FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Mpox : Fakta Penting Cacar Monyet yang Harus Anda Ketahui

Ditulis oleh : dr. Riezky Januar Pramitha, M.Ked.Klin, Sp.DVE

(Dosen Kedokteran Divisi Ilmu Kesehatan Kulit Kelamin FIKKIA UNAIR)

Beberapa tahun terakhir, dunia kesehatan dihadapkan pada tantangan baru dengan munculnya kembali Mpox, atau yang sebelumnya dikenal sebagai cacar monyet. Penyakit yang dahulu dianggap endemik di wilayah Afrika ini kini menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Mpox tidak hanya menjadi perhatian para tenaga medis, tetapi juga masyarakat umum, karena penyebarannya yang cepat dan gejalanya yang mirip dengan cacar. Apa sebenarnya Mpox, bagaimana cara penularannya, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya? Artikel ini akan membahas secara komprehensif mengenai penyakit tersebut.

Mengenal Mpox

Mpox (Monkeypox) atau yang sebelumnya dikenal sebagai cacar  monyet. Pertama kali diidentifikasi di Denmark pada tahun 1958 diantara koloni monyet yang dipelihara untuk penelitian sehingga diberik nama “monkeypox”. Mpox merupakan emerging zoonoses yang disebabkan oleh monkeypox virus (MPXV), anggota genus Otyhopoxvirus dalam keluarga Poxviridae. Mpox pada manusia pertama kali ditemukan di Republik Demokratik Kongo tahun 1970.

Mpox awalnya ditemukan di wilayah endemic Afrika Tengah dan Barat. Namun sejak Mei tahun 2022, penyakit ini menjadi perhatian kesehatan masyarakat global. Wabah mpox menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk negara – negara yang tidak pernah mengalami sebelumya. Per 10 januari 2023, telah dilaporkan 84.415 kasus dari 110 negara dengan 76 kematian. Indonesia sendiri telah melaporkan 1 kasus konfirmasi mpox pada 20 Agustus 2022.

Peta sebaran Mpox di dunia hingga 2022. Sumber Researchgate

Pada tahun 2022, kasus mpox mulai dilaporkan di Indonesia. Kasus pertama terjadi pada bulan Agustus 2022 pada seorang warga yang baru saja kembali dari perjalanan luar negeri. Bulan Agustus 2024, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI mengumumkan ditemukan 88 kasus terkonfirmasi Mpox. Kasus tersebut tersebar di DKI Jaakarta sebanyak 59 kasus konfirmasi, Jawa Barat 13 kasus, Banten 9 kasus, daerah Istimewa Yogyakarta 3 kasus, Kepulauan Riau 1 kasus dan Jawa Timur 3 kasus terkonfirmasi.

Penularan Mpox antar Manusia

Mpox merupakan penyakit zoonoses yang berarti penyakit ini ditularkan dari hewan ke manusia. Penularan kepada manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi termasuk gigitan, cakaran, ataupun kontak dengan darah, cairan tubuh dan lesi kulit hewan tersebut. Selain itu penularan juga dapat terjadi melalui kontak dengan manusia yang terinfeksi, atau melalui benda yang terkontaminasi oleh virus tersebut.

Virus masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang luka/ terbuka (walaupun tidak terlihat), saluran pernapasan, atau selaput lendir (mata, hidung , atau mulut). Penularan melalui saluran nafas biasanya membutuhkan kontak erat yang lama, sehingga anggota keluarga yang tinggal serumah atau kontak erat dengan kasus berisiko lebih besar untuk tertular. Ruam, cairan tubuh seperti nanah, air liur, darah dari luka di kulit dan koreng sangat menular. Pakaian, tempat tidur, handuk atau peralatan makan/ piring yang telah terkontaminasi virus dari orang yang terinfeksi juga dapat menulari orang lain.

Infografis penularan, gejala, dan ruam akibat Mpox. Sumber: freepik.com

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung kulit ke kulit atau membrane mukosa saat berhubungan seksual baik melalui ciuman, sentuhan, seks oral maupun penetrasi dengan seseorang yang memiliki gejala. Penularan juga dapat terjadi melalui plasenta dari ibu ke janin atau kontak erat selama dan setelah kelahiran.

Di negara endemis, penularan ke manusia juga dapat terjadi melalui gigitan atau cakaran, kontak langsung dengan darah, cairan tubuh atau lesi pada kulit hewan yang terinfeksi dan mengkonsumsi  daging hewan liar yang tidak dimasak dengan baik. Masa penularannya bervariasi. Pada umumnya masa penularan dimulai dari awal gejala muncul hingga keropeng (krusta) mengelupas dan lapisan kulit baru terbentuk (biasanya antara 2-4 minggu).

Gejala Mpox yang Harus Diwaspadai

Dalam penentuan diagnosis kasus mpox, perlu mempertimbangkan gambaran klinis, epidemiologis, dan pemeriksaan laboratorium. Masa inkubasi (interval dari infeksi sampai timbulnya gejala) mpox biasanya 6 -13 hari, tetapi dapat berkisar 5-12 hari. Masa infeksi dapat dibagi ke dalam 2 fase :

  1. Fase akut atau prodromal (0-5 hari) gejala awal berupa demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening ) biasanya pada leher, ketiak atau selangkangan , nyeri punggung , nyeri otot dan kelelahan yang terus menerus. Pembesaran kelnjar di fase awal ini dapat menjadi penanda untuk dapat membedakan dengan penyakit cacar air.
  2. Fase erupsi sekitar 1-3 hari setelah timbul demam): muncul ruam atau lesi kulit. Gambaran klinis saat ini tidak khas, dapat berupa kemerahan pada kulit, plentingan bahkan keropeng, lesi kulit tidak selalu menyebar di banyak tempat , dapat hanya terbatas pada satu bagian. Lesi sering terjadi di daeraha genital, anorectal atau didala mulut. Biasanya berawal dari wajah dan / genital.

Kasus yang dicurigai mpox hanya dapat dilakukan konfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, di antaranya menggunakan uji Polymerase Chain reaction.

Penyakit ini biasanya berlangsung selama 2-4 minggu. Penyakit ini juga dapat menyebabkan komplikasi hingga kematian terutama pada anak – anak, hamil, dan gangguan sistem imun. Hal tersebut sering dikaitkan dengan tingkat paparan virus , status imunitas pasien dan tingkat keparahan komplikasi.

Penanganan bagi Penderita Mpox

Tidak dianjurkan melakukan diagnosis sendiri tanpa pendampingan dari tenaga kesehatan. Banyak kelainan kulit yang mirip dengan gejala Mpox. Sehingga jika mengalami gejala yang dicurigai, segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat.

Penanganan Mpox bergantung pada derajat keparahan dan ada tidaknya komplikasi. Pasien dengan derajat ringan tanpa komplikasi direkomendasikan untuk dilakukan isolasi mandiri sesuai prosedur dan mendapatkan pengobatan dari tenaga kesehatan sesuai gejala yang dialami. Sedangkan untuk pasien dengan derajat berat dilakukan isolasi terpusat di rumah sakit untuk pemantauan yang ketat untuk mencegah timbulnya komplikasi.

Ruam kulit pada penderita mpox. Sumber: nortonhealthcare

Penting dilakukan perawatan kulit pada pasien baik yang menjalani isolasi mandiri maupun yang menjalani isolasi terpusat dirumah sakit. Memencet, menggaruk, ataupun memanipulasi ruam kulit tidak disarankan karena dapat meningkatkan risiko penyebaran ke area lain. Jika terdapat luka lecet dapat diberikan salep antibiotic sesuai rekomendasi dokter.  Pasien juga harus menghindari berbagi handuk mandi atau pakaian. Penting diperhatikan untuk keluarga dan tenaga kesehatan yang merawat tetap menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) untuk merawat pasien mpox.

Asupan Bergizi Cegah Penularan Mpox

Menjalani pola hidup sehat dengan menjaga asupan gizi dan kebersihan, serta tidak kontak dengan individu yang mengalami mpox itu penting . Selain itu tidak menggunakan barang – barang pribadi bersama di tempat umum seperti handuk, sisir dan alat makan karena berpotensi menularkan infeksi. Karena adanya potensi penularan melalui droplet saluran pernafasan, disarankan untuk menggunakan masker ketika berada di tempat umum.

Apakah Vaksin Mpox Perlu Diberikan

Vaksin mpox bukan vaksin yang diberikan untuk semua kalangan. Vaksinasi hanya diberikan kepada populasi berisiko tinggi seperti individu LSL (lelaki berhubungan seks dengan lelaki), atau yang memiliki pasangan sexual lebih dari satu. Kasus mpox banyak ditemukan pada kelompok tersebut. Vaksin juga diberikan kepada tenaga kesehatan yang berisiko tinggi terpapar dan petugas laboratorium yang melakukan pemeriksaan. Selain itu vaksin mpox juga menyasar individu yang pernah kontak erat dengan penderita mpox dalam dua minggu terakhir.

dr. Riezky Januar Pramitha, M.Ked.Klin, Sp.DVE

Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk mencegah penyebarannya melalui peningkatan pelacakan kontak, edukasi kesehatan masyarakat, dan kolaborasi dengan organisasi kesehatan dunia sperti WHO untuk mencegah penularan lebih lanjut. Peran serta masyarakat dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap mpox sangat penting untuk mencegah penyebarannya.

Meskipun kasusnya relatif jarang, penyebaran yang cepat dan potensi komplikasi serius menuntut upaya pencegahan yang lebih ketat. Penting bagi setiap individu untuk memahami gejala mpox, mengikuti protokol kesehatan, dan menghindari kontak erat dengan orang yang terinfeksi atau hewan yang berpotensi membawa virus. Edukasi publik, kewaspadaan petugas kesehatan, serta penerapan langkah-langkah pencegahan seperti vaksinasi di kelompok berisiko tinggi, menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko penyebaran mpox. Dengan kerjasama yang baik antara masyarakat dan pemerintah, penyebaran mpox dapat ditekan dan risiko wabah yang lebih luas dapat diminimalisir.

Editor: Tasya Ramamdhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *