KABAR FIKKIA – Mahasiswa koasistensi Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) satwa liar di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Kegiatan yang berlangsung selama 17 hari pada (22/12/2025) hingga (09/01/2026) tersebut menjadi bagian dari program unggulan medik konservasi satwa liar di FIKKIA UNAIR.
Dua dokter hewan muda FIKKIA Gelombang II mendapatkan kesempatan untuk terlibat langsung dalam berbagai aktivitas konservasi satwa liar. Mulai dari perawatan, pemeriksaan klinis, hingga pengenalan prinsip kesejahteraan satwa dalam kerangka one health. Kegiatan terbagi menjadi dua area utama yakni kandang kukang dan klinik satwa.

Belajar Menjadi Keeper Satwa Liar
Deborah Michelle Imanuella (PPDH II) mengungkapkan rasa syukur dan antusiasme bisa mengikuti PKL satwa liar di YIARI. Selama kegiatan, dirinya banyak belajar menjadi keeper kukang, mulai dari menyiapkan dan memberikan pakan sesuai kebutuhan nutrisi, membuat enrichment, hingga membersihkan kandang. Menurutnya, peran keeper tidak hanya berkaitan dengan perawatan satwa, tetapi juga mempelajari perilaku alami kukang serta menjaga jarak aman untuk menghindari human imprinting.
Kukang merupakan hewan yang memiliki racun. Racun tersebut bernama brachial gland exudates yang berasal dari kelenjar brakialis dan kelenjar air liur. Luka akibat gigitan kukang dapat terasa sangat menyakitkan, dengan masa penyembuhan yang lambat, dapat menyebabkan pembengkakan, hilangnya rasa lokal (rasa kebas), dan bernanah. Pada kasus lain, luka gigitan meninggalkan bekas koreng hitam di atas kulit yang berwarna kehijauan. Pada luka tersebut, nekrosis menyebar dari posisi sentral, diasumsikan sebagai titik bekas gigitan dan masuknya racun.
Selain di kandang, Deborah juga mempelajari medik konservasi satwa liar di klinik YIARI. Kegiatannya mencakup pemeriksaan rutin feses, pemeriksaan geriatric pada kukang usia lanjut, treatment pagi, hingga melakukan anestesi menggunakan tulup.
“PKL ini membuka wawasanku bahwa konservasi satwa liar harus meleburkan keterampilan merawat hewan dengan tetap menjaga keseimbangan antara kesehatan satwa, manusia, dan lingkungan,” ungkap Deborah.
Ia menilai pengalaman tersebut semakin memperkuat pemahaman tentang pentingnya peran dokter hewan dalam konservasi satwa liar.
Konservasi Bukan Sekadar Pengobatan
Mahasiswa koasistensi lainnya, Cici Lestari (PPDH II) juga menyampaikan bahwa PKL di YIARI menjadi kesempatan berharga untuk terlibat langsung dalam perawatan kukang sebagai satwa dilindungi. Selama 16 hari kegiatan, ia belajar menjadi keeper kukang di kandang dan ikut terlibat dalam aktivitas medis di klinik. Di kandang, Cici mempelajari proses penyediaan pakan, enrichment, serta kebersihan kandang. Ia menekankan bahwa pemberian enrichment memiliki peran penting untuk menstimulasi perilaku alami kukang guna menjaga kesejahteraan mental dan fisik satwa.
Pada bagian klinik, Cici mendapatkan pengalaman dalam pemeriksaan rutin, perawatan luka, serta belajar teknik dasar medis juga di hewan peliharaan. Seperti menjahit dan melakukan skin scraping. Menurutnya, penanganan satwa liar maupun hewan peliharaan juga membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kehati-hatian tinggi.

“PKL di YIARI memberikan gambaran nyata bahwa peran dokter hewan dalam konservasi tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan, pemantauan kesehatan jangka panjang, serta dukungan dalam rehabilitasi dan pelepasliaran satwa,” ujar Cici.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa FIKKIA UNAIR memperoleh pengalaman langsung mengenai implementasi medik konservasi di lapangan. Kegiatan PKL diharapkan dapat membangun kompetensi dokter hewan masa depan yang memiliki kepekaan terhadap kesejahteraan satwa liar dan keberlanjutan ekosistem. Program ini juga menjadi bagian dari komitmen FIKKIA UNAIR dalam mendukung pendidikan profesional yang responsif terhadap isu konservasi dan lingkungan.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Avicena C. Nisa
