KABAR FIKKIA – Surveilans kesehatan masyarakat memiliki peran krusial dalam mendeteksi dini potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) serta menanggulangi penyakit menular di tingkat wilayah. Sebagai bagian dari praktik lapangan Mata Kuliah Surveilans Kesehatan Masyarakat (Integrasi), sekelompok mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat FIKKIA UNAIR melakukan kajian terhadap implementasi kegiatan surveilans di Puskesmas Wongsorejo Banyuwangi, Senin (12/05/2025).
Kegiatan ini bertujuan meninjau bagaimana pelaksanaan surveilans di lapangan dalam memantau penyakit seperti DBD, cikungunya, dan malaria, serta upaya pengendalian vektor nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa mengobservasi proses pengumpulan data, sistem pelaporan, serta respon terhadap laporan masyarakat terkait masalah kesehatan lingkungan seperti program jamban sehat.

Surveilans dilakukan melalui laporan kader wilayah, masyarakat, serta aplikasi SIMPULS dari pengunjung puskesmas. Seluruh data dikumpulkan menggunakan formulir digital dan dilaporkan langsung ke Dinas Kesehatan secara mingguan. Sementara itu, puskesmas bertindak sebagai pemantau awal dan pelacak kasus, dengan analisis awal dilakukan untuk menentukan perlunya pemeriksaan lanjutan seperti uji laboratorium.
Surveilans dan Sistem Respons Kesehatan Wilayah
Analisis awal tetap dilakukan di tingkat puskesmas dengan menggunakan sistem dan indikator seperti hasil pemeriksaan, kebutuhan uji laboratorium, serta observasi lapangan untuk menentukan tindak lanjut intervensi. Namun, pelaksanaan surveilans ini tidak luput dari kendala. Hambatan utama yang dihadapi adalah belum terintegrasinya pelaporan lintas program, yang menyebabkan keterlambatan dalam penanganan kasus di lapangan. Untuk mengatasi hal tersebut, Puskesmas Wongsorejo mengadakan forum mini lokakarya lintas sektor sebagai ruang diskusi dan solusi bersama.
“Mini lokakarya lintas sektor ini kami gagas sebagai ruang untuk menyatukan persepsi dan menemukan akar masalah melalui pendekatan fishbone diagram. Harapannya, solusi yang muncul bisa lebih tepat sasaran dan melibatkan semua pihak,” ujar Agus Hadi Nuryanto, Koordinator Surveilans Puskesmas Wongsorejo.
Dukungan masyarakat terhadap kegiatan surveilans juga menjadi penggerak penting. Partisipasi aktif terlihat dari keterlibatan dalam PSN 3M, kegiatan fogging mandiri, serta pelaporan dini melalui kader kesehatan lingkungan di setiap wilayah kerja.
Partisipasi Mahasiswa dan Rekomendasi
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini membuka wawasan tentang pentingnya sistem informasi kesehatan yang terintegrasi dan tanggap terhadap kondisi lapangan. Berdasarkan hasil kajian, sejumlah rekomendasi diberikan, antara lain: peningkatan kapasitas kader dalam pelaporan digital, penyederhanaan alur pelaporan, serta perlunya pelatihan tenaga kesehatan dalam analisis data sederhana untuk pengambilan keputusan berbasis bukti. Disarankan pula agar diseminasi informasi kepada masyarakat dilakukan secara sistematis melalui media sosial lokal, pamflet, dan radio komunitas, agar cakupan edukasi lebih luas dan inklusif.
Dengan terjun langsung ke lapangan, mahasiswa tidak hanya belajar secara teknis, tetapi juga memahami dinamika implementasi kebijakan kesehatan masyarakat secara nyata. Harapannya, kajian ini dapat menjadi masukan berharga bagi puskesmas dan pemerintah daerah dalam memperkuat sistem surveilans sebagai garda terdepan dalam perlindungan kesehatan masyarakat.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-3 Good Health and Well-Being
Penulis: Jhonatan Rameldo
Editor: Avicena C. Nisa
