FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Mahasiswa PPDH FIKKIA Bahas Leptospirosis Bersama BRIN

KABAR FIKKIA – Selama musim penghujan, tidak hanya penyakit demam berdarah, flu, dan gatal-gatal yang mengalami peningkatan kasus, namun penyakit leptospirosis juga berpotensi meningkat. Senin, (09/12/24) Peneliti Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN, Farida Dwi Handayani mengulas seputar leptospirosis bersama 15 mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) FIKKIA di laboratorium terpadu. Distase mikrobiologi, mahasiswa mengenal lebih lanjut identifikasi dan diagnosa leptospirosis.

Mahasiswa PPDH stase mikrobiologi. Foto: Penulis

Penularan Penyakit Leptospirosis

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang ditularkan dari hewan ke manusia, maupun sebaliknya (zoonosis). Leptospirosis dapat ditularkan melalui urine tikus yang dapat masuk melalui kulit yang terbuka, cipratan yang masuk ke mata, hingga makanan yang tercemar. Musim penghujan menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan penyebaran urine tikus melalui genangan air, atau lumpur.

“Bakteri Leptospira itu tahan di tanah selama 6 bulan kalau tidak kena paparan matahari langsung. Tapi bakteri ini sangat pintar, dia akan masuk ke dalam tanah untuk mengindari paparan sinar matahari” imbuhnya.

Meski demikian kasus leptospirosis tidak hanya ditularkan oleh tikus, melainkan semua hewan yang terkontaminasi bakteri leptospira Sp.

Leptospirosis pada tikus tidak menimbulkan gejala karena tikus merupakan reservoir alami dari bakteri leptospira. Sebagai reservoir, tikus memiliki hubungan evolusi yang stabil. Sehingga tubuh tikus mampu menoleransi keberadaan bakteri tanpa memicu respons imun yang merugikan.

“Leptospira pada tikus senang hidup di ginjal, khususnya di glomerulus, tanpa menyebabkan infeksi sistemik. Bakteri ini kemudian dikeluarkan melalui urin tanpa mengganggu fungsi tubuh tikus.” jelasnya.

Waspada Gejala Dan Diagnosa Lebih Lanjut

Gejala penyakit Leptospira pada manusia mirip dengan penyakit demam akut lain seperti malaria, dan dengue sehingga seringkali dianggap sebagai penyakit lain. Bu Farida menekankan betapa pentingnya para medis untuk mengenali penyakit leptospira karena jika tidak ditangani secara cepat dan tepat dapat menyebabkan kematian. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi penyakit Leptospirosis yaitu dengan melakukan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR), Rapid Diagnostic Test (RDT), Microscopic Agglutination Test (MAT).

Diagnosis leptospirosis menggunakan pemeriksaan PCR. Foto: Penulis

“Kami juga menghadapi berbagai tantangan dalam mendiagnosis penyakit ini (Leptospirosis). Kemampuan laboratorium di beberapa daerah itu seringkali tidak memadai dalam mendeteksi mikroorganisme patogen. Kadang-kadang juga kebutuhan dasar dan peralatan tidak memadai seperti cold chain, listrik, dan personil laboran yang kurang terlatih” jelasnya.

Perihal pencegahan, Bu Farida menjelaskan bahwa hal yang perlu dijaga adalah kebersihan lingkungan. Beliau berpesan kepada mahasiswa bahwa sebagai calon dokter hewan, mereka harus tau bagaimana perjalanan penyakitnya supaya kita bisa mencegah penyakit itu.

“Saya senang bisa dipertemukan dengan kalian, karena dengan begini kita bisa melakukan banyak kerjasama dan bisa meng-update pengetahuan kita terkait penyakit ini” ujar Bu Farida.

Penulis: Fania Aulia Rahma

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *