FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Liburan ke Taman Nasional, Jangan Asal Dekati Satwa! Ini Tips Aman dari Dosen Veteriner UNAIR

KABAR FIKKIA – Pernahkah kamu membayangkan berlibur ke ekosistem liar dengan bentang alam yang menakjubkan? Ya kamu bisa menjajal destinasi menawan yang menawarkan segudang pengalaman. Keanekaragaman flora, fauna, dan bentang alam dapat kita temui di Taman Nasional di Indonesia. Lebih dari sekedar berlibur Taman Nasional menyajikan sisi edukasi konservasi bagi wisatawan yang datang. Pada UU No 5 1999 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli dan dikelola dengan sistem zonasi.

Bahkan, beberapa Taman Nasional (TN) menawarkan interaksi antara pengunjung dengan satwa liar ikonik disana. Seperti TN Karimun Jawa, TN Way Kambas, TN Tanjung Puting, bahkan TN Komodo di Nusa Tenggara Timur. Lalu, bagaimana agar wisatawan dan satwa tetap aman saat berada ke Taman Nasional. Berikut wawancara FIKKIA NEWS dengan drh. Nur Rusdiana, M.Si., dari Divisi Kesehatan Masyarakat Veteriner FIKKIA Universitas Airlangga.

drh. Nur Rusdiana, M.Si.,

Menjaga Jarak dengan Satwa Liar

Peneliti yang disapa Diana itu menegaskan pentingnya persiapan kesehatan menjelang perjalanan ke taman nasional. Terutama kondisi fisik dan Kesehatan yang prima.

“Pertimbangkan vaksinasi rabies, tetanus, tifoid, hingga malaria di daerah endemik.” ujarnya.

Ia juga menganjurkan wisatawan membawa obat pribadi serta perlengkapan P3K, dan mengenakan pakaian tertutup guna mengantisipasi gigitan hewan.

Aktivitas scuba diving di Taman Nasional Wakatobi. Sumber: Wakatobi National Park – Taman Nasional Wakatobi

Saat beraktivitas di dalam Taman Nasional, wisatawan dihimbau agar selalu menjaga jarak dengan satwa liar.

“Jangan mendekat, menyentuh, atau memberi makan. Tetaplah mengikuti jalur dan protokol yang berlaku, dan hindari penggunaan flash saat memotret, karena bisa membuat satwa stres atau bahkan agresif,” jelasnya.

Ia menegaskan, memberi makan satwa liar berisiko mengubah perilaku alami hingga membuat satwa bergantung pada manusia dan rentan konflik. Selain itu, kontak atau pemberian makanan kepada satwa liar meningkatkan kemungkinan penularan penyakit zoonosis – penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia ataupun sebaliknya – melalui udara, air liur, kotoran, bahkan sentuhan.

Peran Wisatawan dalam Ekosistem dan Upaya Konservasi

Masalah sampah juga menjadi perhatian. Sampah plastik dan sisa makanan dapat menyebabkan gangguan kesehatan, pencernaan, hingga kematian satwa. “Sampah juga merusak lingkungan dan mengubah pola alamiah satwa dalam mencari makan. Penting untuk membawa kembali sampah dan tidak meninggalkannya di Taman Nasional,” katanya.

Diana menambahkan, wisatawan bisa berperan dalam memantau kesehatan satwa liar dengan melaporkan tanda-tanda satwa yang sakit, luka, atau berperilaku tak biasa ke petugas setempat. Tindakan ini sekaligus mendukung program konservasi dan penelitian.

Pusat Konservasi Gajah Sumatera di TN. Way Kambas. Sumber: www.cilacap.info

“Dokter hewan bertanggung jawab melakukan surveilans penyakit, perawatan, evakuasi satwa, dan pengendalian penyakit zoonosis di Taman Nasional. Kolaborasi dengan masyarakat dan wisatawan sangat penting untuk mencegah dan mendeteksi masalah kesehatan satwa secara dini,” terangnya.

Sebagai penutup, Diana mengajak masyarakat menghormati kehidupan satwa liar. Jangan mengganggu dan memberi makan. Tetap mengikuti regulasi, melapor bila menemukan satwa bermasalah. Dengan sikap bertanggung jawab, semua wisatawan bisa ikut menjaga ekosistem taman nasional tetap lestari.

Liburan yang bijak bukan hanya demi keselamatan diri, tapi juga demi kelestarian satwa dan alam Indonesia.

Penulis: Ajeng Aprisa Simorangkir

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *