FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kuliah Tamu Bahas Penyakit Lato Lato pada Ternak, Bagaimana Dampak dan Penanggulangannya?

KABAR FIKKIA – Dalam upaya meningkatkan pemahaman mengenai Lumpy Skin Disease (LSD) yang mulai mewabah di Indonesia, HMKH menggelar kuliah tamu dengan menghadirkan ahli veteriner peternakan berpengalaman. Kuliah diadakan pada hari Minggu (10/11/2024) ini bertujuan untuk memberikan wawasan mendalam mengenai penyebaran penyakit, dampak, pencegahan, dan penanggulangan. Narasumber mengundang drh. Chendi Herdiawan, dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bondowoso. Kuliah tamu ini diharapkan memperkuat kolaborasi antara akademisi, peternak, dan pemerintah dalam mengatasi masalah kesehatan hewan.

Lumpy Skin Disease (LSD) merupakan penyakit kulit infeksius yang disebabkan oleh Lumpy Skin Disease Virus (LSDV). LSDV merupakan virus bermateri genetik DNA dari Genus Caprivovirus dan famili Poxviridae. Umumnya penyakit ini menyerang hewan sapi atau kerbau dan bersifat non zoonosis. Di Indonesia, LSD dikenal dengan sebutan penyakit lato-lato.

Penularan Penyakit LSD pada Ternak

Penyebaran dapat terjadi dengan kontak langsung dan tidak langsung. Caplak seperti Rhipicephalus sanguineus dan Amblyomma hebraeum merupakan vektor utama penyebaran LSD yang banyak ditemukan di lapangan. Selain caplak, serangga seperti nyamuk dari genus Aedes dan Culex serta lalat dari spesies Haematopota sp., Stomoxys sp., dan Haematobia irritans. LSD dapat ditularkan secara intrauterine melalui kawin alami.

“Sayangnya, di daerah seperti Bondowoso, masih banyak kandang hewan yang tidak ideal, sehingga memperbesar risiko penularan penyakit” jelas drh. Chendi.

Transmisi penularan LSD. Sumber: HMKH

Ia juga menekankan pentingnya pengendalian lingkungan sebagai bagian dari penanggulangan penyakit, bukan hanya melalui pengobatan. Kearifan lokal seperti penggunaan daun sirih dan garam dinilai efektif dalam mengusir ektoparasit.

Dampak LSD antara lain emasiasi (kekurusan), abortus, kerusakan karkas, kerusakan kulit, hingga mastitis sehingga kehilangan produksi susu. Dampak yang diterima oleh hewan ternak dapat mempengaruhi ekonomi para peternak. Harga sapi yang terkena LSD dapat menurun drastis.

Pengobatan pada Ternak yang Terinfeksi LSD

Untuk memastikan diagnosis, uji laboratorium menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction) menggunakan sampel whole blood, swab hidung dan air liur. Pengobatan LSD tidak dapat dilakukan secara kausatif. Pengobatan dapat dilakukan secara suportif dengan pemberian vitamin ADE dan Vitamin B Kompleks. Jika terdapat gejala klinis pada ternak seperti demam hingga suhu 41°C, lemas, munculnya nodul-nodul pada permukaan kulit tubuh, pembengkakan pada limfonodul subscapularis dan prefemoralis, dan pembengkakan pada kaki maka dapat dilakukan terapi secara simptomatis dengan pemberian antipiretik, antihistamin, anti inflamasi, dan antibiotik Long Acting (LA). Antibiotik digunakan untuk mencegah adanya infeksi sekunder dari bakteri.

Kondisi sebelum dan setelah pengobatan. Sumber: HMKH

Selain melakukan terapi secara simptomatis dan suportif, pencegahan penyakit merupakan hal dapat dilakukan untuk mengurangi kerugian yang dialami oleh peternak. Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang, pembangunan kandang perlu diterangi oleh matahari, pengendalian vektor, vaksinasi LSD, dan pemusnahan terbatas (focal culling).

“Apakah sapi yang terinfeksi LSD dagingnya dapat dikonsumsi?”. Tanya Cici Lestari (Akt. 2021)

“Sebenarnya untuk dikonsumsi masih bisa karena LSD ini tidak zoonosis hanya saja tidak disarankan untuk dikonsumsi karena kandungan nutrisi di dalam daging telah berkurang”.

Sebagai penutup, dilakukanlah pemberian sertifikat kepada pemateri dan foto bersama dengan peserta kuliah tamu.

Penulis: Hanifa Khansa Khairunnisa

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *