KABAR FIKKIA – Dokter Trilas Sardjito telah menorehkan jejak panjang sebagai dosen di Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR). Sejak menerima surat tugas pada 2014 sebagai pengajar mata kuliah Reproduksi—khususnya Fisiologi dan Teknologi Produksi (FISTEKPRO)—ia konsisten berbagi ilmu, terutama dalam teknik inseminasi buatan (IB) di Program Studi Kedokteran Hewan.
FIKKIA UNAIR sendiri sempat mengalami beberapa perubahan nama, mulai dari Pendidikan Diluar Domisili (PDD), Program Studi Diluar Kampus Utama (PSDKU), SIKIA, hingga kini menjadi FIKKIA. Di tengah dinamika tersebut, Dokter Trilas tetap setia mengabdi, sekaligus mengembangkan metode pembelajaran demi meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang reproduksi hewan.
Semangat Manusya Mriga Satwa Sewaka
Semangat pengabdian Dokter Trilas berakar dari nilai luhur profesi dokter hewan, sebagaimana termaktub dalam motto “manusya mriga satwa sewaka”—mengabdi untuk kesejahteraan manusia melalui dunia hewan. Ia menekankan pentingnya keberadaan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba—yang dikenal sebagai “rojo koyo” oleh peternak—karena menjadi sumber kekayaan dan simpanan ekonomi masyarakat pedesaan.
Menurutnya, inseminasi buatan bukan sekadar alternatif dari kawin alam, tetapi merupakan teknologi reproduksi yang mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.
“Dengan IB, dokter hewan dapat melakukan gertak birahi, superovulasi, kontrol involusi uterus, hingga seleksi jenis kelamin ternak. Ini mendukung peningkatan kualitas dan kuantitas produksi, sekaligus menekan biaya pemeliharaan,” jelasnya.
Meski telah memasuki masa purnabakti, Dokter Trilas tetap aktif mengajar dan berbagi ilmu. Ia meyakini bahwa pensiun bukan akhir dari pengabdian.
“Selama masih sehat, saya akan terus berbagi ilmu sebagai bentuk rasa syukur,” ujarnya.
Kebahagiaan terbesar baginya adalah melihat peternak berhasil meningkatkan produksi ternaknya berkat ilmu yang diajarkannya.
Namun, perjalanan itu tidak selalu mudah. Tantangan terbesarnya adalah saat masyarakat belum sepenuhnya menerima teknologi seperti IB. Dengan pendekatan sabar dan edukatif, ia perlahan membuka pemahaman masyarakat tentang manfaat teknologi reproduksi.
Dokter Trilas juga menekankan pentingnya kesiapan fisik dan mental bagi dokter hewan, mengingat medan kerja di Indonesia yang sangat beragam dan menantang.
Misi Pendidikan dan Harapan
Dalam proses pengajaran, ia selalu menargetkan agar mahasiswa tidak hanya memahami teori IB, tetapi juga mampu menerapkannya secara tepat di lapangan. Pesannya tegas:
“Jangan asal melakukan IB. Terapkan prinsip reproduksi yang benar agar tingkat keberhasilan optimal.”
Ia juga mengapresiasi kemajuan Program Studi Kedokteran Hewan di FIKKIA, dan berharap mahasiswa terus berpikir kritis, logis, serta memiliki kemampuan analisis yang tajam demi peningkatan kualitas pendidikan dan penelitian.
Dedikasi Dokter Trilas Sardjito bukan hanya mencetak lulusan berkualitas, tetapi juga meninggalkan warisan keilmuan yang memperkuat pengembangan teknologi reproduksi hewan di Indonesia. Ilmu yang ia tanamkan terus memberi dampak nyata bagi dunia pendidikan dan peternakan.
Penulis: Ajeng Aprisa Simorangkir
Editor: Avicena C. Nisa
