FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Menyingkap Beberapa Alasan Hewan Berpuasa

Bagi manusia puasa identik dengan menahan rasa haus dan lapar. Puasa juga menjadi salah satu kewajiban dalam berbagai agama dengan perbedaan tata cara pelaksanaan. Tak hanya manusia, ada makhluk hidup lain yang juga melakukan kegiatan tersebut. Seperti fenomena alamiah beberapa spesies hewan yang berpuasa baik dalam lingkungan alami maupun dalam penangkaran. Hewan yang berpuasa akan mengalami periode hiperfagia, memusatkan asupan makanan dalam periode waktu yang relatif singkat, sehingga menghasilkan tingkat puncak pertambahan massa selama musim mencari makan. Waktu periode hiperfagik sangat penting dalam memahami hewan yang berpuasa musiman mengembangkan simpanan lipid yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup.

Beruang merah melakukan hibernasi selama musim dingin untuk menghindari cuaca ekstrim dan mempertahankan energinya.
Foto: celebesmedia.id

Dalam lingkungan 4 musim, beberapa hewan seringkali melakukan hibernasi dan membuat mereka berpuasa selama satu musim dingin lamanya. Secara evolusioner, hibernasi dan puasa adalah strategi adaptasi yang efektif untuk bertahan hidup di lingkungan yang penuh tantangan, terutama di daerah yang terpengaruh oleh musim dingin yang keras. Dengan memasuki keadaan hibernasi dan berpuasa selama musim dingin, hewan tersebut telah mengembangkan cara untuk mengatasi ketidakcukupan sumber makanan dan menghadapi kondisi cuaca yang ekstrim dengan mempertahankan energi dan menjaga kesehatan tubuh mereka. Banyak alasan lain yang melatarbelakangi hewan berpuasa. Beberapa diantaranya identik dengan adaptasi alami, siklus hidup, dan perubahan lingkungan. Setiap spesies hewan memiliki alasan tersendiri untuk berpuasa. Berikut adalah beberapa alasan hewan melakukan puasa:

  1. Musim Kekeringan atau Kelangkaan Makanan
    • Hewan-hewan di berbagai habitat sering mengalami musim kering atau kelangkaan makanan di mana sumber makanan menjadi terbatas. Dalam kondisi seperti ini, banyak spesies hewan, termasuk burung, mamalia, dan reptil, memilih untuk berpuasa atau mengurangi konsumsi makanan mereka untuk bertahan hidup. Misalnya, kura-kura darat dapat bertahan hidup tanpa makanan selama berbulan-bulan selama musim kering dengan mengurangi aktivitas mereka dan menggunakan cadangan energi yang tersimpan. Beberapa spesies hewan, terutama mamalia besar seperti gajah, kuda, dan bison, mungkin mengalami penurunan nafsu makan atau berpuasa sebagai respons terhadap kelangkaan makanan atau tekanan lingkungan. Ini dapat berkontribusi pada regulasi populasi dan mengurangi persaingan untuk sumber daya yang terbatas. Berpuasa juga bisa menjadi mekanisme keamanan dalam lingkungan yang tidak ramah atau berbahaya. Misalnya, saat hewan menghadapi cuaca buruk atau bencana alam, mereka mungkin tidak makan untuk mengurangi risiko terpapar bahaya saat mencari makanan.
  1. Masa Mabung atau Ganti Bulu
    • Beberapa spesies burung mengalami periode mabung atau pergantian bulu. Mereka mengganti bulu mereka yang rusak dengan bulu baru. Selama masa ini, beberapa burung mengurangi konsumsi makanan atau bahkan berpuasa sepenuhnya karena sumber daya energi tubuh mereka dialokasikan untuk pertumbuhan bulu baru. Burung Kolibri menjadi salah satu spesies yang seringkali berpuasa selama beberapa hari saat mabung. Hal tersebut bertujuan memberi tubuh waktu dan energi yang cukup untuk menghasilkan bulu baru yang indah. Mereka tidak akan memakan nektar ataupun serangga pada waktu itu.
  1. Masa Pemulihan
    • Hewan yang sakit atau terluka sering mengalami penurunan nafsu makan hingga berpuasa sepenuhnya. Ini mungkin merupakan respons alami tubuh untuk mengalokasikan energi tambahan untuk proses penyembuhan dan pemulihan. Contohnya adalah kucing yang sakit mungkin menolak makanan selama beberapa hari saat mereka menghadapi penyakit ringan. Mekanisme tersebut memungkinkan tubuh mereka untuk fokus sepenuhnya pada pemulihan. Perlu diperhatikan, perubahan pola pakan parah dan berjangka waktu lama (anoreksia) dapat mengakibatkan malnutrisi yang menghambat masa pemulihan. Hewan peliharaan yang mengalami gejala tersebut harus membawa hewan tersebut ke dokter hewan untuk pemeriksaan lebih lanjut
  2. Periode Reproduksi dan Berkembang Biak
    • Hewan-hewan yang berada dalam periode reproduksi dan berkembang biak mungkin juga mengalami perubahan dalam pola makan mereka. Misalnya, reptil seperti ular mungkin berpuasa selama periode kawin dan bertelur, mengalokasikan energi tambahan untuk proses reproduksi dan bertahan hidup. Dalam tahapan metamorfosis beberapa spesies hewan, seperti serangga dan amfibi, mungkin tidak makan sama sekali selama periode transformasi dari satu bentuk tubuh ke bentuk tubuh yang lain. Misalnya, ulat berpuasa dalam kepompong selama tahap pupa. Dalam siklus hidupnya, mereka mengubah diri dari larva menjadi kupu-kupu dewasa. Difase kupu-kupu inilah mereka nantinya berkembang biak.
    • Induk hewan dalam periode kehamilan dan menyusui sejatinya harus memiliki asupan nutrisi yang cukup untuk menjaga kebutuhan hidup diri sendiri dan anaknya. Namun beberapa mamalia, seperti beruang, anjing serigala, dan kucing besar termasuk singa maupun harimau melakukan puasa sejenak selama periode kehamilan dan menyusui. Selama masa ini, hewan betina membutuhkan energi tambahan untuk mendukung pertumbuhan janin dan produksi susu. Mereka akan menggunakan cadangan lemak mereka untuk bertahan hidup dan menyusui anak-anaknya. Hewan mamalia laut terbesar, paus diperkirakan berpuasa selama musim kawin dan selama migrasi, dan semua kebutuhan metabolisme selama waktu tersebut dipenuhi oleh pemecahan simpanan adiposa internal dalam bentuk lemak. Paus bungkuk diperkirakan kehilangan 25–50% massa tubuhnya selama periode ini. Tidak seperti hewan berpuasa di darat yang mengurangi pengeluaran energi melalui mati suri. Paus bungkuk dan paus balin yang bermigrasi lainnya terus mengeluarkan biaya metabolisme yang normal, dan mungkin meningkat, saat berpuasa dengan melakukan proses fisiologis dan perilaku yang mahal terkait dengan reproduksi dan migrasi

Dalam banyak kejadian, berpuasa adalah respons alami dan penting bagi kesehatan dan kelangsungan hidup hewan. Ini adalah strategi adaptasi yang telah berkembang selama jutaan tahun dalam evolusi. Memungkinkan hewan untuk bertahan di lingkungan yang berubah-ubah. Penurunan nafsu makan sesekali menjadi hal wajar. Namun jika hewan mengalami puasa berkepanjangan tanpa alasan alamiah menjadi indikasi mengalami abnormalitas seperti gangguan metabolisme dan kesehatan. Hewan tersebut harus mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut dari dokter hewan terkait.

Penulis: Azhar Burhanuddin (Mahasiswa S1 Kedokteran Hewan FIKKIA)

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *