KABAR FIKKIA – Universiti Teknologi MARA (UiTM) Perlis kembali menyelenggarakan konferensi internasional i-IDeA™ 2025: The 6th International Science, Technology and Engineering Conference (ISTEC) pada 3–4 September 2025 secara luring. Mengusung tema “Integrating Knowledge for a Brighter Future,” ISTEC 2025 menjadi wadah penting bagi para peneliti untuk menampilkan karya inovatif di bidang Material Science, Life Science, Environment, dan Engineering.
Dalam ajang bergengsi ini, dua mahasiswa dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) turut berpartisipasi dan membawa harum nama almamater di kancah internasional. Mereka adalah Ryan Adi Taufiqurrahman (KH 23) dan Nazwa Meiliza (KH 22).
Inovasi Konservasi Penyu: Intan Room dan Sari Box
Ryan mempresentasikan karya berjudul “Evaluation of Intan Room: A Revolutionary Artificial Incubation Device to Modify Sex Ratio in Olive Ridley Sea Turtle.” Inovasi ini merupakan pengembangan dari Intan Box yang sebelumnya hanya mampu mengatur suhu dan kelembapan untuk 1.000 telur. Kini, Intan Room hadir dengan kapasitas hingga 15.000 telur serta kontrol lingkungan inkubasi yang lebih optimal.
Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi antara FIKKIA UNAIR dan Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF), dengan pendanaan dari CSR Bank BCA. Fokus utamanya adalah pengendalian suhu inkubasi yang berperan besar dalam penentuan jenis kelamin tukik (Temperature-Dependent Sex Determination/TSD). Keseimbangan populasi jantan dan betina menjadi sangat krusial untuk keberlanjutan spesies penyu yang terancam punah.
Sementara itu, Nazwa Meiliza mempresentasikan dua riset sekaligus. Pertama, “Influence of Nest Temperature and Incubation Time on Hatchling Size and Morphometry for Olive Ridley Sea Turtle Eggs in Banyuwangi Coastal Areas,” dan kedua, inovasi “Sari Box.”
Sari Box adalah alat inovatif untuk mempercepat penyerapan yolk telur penyu hanya dalam waktu 3–4 jam. Proses ini sangat penting untuk menentukan bentuk anatomi, fisiologi, dan tingkat kelangsungan hidup tukik setelah menetas. Inovasi ini menjadi solusi atas tantangan pemanasan global dan predasi tinggi yang mengancam keberhasilan inkubasi alami di alam bebas.
Raih Penghargaan dan Bersaing di Level Global
Prestasi membanggakan diraih oleh Ryan, yang sukses meraih Best Presenter Award, menjadi satu-satunya mahasiswa program sarjana (S1) yang mampu bersaing dengan mayoritas peserta dari jenjang magister dan doktoral (S2 dan S3).
“Saya tidak menyangka bisa meraih penghargaan ini. Rasanya luar biasa bisa mewakili UNAIR dan menunjukkan bahwa mahasiswa S1 juga bisa berprestasi di tingkat internasional,” ungkap Ryan.
Sementara itu, Nazwa juga mengungkapkan kebanggaannya bisa ikut serta dalam forum ilmiah internasional ini. Ia menilai ISTEC 2025 sebagai pengalaman berharga untuk mengembangkan kapasitas akademik, memperluas wawasan, dan membangun jejaring riset global.
Partisipasi mahasiswa FIKKIA dalam ISTEC 2025 menegaskan posisi UNAIR sebagai institusi pendidikan tinggi dengan kualitas riset yang kompetitif secara global. Kegiatan ini tidak hanya menjadi panggung untuk unjuk inovasi, tetapi juga sebagai platform kolaboratif bagi riset konservasi dan pelestarian satwa langka di tengah perubahan iklim global.
UNAIR terus mendorong mahasiswa untuk aktif dalam forum ilmiah internasional sebagai bagian dari misi globalisasi kampus serta kontribusi nyata dalam menyelesaikan isu-isu lingkungan dan keberlanjutan.
Penulis: Ajeng Aprisa Simorangkir
Editor: Avicena C. Nisa
