KABAR FIKKIA – Program Studi Kedokteran Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga menggelar kuliah tamu bertajuk “Integrating Artificial Intelligence in Health Care”. Kuliah tamu menghadirkan Benjamin Wade, PhD peneliti dari Harvard Medical School dan Massachusetts General Hospital pada Kamis (06/03/2025) di Aula Kampus Mojo. Lebih lanjut, beliau akan membahas peran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI) dalam sistem diagnosa berbasis data-driven. Sejumlah mahasiswa dari Prodi Kesehatan Masyarakat, Kedokteran Hewan, dan Akuakultur juga terpantau mengikuti diskusi menarik terkait sistem diagnosa berbasis data.
Sistem Pengolahan Satu Data Berbasis AI
Peneliti yang kerap disapa Dr. Wade itu menjelaskan bahwa penerapan sistem diagnosa berbasis AI dalam layanan kesehatan memungkinkan penyimpanan dan pengelolaan data pasien secara lebih sistematis dan efisien.
“Saat ini, data pasien umumnya hanya disimpan dan dianalisis secara manual, sehingga tidak selalu memberikan gambaran yang menyeluruh tentang kondisi pasien. Proses ini dapat menyebabkan keterlambatan dalam diagnosa dan akurasi dalam pengambilan keputusan medis.” Ungkap dokter Wade.

Penerapan AI pada sistem berbasis data-driven memudahkan pemindaian data pasien lebih efisien. Informasi rekam medis seperti riwayat kesehatan, hasil laboratorium, pencitraan medis, dan catatan dokter langsung tersimpan dalam database berbasis data-driven setiap pasien berobat. AI kemudian mengolah data ini untuk mengidentifikasi pola yang mungkin tidak terlihat jelas oleh manusia. Seperti hubungan antara gejala, hasil tes, serta kemungkinan perkembangan penyakit. Dengan analisis berbasis data yang terstruktur, AI dapat memberikan rekomendasi terapi yang lebih akurat dan membantu tenaga medis dalam mengambil keputusan yang lebih tepat.
Penerapan AI Berbasis Data-Driven
Dalam bidang psikiatri misalnya, AI dapat menganalisis berbagai aspek kesehatan pasien. Seperti pola tidur, riwayat kesehatan mental, dan tingkat stres. Dengan mendeteksi pola gangguan suasana hati lebih dini, AI dapat membantu dokter dalam menyusun strategi pengobatan yang lebih personal dan efektif. Penerapan teknologi ini tidak hanya mempercepat proses diagnosa, tetapi juga meningkatkan akurasi terapi berdasarkan rekam medis pasien yang tersimpan secara sistematis.
Analisa Pola Emosional Manusia
Pada sesi diskusi, Rima (Kedokteran 2024) menanyakan hal terkait peranan AI dalam membaca perasaan manusia untuk mengenal diri sendiri.
Dr. Wade menjelaskan bahwa meskipun AI tidak memiliki kesadaran emosional seperti manusia. Teknologi dapat membantu menganalisis pola emosional berdasarkan data yang dikumpulkan. AI dapat mengenali perubahan suasana hati, tingkat kecemasan, dan respons terhadap terapi tertentu, sehingga membantu pasien memahami kondisi emosional mereka dan mendukung tenaga medis dalam memberikan terapi yang lebih personal.

Dr. Wade menekankan bahwa meskipun AI tidak menggantikan peran dokter. Adanya teknologi merupakan alat pendukung yang meningkatkan efisiensi layanan kesehatan. Dengan rekam medis yang tersimpan secara sistematis dan terintegrasi, AI dapat membantu mengurangi kesalahan diagnosa serta memastikan terapi yang diberikan lebih tepat sasaran berdasarkan data pasien yang telah dianalisis secara menyeluruh.
Penulis: Ryan Adi Taufiqurrahman
Editor: Avicena C. Nisa
