KABAR FIKKIA – Prodi Akuakultur FIKKIA kembali mengadakan kuliah tamu pada Selasa (07/05/2024). Kegiatan ini dilaksanakan di ruang G.102 kampus Giri, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga Banyuwangi. Kuliah tamu kali ini membahas tentang formulasi pakan ikan dan udang. Topik ini dibawakan oleh Senior Manager Research and Validation eFishery Priyandaru Agung E. T., S. Pi., M. P.
Dalam kuliah tamu yang dihadiri mahasiswa angkatan 2021 ini, Ndaru menjelaskan betapa krusialnya pakan dalam kegiatan budidaya. Kuliah tamu ini sebagai pengganti mata kuliah Teknologi Pakan Ikan.
“Pakan merupakan cost terbesar dalam budidaya yakni sekitar 60-70%. Dengan penggunaan pakan yang bermutu, budidaya akan meningkat”, ujarnya.
Dalam kegiatan budidaya, kecukupan nutrisi ikan dan udang sangat bergantung pada jumlah dan kualitas dari bahan pakan, formulasi, proses pembuatan, kondisi kemasan dan manajemen pakan yang digunakan.
Pakan alami dan buatan untuk budidaya
Mikroalga, plankton biasanya digunakan sebagai pakan alami pada tahap pembenihan. Kelebihan pakan alami adalah biaya lebih murah, mudah dicerna, tidak menyebabkan penurunan kualitas air. Kekurangan dari pakan alami adalah membutuhkan waktu yang lama untuk persiapan dan risiko penularan penyakit tinggi.
Pakan yang dibuat manusia yang dibuat sesuai dengan kebutuhan serta formulasi tertentu. Kelebihan dari pakan buatan adalah kandungan nutrisi dapat disesuaikan.
Faktor kunci performa pakan pada budidaya
Formulasi pakan, manufaktur, transportasi, penyimpanan, feeding regime, dan sistem adalah faktor kunci performa budidaya. Formulasi pakan yang ideal mengandung komponen nutrisi sesuai dengan kebutuhan spesies komoditas. Proses pengolahan pakan dari bahan mentah menjadi siap konsumsi harus dilakukan sesuai standar prosedur dan steril.
Proses transportasi dan penyimpanan pakan dapat mempengaruhi struktur dan jika tidak steril akan membawa penyakit. Kebiasaan makan organisme ikan dan udang juga mempengaruhi performa budidaya. Ikan akan langsung menelan pakan. Sedangkan udang akan menggerus terlebih dahulu menggunakan kaki-kakinya, kemudian memakannya. Kunci performa pakan terakhir adalah sistem budidaya. Sistem yang berjalan baik akan menunjang performa pakan yang dikonsumsi
Tanya jawab interaktif bersama mahasiswa
Sebenarnya pemerintah telah mengatur penanganan pemberian pada ikan yang sakit. Melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 4 Tahun 2023 tentang CPPIB (Cara Pemberian Pakan yang Baik), pembudidaya diharap melakukan pengelolaan pakan. Namun, dalam praktik budidaya masih ada saja yang mengabaikannya.
“Masih banyak para pembudidaya yang tidak mengaplikasikan Permen tersebut, seperti menggunakan pakan yang tidak bermerk, dan itu alasan mengapa penelitian yang membahas sistem penerimaan masyarakat terhadap CPPIB masih diteruskan hingga saat ini”, jelasya.
“Manajemen pakan pada ikan sakit, tentu perlu mengidentifikasi penyakitnya. Contohnya udang yang terserang White Feces Disease (Penyakit Berak Putih) biasanya frekuensi pakannya dikurangi dan ditambah dengan imunostimulan, sama halnya dengan penyakit lain yang menyerang organ dalam. Lain halnya dengan penyakit yang menyerang organ luar seperti Aeromonas, maka dapat mengatur kualitas air, seperti pergantian air 50%”, pungkasnya.
Penulis: Ijl Taqiy Christya Dewanta Arthur Archiles
Editor: Avicena C. Nisa
