KABAR FIKKIA – Mahasiswa baru Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga mengikuti kegiatan magang terakhir yang digelar di Aula Kampus Mojo pada Senin (15/9/2025). Kegiatan diselenggarakan oleh KSR (Korps Sukarela) Palang Merah Indonesia (PMI) Unit FIKKIA Banyuwangi. Kegiatan mendapat dukungan positif dari dr. Noviyanti Eka Wardani, Sp.S selaku dosen pembina KSR PMI.
Pada kesempatan ini, KSR menghadirkan narasumber Reaprilyan Djijar, S.Pd. Seorang ASN sekaligus relawan PMI yang menyampaikan materi mengenai pertolongan pertama pada obstruksi jalan napas (sumbatan jalan napas akibat benda asing). Menurutnya, kondisi ini sangat berbahaya karena berpotensi menyebabkan kematian apabila tidak segera ditangani dengan tepat.
Praktik Pertolongan Pertama Saat Tersedak
Reaprilyan menjelaskan bahwa sumbatan jalan napas terbagi menjadi dua kategori, yaitu sumbatan sebagian (partial) dan sumbatan total (total obstruction). Tanda-tandanya antara lain pertukaran udara yang buruk, kesulitan bernapas, batuk tanpa suara, bibir dan kuku membiru, serta ketidakmampuan berbicara.
Materi kemudian difokuskan pada teknik penanganan, salah satunya Abdominal Thrust Heimlich Maneuver. Teknik ini biasa dilakukan sebagai pertolongan pertama kepada orang yang tersedak. Caranya dilakukan dengan berdiri atau berlutut di belakang pasien, mengepalkan salah satu tangan dengan ibu jari menghadap ke dalam, meletakkannya di atas pusar namun di bawah tulang dada, lalu menarik dengan hentakan ke arah dalam dan atas secara cepat. Tindakan ini diulangi hingga benda asing keluar dan segera hubungi tenaga medis terdekat apabila terjadi kewatdaruratan yang lebih .
“Jadi lebih paham cara pertolongan pertama pada orang tersedak. Kakak-kakaknya juga seru, baik, dan ramah. Pesan saya untuk KSR ke depan, semoga setiap materi selalu disertai praktik agar lebih mendalam,” ujar Nikmah (Kedokteran 25) saat diwawancara.

Peserta juga dikenalkan pada metode chest thrust. Dalam keadaan pasien tidak sadar, penolong diminta segera meminta bantuan. Meletakkan pasien dengan hati-hati ke lantai, lalu melakukan resusitasi jantung paru (RJP) sebanyak 30 kompresi dada tanpa mengecek nadi. RJP dilakukan dengan cara memberikan tekanan dengan cara meletakkan salah satu telapak tangan di bagian tengah dada korban.
Pada saat membuka jalan napas untuk memberikan bantuan napas, penolong dapat memeriksa mulut pasien dan mengeluarkan benda asing bila terlihat. Jika tidak ada benda asing yang tampak, RJP harus dilanjutkan hingga bantuan medis datang.
Penulis: Aqila Fawziya Mustafa
Editor: Avicena C. Nisa
