dilakukan pada budidaya intensif atau super-intensif. Pertimbangan utamanya yaitu, apabila mencapai carrying capacity kolam. Panen parsial berfungsi mengurangi kepadatan dan beban limbah, sehingga udang yang tersisa dapat tumbuh lebih optimal.
Di akhir sesi, Ilham menutup dengan kalimat motivasi yang merefleksikan prinsip kerja di dunia budidaya udang. Bahwa setiap aksi selalu memberikan reaksi yang sama besar dan berlawanan arah.
Dalam budidaya, setiap aksi manajemen yang kita berikan—baik itu manajemen air, pakan, maupun biosecurity—akan memberikan reaksi yang setimpal pada hasil panen. Lakukan yang terbaik, maka hasilnya akan optimal.
Penulis: Farra Azzahrani
Editor: Avicena C. Nisa
