FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Mahasiswa PPDH FIKKIA UNAIR Dalami Kasus Othematoma dan Calicivirus

KABAR FIKKIA – Momentum hari libur tidak menyurutkan semangat dokter hewan muda dari Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) untuk terus menimba ilmu. Hal tersebut terlihat dari kuliah tamu stase klinik veteriner Kelompok I Gelombang III PPDH FIKKIA pada Senin (16/2/2026) di Ruang Sidang Kampus Giri. Mereka mendapatkan penjelasan mengenai  othematoma, calici virus, dan studi kasus di klinik hewan dari Drh. Gahastanira Permata Solikhah, M.KKK.

Apa itu Othematoma

Drh. Gahastanira Permata Solikhah, M.KKK. mengatakan Aural hematoma atau biasa disebut othematoma merupakan pembengkakan telinga yang terjadi akibat pemecahan pembuluh darah daun telinga. Akibatnya terjadi penumpukan darah antara kulit dan kartilago daun telinga. Kasus tersebut sering ditemui pada kucing dan anjing akibat trauma menggaruk telinga yang iritasi hingga muncul othematoma. 

“Selain trauma, faktor yang dapat menyebabkan othematoma juga dapat disebabkan oleh tungau telinga, infeksi bakteri, jamur, virus, maupun alergi,” kata owner Cahaya Petshop Mojokerto dan Bojonegoro itu.

Dokter hewan dapat menangani permasalahan tersebut melalui prosedur bedah. Tata laksana berupa auricular inciso dengan anestesi menjadi terapi paling efektif. Tingkat kekambuhan juga semakin minim dengan menambah lokasi insisi di sekitar lokasi. Hal itu dilakukan untuk memperlambat pengeringan cepat yang berakibat pada penumpukan darah kembali. Dokter hewan juga dapat memberikan jahitan tambahan dengan kancing maupun potongan selang infus dalam menjaga struktur telinga dan langkah meminimalkan kambuhnya othematoma.

Infeksi Calici Virus

Salah satu penyakit infeksius menular akibat virus yang sering menginfeksi kucing adalah calicivirus. Penyakit itu disebabkan oleh virus RNA non enveloped dari jenis Feline Calicivirus dengan gejala gangguan respirasi atas dan ulser mulut. Tanda klinis lain yang muncul yaitu ocular, nasal discharge, demam, anoreksia, hipersalivasi, ulser lidah-palatum, konjungtivitis ringan-sedang, dan limping syndrome. Penularan dapat terjadi akibat kontak langsung dengan kucing terinfeksi, sekresi cairan dengan permukaan kulit, dan kucing carier tanpa gejala.

“Virus masuk lalu bereplikasi pada bagian epitel orofaringeal dan tonsil. Mereka merusak epitel mulut maupun pernafasan hingga menyebabkan ulserasi oral,” jelas alumni FKH UNAIR itu.

Penanganan dapat dilakukan dengan melaksanakan terapi suportif untuk membantu kondisi dan mengurangi tanda klinis yang muncul pada pasien. Langkah pertama yaitu mengisolasi dan memisahkan pasien dengan kucing lain. Kedua berikan terapi suportif seperti terapi cairan, pemberian nutrisi tinggi palatabilitas, pemberian antibiotik untuk mencegah penyakit sekunder, dan pemberian analgesik untuk ulser oral. Karena calici juga menyerang pernafasan, maka berikan juga nebulisasi. Lebih lanjut, calici virus dapat dicegah penularannya hingga 70% dengan pemberian dan booster vaksin inti FVRCP secara rutin. Pemilik juga harus menjaga kebersihan area kandang kucing melalui peningkatan biosekuriti dan desinfeksi rutin.

Penulis: Azhar Burhanuddin

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *