KABAR FIKKIA – Jumat (27/09/2024) Indonesia adalah negara kepulauan yang stategis. Terletak di pertemuan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, menjadikan perairan laut Indonesia sebagai jalur migrasi satwa mamalia laut. Fenomena migrasi hewan laut di Indonesia sering ditemukan pada lumba-lumba, paus, maupun penyu. Tak jarang, dalam perjalanannya satwa terbawa arus perairan dangkal yang menyebabkan terdampar.

Dijelaskan pada kuliah tamu Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR). drh. Deny Rahmadani, M.Si menjelaskan pada 15 mahasiswa PPDH gelombang 1 stase Koasistensi Patologi. Kehadiran pemateri kompeten di bidang satwa liar tersebut bertujuan untuk memperkaya wawasan para mahasiswa PPDH mengingat hal tersebut menjadi poin unggul dari PPDH FIKKIA UNAIR.
Penanganan Mamalia Laut dan Penyu Terdampar
Beberapa faktor yang mengakibatkan mamalia laut terdampar seperti adanya gangguan sonar di bawah laut dan pencemaran air laut yang mengakibatkan gangguan kesehatan. Berikut langkah-langkah sebagai dokter hewan apabila menemui mamalia laut terdampar namun kondisinya masih hidup:
- Mengamati kondisi satwa serta lokasi terdamparnya. Catat informasi awal dan kronologinya. Jangan lupa untuk mengendalikan massa agar tidak terjadi kerumunan serta kebisingan. Pastikan untuk mensterilkan lokasi terdampar dari satwa lain untuk meminimalisir stres pada mamalia laut.
- Koordinasi dengan seluruh pihak terkait serta membentuk tim penanganan dan menyiapkan segala perlengkapannya.Tentukan kordinator karena penanganan hanya dilakukan oleh satu komando. Siapkan ember/ gayung/ spray, handuk atau kain lembut, matras, terpal dan payung, alat ukur, serta alat untuk dokumentasi.
- Melakukan penanganan dan tindakan. Jagalah tubuh satwa untuk tetap basah dengan menyiraminya dengan air. Sebagai dokter hewan, lakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah terdapat luka pada satwa tersebut dan menghitung interval nafasnya untuk memgetahui tingkat stres satwa tersebut.
“Hal yang perlu diperhatikan pada saat menyirami mamalia laut adalah memastikan bahwa lubang pernapasan dan area mata tidak kemasukan air atau benda asing lainnya karena jika area tersebut kemasukan benda asing, satwa tersebut bisa mati,” jelas Drh Deny.
4. Konsultasikan dengan para ahli dan pihak terkait sebelum melakukan tindakan lebih lanjut. Peran dokter hewan sangat penting untuk menentukan apakah satwa tersebut dapat dirilis atau harus direhabilitasi terlebih dahulu.
“Syarat satwa untuk dapat dirilis yaitu tidak boleh ada cacat,” ujar Drh Deny
5. Pendataan. Tandai lokasi terdampar dan lokasi rilis dengan GPS. Pastikan untuk mecatat kondisi detail satwa serta mendokumentasikannya. Drh. Deny menjelaskan bahwa teknik fotografi yang baik adalah mengambil gambar dengan posisi yang sejajar terhadap objek yang ditargetkan serta mememperhatikan pencahayaannya.
“Dokumentasi awal sangat penting untuk membantu evaluasi perubahan patologis, sehingga teknik fotografi memang sangat diperlukan,” ujarnya.
6. Monitoring pasca rilis. Lakukan pengamatan satwa untuk memastikan satwa tersebut dapat survive dan bertemu lagi dengan kawanannya.
Apabila mamalia laut terdampar dalam kondisi mati, maka dapat dilakukan nekropsi dengan tujuan untuk mengidentifikasi penyebab mamalia laut terdampar.
Selain mamalia laut, drh Deny juga menjelaskan penanganan penyu yang terdampar. Berbeda dengan mamalia laut, penyu yang terdampar tidak dapat langsung dirilis karena penyu yang terdampar sudah pasti memiliki gangguan kesehatan sehingga penyu yang terdampar harus dilakukan rehabilitasi untuk mendapatkan treatment pengobatan.
Beliau berpesan untuk selalu mengutamakan safety dalam melakukan penanganan satwa yang terdampar.
Dokter hewan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan dan harus dapat berkoordinasi dengan baik bersama pihak-pihak terkait untuk menindaklanjuti kejadian tersebut.
Penulis: Fania Aulia Rahma
Editor: Avicena C. Nisa
