KABAR FIKKIA – Tak banyak yang tahu, Banyuwangi memiliki salah satu jenis domba unggulan yang memiliki nilai seni tinggi. Ialah Domba Sopas menjadi nama yang sering terdengar dari peternak. Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga Banyuwangi turut serta melestarikan dan memperkenalkan Domba Sopas melalui keikutsertaan aktif melalui berbagai kegiatan kontes kambing. Salah satunya melalui 15 mahasiswa Kedokteran Hewan yang menjadi relawan aktif dalam Kontes Kambing dan Domba Banyuwangi 2024 pada Sabtu (3/8/2024) sampai Minggu (4/8/2024). Kegiatan yang dihelat oleh Dinas Peternakan dan Pangan beserta Paguyuban Peternak seBanyuwangi itu juga mempercayakan salah satu dosen Kedokteran Hewan, Amung Logam Saputro, drh., M.Si. menjadi salah satu dewan juri.

Pak Wahono sang legenda hidup domba sopas menarik cerita sejarah panjang breeding pembibitan Sopas yang dimulai tahun 1984 dari UPT Pembibitan Domba dan Hijauan Jember. Lembaga tersebut melakukan budidaya domba dari persilangan domba suffolk dan gibas melalui 1 jantan dan 4 betina yang dibagikan kepada beberapa peternak. Masyarakat Kalibaru dan Glenmore yang berlokasi di sekitar lembaga itu juga turut mengembangkan jenis domba sufas (sufok dan gibas).

“Hingga akhirnya masyarakat lebih mudah menyebutkan domba sufas nama dengan Domba Sopas.” jelasnya.
Kini Banyuwangi memiliki paguyuban peternak domba sopas dengan beranggotakan peternak dari berbagai kecamatan. Domba sopas telah beberapa kali mengalami mutasi genetik yang telah disepakati. Sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama paguyuban menindaklanjuti sertifikasi galur baru dengan pemisahan rumpun domba melalui SK Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
“Semoga Pemerintah Banyuwangi juga mendukung terkait hal itu karena menjadi icon dari banyuwangi dan masyarakat jatim pada umumnya,” kata Pak Wahono.
Nilai seni domba sopas
Nilai ekonomis domba sopas tak hanya dilihat dari kualitas dagingnya saja yang padat. Terkandung nilai seni dari estetika yang dapat kita tengok secara visual. Pengawas Juri Kontes Kambing dan Domba Banyuwangi 2024, Andi Geol mengatakan perbedaan dari domba lain adalah bentuk pelipis dan mata “Mata Kodok” yang menonjol. Mata menonjol Bulu kepala tidak ada, warna kulit cenderung merah muda hingga merah tua Unik.
ekor memiliki ujung yang runcing kecil dan tidak ditumbuhi bulu seperti seekor tikus. Kriteria mulai dari kepala telinga mata, tanduk yang tidak tumbuh, kaki, ekor testis untuk jantan, keserasian
“Bicara seni pasti keindahan tanpa mengabaikan ciri fenotip domba sopas yang telah disepakati,” sebutnya.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Avicena C. Nisa
