BERITA SIKIA – Kasus penyalahgunaan narkoba pada remaja menjadi masalah kompleks yang mendapat perhatian khusus banyak pihak. BNN Republik Indonesia menunjukkan terjadi peningkatan 11,1 % kasus pada 2022. Meningkat sebanyak 766 kasus tahun 2021, menjadi 851 kasus di tahun 2022. Laporan Indonesia Drugs Report tahun 2022 menunjukkan terjadi trend peningkatan keterpaparan narkoba pada kelompok remaja usia 15-24 tahun. Kalangan remaja yang terpapar narkotika berpotensi besar menjadi pecandu dan pengguna jangka panjang. Hal tersebut dapat terjadi karena remaja belum menyadari seberapa besar dampak negatif narkoba bagi masa depan.
Keterbatasan pengetahuan tentang narkoba bagi remaja itulah yang mendorong mahasiswa Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam Universitas Airlangga untuk berfokus pada sosialisasi pencegahan penyalahgunaan narkoba dikalangan remaja. sosialisasi merupakan aktualisasi kegiatan Projek Pembelajaran Dasar Bersama yang diinisiasi 0leh 10 mahasiswa. Kegiatan sosialisasi edukasi pencegahan narkoba dikalangan remaja sukses dilaksanakan Jumat, (12/05/2023) pada 30 siswa perwakilan kelas X dan XI di SMA Negeri 1 Rogojampi Taruna Budaya sebagai bentuk implementasi SDG’s poin 3 yaitu kehidupan sehat dan sejahtera.
Jenis dan dampak penyalahgunaan narkoba
Mahasiswa SIKIA menjelaskan bagaimana penyalahgunaan narkoba sebenarnya dekat dengan lingkungan sosial. Jenis narkoba dapat dijumpai dalam bentuk rokok, lem aibon, minuman keras (alcohol), ganja, ekstasi, sabu, jamur, penyalahgunaan obat, hingga penggunaan pil koplo. Penyalahgunaan narkoba memberi dampak negatif untuk kesehatan seperti halusinogen (halusinasi tingkat tinggi bagi penggunanya), stimulant (organ tubuh bekerja lebih cepat), depresan (penekanan sistem saraf pusat), hingga yang paling bahaya yakni dampak adiktif (ketergantungan terhadap narkoba). Belum lagi efek sosial yang berlaku pada pengguna, seperti dikucilkan oleh orang lingkungan disekitarnya.
Pemanfaatan VRADA (Virtual Reality Anti Drug Addict)
VRADA memanfaatkan teknologi Virtual Reality, teknologi yang membuat pengguna berinteraksi dengan lingkungan yang disimulasikan oleh komputer dalam dunia maya. Siswa diajak merasakan bagaimana menjalani kehidupan yang rentan disusupi narkoba didalamnya. Perundungan/ bulliying berlebihan menjadi awal bagaimana siswa terkena gangguan mental secara psikis. Kondisi ini seringkali pengaruh buruk dari narkoba mudah masuk, baik datang dari teman atau lingkungan sosial sekitar. VRADA mengilustrasikan dampak negatif dari penggunaan narkoba yang dialami oleh anak ketika sedang terpuruk seperti kecanduan, rasa ingin bermalas-malasan, merusak organ tubuh, hingga diilustrasikan hukuman pidana atau penjara termasuk pasal-pasal yang berkaitan dengan larangan penggunaan narkoba.
Selain itu, tim pelaksana juga mengilustrasikan tentang kehidupan yang lebih berkualitas tanpa adanya pengaruh dari narkoba, seperti dapat meraih prestasi tinggi hingga kondisi kesehatan yang baik bagi tubuh manusia.
Reza Adrio Farezi mahasiswa kedokteran hewan SIKIA UNAIR angkatan 2022, mencetuskan ide dan konsep VRADA sebagai alat simulasi dampak penyalahgunaan narkoba. Mereka menjelaskan VRADA dikembangkan dengan teknologi aplikasi video game 3D desain, sehingga memerlukan VR untuk memainkannya. Fenomena dan pengambilan latar sekaligus jalan cerita VRADA didesain dan dikembangkan sendiri oleh mahasiswa SIKIA UNAIR.
Kegiatan sosialisasi pencegahan narkoba yang dilakukan mahasiswa SIKIA UNAIR juga selaras dengan program sekolah SMA Negeri 1 Rogojampi Taruna Budaya menjadi Sekolah Ramah Anak. Program Sekolah Rama anak berfokus pada pengembangan peran sebagai fasilitator bagi siswa untuk menangani berbagai masalah kompleks di sekolah, salah satunya pencegahan narkoba.
Author : Ahmad Danang Sagita
Editor: Acn
