FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Menyimak Metode Identifikasi Parasit Ikan dan Udang dari Peneliti BRIN

KABAR FIKKIA  – Munculnya penyakit yang disebabkan parasit masih menjadi momok pagi pembudidaya ikan dan udang. Keduanya menjadi komoditas favorit konsumsi masyarakat, sehingga diperlukan perhatian lebih agar hasil perikanan memuaskan. Mengupdate pengetahuan mengenai deteksi parasit ikan dan udang, Prodi Akuakultur FIKKIA UNAIR mendatangkan peneliti Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Dr. April Hari Wardhana, S.KH., M.Si., PhD. Peneliti ahli utama yang fokus melakukan riset bidang parasit. Kuliah tamu diikuti 25 mahasiswa semester 3 berlangsung Kamis, (16/10/2025) di Kelas A101 Kampus Giri.

Perbandingan Metode Identifikasi Mutakhir

Dalam pemaparannya Dr. April menjelaskan, terdapat dua metode identifikasi. Polymerase Chain Reaction (PCR) mengidentifikasi secara molekuler. Sedangkan Scanning Electron Microscop (SEM) mengidentifikasi berdasarkan morfologi atau bentuk luarnya.

Teknik biologi molekuler PCR berfungsi untuk menggandakan sekuens DNA target secara eksponensial. Metode ini memiliki karakter lebih spesifik dan sensitivitas yang sangat tinggi karena bekerja dengan mengidentifikasi susunan pasang basa DNA parasit. Keunggulan ini membuat PCR dapat mengidentifikasi spesies parasit secara cepat dan efisien bahkan dari sampel yang memiliki jumlah parasit sangat minim.

Tahap preparasi ekstraksi DNA dengan metode PCR. Sumber: Istimewa

SEM dapat memindai permukaan luar sampel dengan berkas elektron untuk menghasilkan gambar 3D beresolusi tinggi. Gambar tersebut berguna untuk melihat morfologi atau bentuk permukaan luar parasit hingga struktur organ internal. Meliputi bentuk tubuh golongan Acanthocephala, panjang pendek proboscis (belalai) pada parasit serta jumlah dan bentuk kait (hook) atau duri pada bagian tubuh parasit. Selain itu, perbesaran SEM jauh lebih besar daripada mikroskop cahaya, memungkinkan pengamatan struktur permukaan parasit yang sangat kecil.

Metode Ideal Hasil Terverifikasi

Pertanyaan menarik datang dari Bintang (AKUA 24) yang menanyakan perbedaan hasil PCR dan SEM saat pemeriksaan.

Menjawab pertanyaan tersebut, Dr. April menegaskan bahwa hasil PCR harus dijadikan pedoman dan pertimbangan utama. Sebab, kemampuan PCR mendeteksi susunan genetik memberikan tingkat spesifisitas yang jauh lebih tinggi dalam konfirmasi spesies parasit.

Dr. April menambahkan, penyimpanan sampel agar harus dalam kondisi ideal supaya metode tetap efektif. Terutama sampel SEM. Hal ini sangat penting untuk mencegah kerusakan morfologi (bentuk luar) parasit akibat kelembapan udara.

”Sampel yang sudah melalui proses preparasi harus disimpan dalam desiccator atau lingkungan yang sangat kering.” Ungkapnya.

Baca juga: Kuliah Tamu Akuakultur Bahas Zoonosis Akibat Parasit Ikan

Penggunaan reagen yang tidak sesuai standar pada metode PCR juga berisiko menurunkan validasi hasil pemeriksaan. Dr. April memberikan peringatan keras, bahwa mengurangi takaran resep reaksi akan menurunkan sensitivitas dan spesifisitas PCR secara drastis. Konsekuensi dari tindakan ini adalah risiko tinggi terjadinya negatif palsu (false negative), yang pada akhirnya akan mencederai akurasi dan efisiensi yang menjadi keunggulan metode molekular.

Sebagai penutup, Dr. April menyampaikan harapannya mahasiswa dapat mengedukasi pembudidaya mengaplikasikan ilmu deteksi parasit berbasis molekular untuk menjamin keamanan pangan dan mendukung industri akuakultur yang berkelanjutan

Penulis: Azzahrani

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *