FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Limbah Tahu, Pisau Bermata Dua Bagi Perairan

Tahu adalah makanan yang sangat populer di Indonesia. Tahu memiliki berbagai varian olahan yang lezat dan menjadi favorit banyak orang. Tahu merupakan makanan yang berasal dari pengaruh Tiongkok, namun telah menjadi bagian dari budaya kuliner Indonesia. Tahu memiliki tekstur kenyal dan rasa yang gurih, sehingga banyak disukai oleh masyarakat Indonesia. Selain itu, tahu juga merupakan sumber protein yang baik dan sering digunakan sebagai alternatif daging bagi vegetarian. Tahu juga memiliki manfaat bagi kesehatan. Tahu mengandung protein yang baik untuk pertumbuhan dan pemeliharaan otot. Selain itu, tahu juga mengandung serat, kalsium, zat besi, dan vitamin B kompleks (Maysura dkk., 2019).

Tahu putih. Foto: food.detik.com

Proses produksi tahu diawali dengan pemilihan bahan baku kedelai, perendaman, penghancuran, pemasakan, penyaringan, penggumpalan, pembentukan, dan penguningan. Proses ini biasa dilakukan oleh perajin tahu  Indonesia. Perlu diketahui beberapa pabrik pembuatan tahu tidak mengelola limbah terlebih dan langsung membuang ke perairan sehingga dapat mencemari perairan dan merusak ekosistem lingkungan. Penting untuk diingat bahwa pengelolaan limbah tahu harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 mengatur tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), termasuk limbah tahu.

Pemanfaatan limbah tahu sebagai pakan ternak

Padahal jika limbah tersebut diolah dengan baik limbah tahu dapat bermanfaat. Limbah tahu dapat memiliki berbagai manfaat dalam dunia perikanan, terutama dalam konteks pakan ternak. Beberapa penelitian dan inovasi telah dilakukan untuk mengolah limbah tahu menjadi pakan ikan.  Salah satu contoh pengolahan limbah tahu adalah dengan mengubahnya menjadi tepung tahu. Tepung tahu dapat digunakan sebagai bahan pakan tambahan untuk ikan dan ternak. Tepung tahu mengandung protein yang tinggi dan dapat memberikan nutrisi yang diperlukan oleh ikan dan ternak (Sunu, 2020)

Kenapa limbah tahu menghasilkan bau tidak sedap?

Terkadang, limbah tahu dapat menjadi beracun jika kadar limbah tersebut tidak terkendali. Limbah tahu yang tidak diolah dengan baik dapat mencemari lingkungan dan berpotensi merusak ekosistem sekitarnya. Misalnya, jika limbah tahu dibuang ke sungai atau tanah secara sembarangan, dapat menyebabkan kerusakan pada ekosistem sungai dan mengganggu kehidupan masyarakat sekitar.

Instalasi Pengelolaan Air Limbah Tahu PUPR Foto: BKP Kementerian PUPR RI

Limbah tahu yang dibuang ke perairaan dan dalam kondisi yang tidak terkendali dapat menghasilkan bau yang tidak sedap dan menghambat kehidupan ikan di perairan. Limbah tahu mengandung zat-zat kimia dan nutrisi yang dapat menyebabkan perubahan kualitas air sungai. Zat kimia diantaranya adalah Amoniak (NH3) dan Hidrogen Sulfida (H2S). Amoniak dihasilkan dari proses penguraian protein dan urea dalam limbah tahu. Amoniak yang dilepaskan ke perairan menyebabkan kerusakan insang dan keracunan pada biota air. Bau tak sedap muncul dikarenakan bakteri anaerobik pada kondisi minim oksigen pada proses pengolahan tahu.

Ancaman eutrofikasi perairan

Selain itu, limbah tahu memiliki kandungan nitrogen dan fosfat yang tinggi sehingga menyebabkan eutrofikasi, yaitu pertumbuhan alga yang berlebihan. Hal ini dapat mengurangi kadar oksigen terlarut dalam air dan mengganggu kehidupan organisme air, termasuk Daphnia. Cemaran limbah tahu dapat mengganggu keseimbangan ekosistem sungai. Pertumbuhan alga yang berlebihan dapat menghambat sinar matahari masuk ke dalam air, sehingga mengganggu proses fotosintesis dan pertumbuhan organisme air lainnya. Selain itu, penurunan kadar oksigen dalam air juga dapat menyebabkan dapnia dan organisme air lainnya mati. Merunut Sirait (2020) Eutrofikasi adalah suatu peningkatan kadar nutrien seperti nitrogen dan fosfat yang dapat menyebabkan pertumbuhan alga yang berlebihan dan mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.

Uji toksisitas limbah tahu terhadap Daphnia

Salah satu parameter yang digunakan dalam penelitian toksisitas air adalah LC50 (Lethal Concentration 50). LC50 adalah konsentrasi bahan kimia yang diperlukan untuk membunuh 50% populasi organisme uji dalam waktu tertentu (Purnama dkk., 2023). Pada penelitian Christin dkk (2015) Hasil uji toksisitas akut limbah cair tahu terhadap Daphnia Magna dengan metode renewal test menunjukkan bahwa konsentrasi LC50 sebesar 6,509% atau setara dengan 65.09 ppm.

Terdapat enam variasi konsentrasi limbah cair tahu yang digunakan dalam uji dasar pada penelitian Christin dkk (2015), yaitu konsentrasi kontrol 0%, 4,2%, 6,3%, 7,4%, 9,5%, dan 10,5%. Variasi konsentrasi limbah tersebut digunakan untuk menentukan nilai LC50 limbah cair tahu pada effluent dengan metode renewal test.

Daphnia. Foto: aquaticlivefood.com.au

Berdasarkan penelitian Christin dkk (2015) dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi limbah maka semakin besar jumlah kematian pada hewan uji (Dapnia magma).

Daphnia sp dapat digunakan untuk memantau kualitas air secara keseluruhan. Populasi Daphnia bisa menurun atau mengalami perubahan dalam tingkat reproduksi dan pertumbuhan. Hal ini dapat menjadi indikasi adanya pencemaran perairan. Dengan memonitor populasi Daphnia sp, kita dapat mendapatkan informasi tentang tingkat pencemaran perairan dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjaga kualitas air. Selain itu, Daphnia juga memiliki peran dalam rantai makanan perairan. Mereka merupakan makanan bagi ikan dan organisme lainnya di perairan. Jika populasi Daphnia terganggu akibat pencemaran, hal ini dapat berdampak pada rantai makanan perairan secara keseluruhan (Wulandari & Fitria., 2016).

Penulis: Aisyah Rizki Syailina (Mahasiswa Akuakultur FIKKIA UNAIR)

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *