FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Mengulas Fakta Penyakit Mulut dan Kuku, Peternak Tidak Perlu Panik

Memasuki pertengahan tahun 2022, peternak Indonesia dikejutkan oleh munculnya wabah penyakit yang dikenal dengan nama Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Di dunia internasional penyakit yang menyerang hewan berkuku ini disebut dengan Foot and Mouth Disease (FMD).  Padahal, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) telah menyatakan bahwa Indonesia telah bebas PMK pada tahun 1990. Berdasarkan data statistik BPS 2022 Populasi sapi potong di Kabupaten Banyuwangi sebesar 133.259 ekor dengan produksi daging hampir mencapai 3.700 Ton menjadikan Bayuwangi sebagai kabupaten penghasil produk ternak di Jawa Timur.

Fakta ini tentunya membuat resah peternak akan kesehatan dan kesejahteraan hewannya, mengingat PMK sering menjangkit hewan ternak berkuku. Meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa PMK dapat menjangkit hewan liar berkuku seperti gajah dan rusa.

Sebenarnya apa penyakit kuku dan mulut, serta bagaimana menanggulanginya. Menanggapi keresahan yang terjadi, Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Unair Banyuwangi  mengundang  Ratih Novita Praja, drh., M.Si. dan  Prima Ayu Wibawati, drh., M.Si dari Program Studi Kedokteran Hewan untuk mengulas lebih lanjut mengenai penyakit mulut dan kuku.

Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit menyerang hewan-hewan ternak yang memiliki kaki berkuku belah seperti kambing, kerbau, sapi, babi, kuda, atau hewan liar seperti gajah dan rusa. Ratih yang menggeluti bidang mikrobiologi veteriner menjelaskan penyakit Mulut dan Kuku (PMK) disebabkan oleh virus dalam klasifikasi family Picornaviridae dari genus Apthovirus.

Ciri-ciri hewan yang terinfeksi virus ini setelah masa inkubasi yaitu timbul gejala fisik munculnya gelembung air menyerupai cacar yang melepuh pada bagian gusi, bibir, mukosa lidah dan pipi, dan terjadi pada teracak kaki yang meyebabkan hewan mengalami demam 41o C, hilang nafsu makan, hewan tidak bisa berdiri, dan sebagian menyebabkan lepuhan pada puting.

Penyakit PMK tidak bersifat Zoonosis yang artinya tidak menular dari hewan ke manusia. Kecuali apabila dilakukan pemerahan susu dan susu tersebut terkandung banyak virus dan diminum secara mentah. Hal ini kemungkinan dapat menularkan virus ke manusia dengan gejala yang berbeda dengan hewan, seperti Diare. Oleh karena itu susu harus dipanaskan 80-90o C untuk menghilangkan pathogen dan memperpanjang masa simpan susu.

Prima menambahkan, daging ternak yang terkena PMK tidak terjadi perubahan fisik. Perubahan hanya terjadi pada bagian mulut dan tercak kaki yang terdapat lepuhan. Bagian yang terdapat lepuhan, jeroan, dan tulang dibuang, lalu ditimbun atau dikubur agar tidak dimakan oleh hewan lain karena akan berpotensi menularkan PMK. Pemasakan dagingnya harus dilakukan dengan benar dan sempurna. Sempurna disini berarti dimasak secara matang merata hingga ke bagian dalam daging. “Jadi, tidak boleh direbus setengah matang” katanya.

Lalu, bagaimana jika ditemukan hewan ternak yang terjangkit PMK di kandang? Apa yang harus dilakukan? Prima yang berfokus dibidang Kesehatan Masyarakat Veteriner mengarahkan bahwa peternak harus melapor terlebih dahulu kepada kelompok ternaknya, untuk kemudian tindaklanjuti oleh pemerintah melalui Dinas Pertanian.

Kemudian melakukan pemisahan hewan sehat dan hewan yang sakit di kandang terpisah. “Peternak sebaiknya melakukan isolasi kandang, menjaga kebersihan kandang dengan sterilisasi menggunakan formalin 2% atau pengenceran kapur berkadar 2% atau bisa dengan clorin untuk membunuh virus yang ada diluar tubuh hewan seperti lantai, tembok, tempat pakan. Serta tidak lupa menjaga kebersihan diri, karena penularan bisa melalui peternak yang kontak langsung dengan hewan sakit ke hewan sehat.” Kata Prima

Pencegahan penularan PMK dilakukan dengan cara vaksinasi masal berdasarkan tipe virus PMK yang ditemukan. Apabila dalam kasus ditemukan virus yang baru, maka pemerintah akan berupaya membuat vaksin baru berdasarkan jenis virus baru tersebut agar hasil vaksinasi efektif, berhasil, dan tepat sasaran.

Berita Terkait : Kasus PMK Marak Kembali, Apa Dampak bagi Perekonomian Kita?

Akhir acara, Ratih menjelaskan bahwa peternak tidak perlu panik. Bahwa PMK adalah penyakit yang sembuh dengan sendirinya setelah 14 hari, peternak tidak perlu terburu-buru menyembelih hewan yang terjangkit. Hewan sakit yang disembelih meningkatkan resiko penyebaran virus PMK dan penyakit lain bagi hewan maupun manusia. Bagian tubuh hewan yang terinfeksi mengandung virus yang ikut terbawa apabila dipindahkan. Daging dan susunya akan bercampur dengan daging hewan sehat lainnya, ini akan sulit dibedakan.

Kunci pencegahan adalah dengan menjaga kebersihan diri dan kandang, mengisolasi hewan sakit, sigap melapor, dan mengikuti program vaksinasi PMK dari pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *