FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Magang Perunggasan di KuwikFarm Bangun Jiwa Entrepreneurship dan Dokter Hewan Profesional

KABAR FIKKIA – Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi melaksanakan kegiatan magang profesi di KuwikFarm. Unit peternakan unggas yang berada dibawah naungan PT Jatinom Indah, selama empat minggu (15/12/2025 s/d 09/01/2026) . Kegiatan magang ini menjadi bagian penting dari proses pembelajaran profesi yang bertujuan memperkuat kompetensi mahasiswa dalam bidang manajemen peternakan ayam petelur. Khususnya melalui perbandingan sistem kandang manual dan sistem kandang dengan otomatisasi teknologi.

Nekropsi hingga Vaksinasi Mandiri

Mahasiswa PPDH Gelombang II, Siti Nur Fadhila mengatakan selama pelaksanaan magang mahasiswa PPDH FIKKIA mendapatkan pengalaman lapangan yang komprehensif dan aplikatif. Berbagai aktivitas teknis dilakukan mulai dari nekropsi untuk evaluasi penyebab kematian ternak, diskusi kasus kesehatan unggas, hingga pelaksanaan vaksinasi mandiri. 

“Mahasiswa juga terlibat dalam pengelolaan chick in pullet hingga layer. Sehingga memahami kesinambungan manajemen ternak sejak fase pertumbuhan hingga produksi,” latanya.

Mahasiswa melakukan nekropsi untuk mengidentifikasi penyakit ayam. Sumber Istimewa

Bersama Dokter Hewan Jaga Siaga 24 Jam

Pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek klinis, tetapi juga mencakup manajemen kandang dan kesehatan hewan secara menyeluruh. Sistem pengawasan kesehatan ternak di Quick Farm didukung oleh peran dokter hewan yang siaga selama 24 jam yang dapat dihubungi melalui perangkat komunikasi.

“Hal ini memberikan gambaran nyata kepada mahasiswa mengenai pentingnya respon cepat dan monitoring berkelanjutan dalam industri peternakan unggas modern,” tuturnya.

Salah satu poin utama dalam magang ini adalah pemahaman terhadap kandang close house layer yang telah menerapkan teknologi modern. Mahasiswa mempelajari sistem pengambilan telur secara manual, pemberian pakan menggunakan hopper, serta penerapan belt-driven yang terintegrasi dengan teknologi mesin otomatis. Sistem ini kemudian dibandingkan dengan manajemen kandang yang lebih mengandalkan metode manual, 

“mahasiswa dapat mengevaluasi efektivitas, efisiensi tenaga kerja, stabilitas produksi, serta dampaknya terhadap kesejahteraan hewan,” kata Dhila.

Dalam praktik lapangan tersebut juga mahasiswa mendapatkan pembelajaran yang setara dengan kelas profesional unggas yang membahas perkembangan industri perunggasan, tantangan produksi, serta penerapan teknologi dalam skala komersial. Melalui diskusi bersama praktisi peternakan telur berpengalaman mendorong mahasiswa memperoleh wawasan bahwa meskipun otomatisasi memberikan banyak keuntungan, keahlian manual, ketelitian, dan pengalaman lapangan tetap menjadi faktor penting. Bahkan, peternak yang telah mahir sekalipun masih aktif melakukan konsultasi untuk menjaga performa produksi dan kesehatan ternak.

Penulis: Azhar Burhanuddin

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *