BERITA SIKIA – Minggu (13/08/2023) Penyu menjadi salah satu hewan langka dilindungi yang berhabitat di Selat Bali. Upaya konservasi harus dilakukan untuk tetap menjaga populasi penyu tetap eksis. Sebagai garis terdepan, peran masyarakat Pulau Santen sangat diperlukan dalam menjaga ekosistem pesisir yang ramah bagi Penyu. Lewat Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Program Studi Kedokteran Hewan serta Kesehatan Masyarakat Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Universitas Airlangga Banyuwangi yang digalakan. SIKIA UNAIR hadir memberdayakan kelompok nelayan sebagai kader konservasi untuk kehidupan penyu yang berkelanjutan. Ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang telah diadakan sebelumnya.
Program pemberdayaan konservasi dilakukan kepada 25 anggota kelompok nelayan yang hadir di Pendopo Pulau Santen. aktualisasi konservasi yang dilakukan SIKIA bersama kelompok nelayan adalah upaya mewujudkan SDG’s poin 14 yaitu Ekosistem laut, tentang pelindungan dan penggunaan samudera, laut dan sumber daya kelautan secara berkelanjutan.
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Ecobrick Bersama Masyarakat Pulau Santen Banyuwangi
Ketua Pelaksana Kedokteran Hewan, Aditya Yudhana drh., M.Si mengajak masyarakat memanfaatkan potensi Eduwisata di Pulau Santen. Pembentukan Eduwisata menjadi salah satu bentuk transfer ilmu pengetahuan sirkular dari akademisi maupun pegiat lingkungan kepada masyarakat luas lewat kader lokal di kawasan wisata. Sebagai program keberlanjutan lintas tahun, pemberdayaan yang dihadirkan akan terus dipandu oleh SIKIA UNAIR hingga kelompok masyarakat dapat mandiri.
“Lewat masyarakat berdaya, Eduwisata akan hadir dengan kader yang luar biasa. Kita (SIKIA, red) tidak akan melepas hingga masyarakat bisa berdaya sendiri nantinya,” ungkapnya.
Kelompok Nelayan Menyambut Positif
Perwakilan Kelompok Nelayan, Slamet menuturkan pembelajaran konservasi bagi masyarakat Pulau Santen sangat dinantikan. Secara histori beberapa tahun lalu upaya perlindungan penyu dalam upaya konservasi sederhana oleh nelayan Pulau Santen telah hadir. Keterbatasan peralatan telah menghambat upaya tersebut dan kegiatan konservasi kembali vakum.
“Lewat kegiatan ini, menjadi pembelajaran yang berkualitas untuk masalah konservasi,” tuturnya.
Hadirnya eduwisata akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Pulau Santen. Sumber penghasilan masyarakat kini tak terbatas hanya dengan kegiatan melaut saja, pengelolaan sumber daya alam menjadi kawasan wisata edukasi akan memberikan sirkulasi ekonomi yang positif.
“Lewat eduwisata diharapkan dapat memajukan lingkungan pulau santen ini. Kita tak hanya bergantung menjadi nelayan saja, namun juga membuat motivasi menghadirkan kegiatan Pulau Santen,” tuturnya.
Focus Group Discussion yang dihadirkan memantik peran aktif masyarakat dalam memberikan gambaran kegiatan konservasi yang akan dilakukan. Sehingga masyarakat mendapatkan persamaan perspektif untuk dapat membentuk kader. Disisi lain, Konservasi erat kaitannya dengan kondisi kebersihan lingkungan di wilayah. Hal tersebut menjadi kunci keberhasilan proses konservasi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, Kader Konservasi dari kelompok nelayan bersama dengan Kader Pengolahan Sampah dari kader kelompok ibu nelayan akan berkolaborasi mengusung dimulainya Eduwisata Pulau Santen yang berkelanjutan.
Penulis: Putri Laura Faradina
Editor: Avicena C. Nisa
