Hak asasi manusia (HAM) sering menjadi pusat perhatian dalam diskusi global mengenai keadilan, kebebasan, dan martabat. Tiap tahun, Hari HAM Sedunia mengangkat seruan pemimpin global dalam mewujudkan kehidupan manusia sebagai makhluk hidup yang selaras serta berkelanjutan. Di planet bumi juga memiliki makhluk hidup lain yang juga perlu diperhatikan. Salah satunya adalah hewan dengan peran penting dalam mendampingi hidup manusia, baik peliharaan maupun ternak. Maka, hak asasi hewan juga penting untuk diperhatikan karena hewan adalah makhluk hidup yang mampu merasakan sakit, takut, dan stres. Meskipun tidak memiliki kapasitas moral seperti manusia, hewan tetap berhak atas perlakuan yang manusiawi dan bebas dari eksploitasi yang tidak perlu.
Prinsip utama hak asasi hewan ada pada prinsip animal welfare yang mencakup hak untuk hidup tanpa penyiksaan, eksploitasi, atau penderitaan yang tidak perlu. Hak ini sejalan dengan hak asasi manusia terutama etika dan keberlanjutan. Perlakuan manusiawi terhadap hewan ternak tidak hanya meningkatkan kesejahteraan hewan tetapi juga berkontribusi pada kesehatan manusia melalui produksi makanan yang lebih bersih dan bermoral. Menyadari bahwa hak asasi hewan adalah perpanjangan dari tanggung jawab etis manusia dapat membuka jalan untuk membangun dunia yang lebih berkeadilan, baik bagi manusia maupun hewan. Dengan demikian, memperjuangkan hak asasi hewan bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga langkah strategis untuk menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan berkelanjutan.
Dijadikan Faktor Ancaman dan Mudah Diabaikan
Deklarasi Universal Hak Asasi Hewan (Universal Declaration of Animal Rights) yang diadopsi UNESCO pada 1978 menegaskan bahwa pengabaian atau pelanggaran terhadap hak hewan akan berdampak bagi manusia. Hal ini mencerminkan hubungan erat antara kesejahteraan hewan dan kualitas hidup manusia. Artikel dari Robinson dan Victoria, 2021 menemukan bahwa perlakuan buruk terhadap hewan berkorelasi dengan kekerasan antar manusia. 16% pelaku mulai menyiksa hewan dan berlanjut ke tindak kekerasan terhadap manusia.
Hewan juga dapat menjadi teman terdekat manusia baik secara emosional maupun fisik. Dalam sebuah hubungan intim, keadaan tersebut dapat dimanfaatkan oknum untuk memberikan ancaman, memanipulasi, mengendalikan, dan menghukum korban. Untuk menciptakan rasa takut dan kendali, pelaku kekerasan dapat mengancam, menyakiti, atau membunuh hewan tersebut. Membuat seseorang yang dekat dengan hewan tersebut mengalami situasi kekerasan karena khawatir akan keselamatan hewan peliharaannya

Kesadaran tanggung jawab sebagai pemilik hewan masih perlu ditingkatkan. Banyak pemilik hewan yang mengabaikan kebutuhan dasar hewan peliharaan mereka, seperti nutrisi yang cukup, perawatan kesehatan, dan kasih sayang. Tidak jarang hewan peliharaan dianggap sebagai objek hiburan semata, tanpa memperhatikan hak-hak dasar mereka sebagai makhluk hidup. Misalnya, praktik mengurung burung dalam sangkar kecil tanpa memperhatikan kebebasan mereka untuk bergerak, atau mengikat anjing di halaman rumah sepanjang hari tanpa menyediakan akses ke air bersih atau perlindungan dari panas dan hujan.
Peternakan Intensif Yang Bertanggungjawab
Hewan ternak berperan penting dalam mendukung kebutuhan pangan masyarakat. Hewan ternak di berbagai tempat mendapatkan perlakuan sebagai komoditas tanpa memperhatikan kesejahteraan mereka. Dalam proses transportasi banyak hewan ternak yang diangkut dalam kondisi yang penuh sesak tanpa ventilasi yang memadai. Sehingga menimbulkan stres dan risiko kematian. Selain itu, metode pemotongan yang tidak sesuai standar kesejahteraan hewan masih sering ditemukan di tempat-tempat pemotongan tradisional. Padahal World Organization of Animal Health (WOAH) telah menetapkan pedoman untuk memastikan bahwa proses penyembelihan dilakukan secara manusiawi guna meminimalkan rasa sakit dan stres pada hewan.

Di sektor industri, eksploitasi hewan untuk keuntungan ekonomi menjadi salah satu isu yang paling mengkhawatirkan. Praktik peternakan intensif atau factory farming seringkali mengorbankan kesejahteraan hewan demi efisiensi produksi. Ayam petelur, misalnya, sering kali ditempatkan dalam kandang baterai yang sangat sempit, sehingga mereka tidak dapat bergerak bebas atau menunjukkan perilaku alami mereka. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan penderitaan fisik tetapi juga stres psikologis pada hewan. Selain itu, penggunaan antibiotik secara berlebihan dalam industri peternakan untuk mempercepat pertumbuhan hewan atau mencegah penyakit juga memiliki implikasi serius, tidak hanya bagi kesejahteraan hewan, tetapi juga bagi kesehatan manusia melalui risiko resistensi antibiotik.
Perlindungan Biodiversitas Hewan Liar
Tidak hanya hewan peliharaan dan hewan ternak, hewan liar juga menghadapi ancaman serius di Indonesia. Perburuan liar dan perdagangan satwa ilegal telah menyebabkan penurunan populasi banyak spesies, bahkan beberapa di antaranya mendekati kepunahan. Harimau Sumatera, orangutan, dan burung cendrawasih adalah contoh spesies yang terus terancam akibat aktivitas manusia.

Perdagangan satwa liar tidak hanya melanggar hukum tetapi juga menimbulkan penderitaan luar biasa bagi hewan-hewan tersebut, yang sering kali diselundupkan dalam kondisi mengenaskan tanpa makanan atau air selama berhari-hari. Belum lagi depopulasi maupun alih fungsi hutan yang mengakibatkan habitat asli hewan liar terusik. Menciptakan konflik baru antara hewan dan manusia yang membuka lahan.
Inisiasi Hak Asasi Hewan Di Indonesia
Upaya perlindungan hak asasi hewan di Indonesia memang sudah mulai dilakukan, meskipun masih jauh dari kata ideal. Pemerintah telah mengeluarkan beberapa regulasi untuk melindungi kesejahteraan hewan seperti Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang mengatur prinsip-prinsip kesejahteraan hewan. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi banyak kendala, termasuk minimnya pengawasan dan penegakan hukum. Selain itu, kurangnya edukasi dan kesadaran masyarakat juga menjadi hambatan utama dalam mewujudkan perlindungan yang efektif bagi hak asasi hewan.
Organisasi non-pemerintah dan komunitas pecinta hewan telah memainkan peran penting dalam mengadvokasi hak asasi hewan di Indonesia. Mereka tidak hanya melakukan kampanye kesadaran, tetapi juga menyediakan layanan penyelamatan dan rehabilitasi untuk hewan yang menjadi korban kekerasan atau penelantaran. Namun, dukungan dari pemerintah dan sektor swasta sangat diperlukan untuk memastikan bahwa upaya ini dapat berjalan secara berkelanjutan. Anggaran saat ini masih kurang memadai untuk program kesejahteraan hewan atau membangun pusat rehabilitasi satwa liar di berbagai daerah.

Selain itu, kolaborasi lintas sektor juga menjadi kunci dalam meningkatkan perlindungan hak asasi hewan di Indonesia. Perguruan tinggi berkontribusi melalui penelitian untuk mengembangkan metode peternakan yang lebih ramah hewan dan lingkungan. Media juga memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesejahteraan hewan. Dengan melibatkan berbagai pihak, diharapkan kesadaran dan tindakan nyata untuk melindungi hak asasi hewan dapat semakin meningkat. Masyarakat memiliki peran besar dalam mendukung perlindungan hak asasi hewan. Kita dapat memulai langkah sederhana seperti tidak membeli produk dari industri yang mengeksploitasi hewan, mengadopsi hewan terlantar daripada membeli, atau mendukung organisasi yang bekerja untuk kesejahteraan hewan. Selain itu, penting untuk mengajarkan nilai empati dan kasih sayang terhadap hewan kepada anak kecil. Sehingga mereka tumbuh dengan kesadaran akan pentingnya melindungi makhluk hidup lainnya.
Melindungi hak asasi hewan bukan hanya tentang memberikan perlakuan yang lebih baik kepada hewan, tetapi juga tentang menciptakan dunia yang lebih manusiawi bagi semua makhluk hidup. Hewan memiliki perasaan, kebutuhan, dan hak untuk hidup dengan layak. Ketika kita memperjuangkan hak asasi hewan, kita juga sedang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberlanjutan. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi contoh dalam perlindungan hak asasi hewan, mengingat kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya lokal yang menjunjung tinggi harmoni dengan alam. Semua itu hanya dapat terwujud jika ada komitmen bersama dari semua pihak. Dengan meningkatkan kesadaran, memperkuat regulasi, dan mendorong tindakan nyata, kita dapat menciptakan Indonesia yang lebih baik, tidak hanya untuk manusia tetapi juga untuk hewan yang menjadi bagian penting dari ekosistem kita. Masa depan kesejahteraan hewan di Indonesia bergantung pada langkah yang kita ambil hari ini. Mari kita mulai perubahan ini dari diri sendiri dan lingkungan sekitar kita.
Penulis: Azhar Burhanuddin (Mahasiswa Kedokteran Hewan 2021)
Editor: Avicena C. Nisa
