KABAR FIKKIA – Kamis (08/05/2025) On The Job Training (OJT) At FIKKIA 2025 memberikan pengalaman bagi mahasiswa internasional dari Central Mindanao University lebih dekat mengeksplor kehidupan satwa liar di sekitar Banyuwangi. Puas mendaki gunung Ijen dalam kawasan geopark dengan ditemani suara burung, kini mereka berkesempatan melakukan tracking di Taman Nasional Baluran, Situbondo. Savana bekol menjadi lokasi untuk memberikan kesempatan langsung interaksi yang selangkah lebih dekat dengan satwa khas kawasan tersebut seperti banteng, rusa, elang, dan kerbau liar.
Taman Nasional Baluran tercatat memiliki zona inti seluas 12.000 Ha, zona rimba seluas 5.537 ha (perairan = 1.063 Ha dan daratan = 4.574 Ha), zona pemanfaatan intensif dengan luas 800 Ha, zona pemanfaatan khusus dengan luas 5.780 Ha, dan zona rehabilitasi seluas 783 Ha. Selain savana, Taman Nasional Baluran juga memiliki beragam jenis hutan, termasuk hutan pantai, hutan bakau,, dan hutan musim. Tentu saja hal tersebut membuat biodiversitas flora dan fauna menjadi sangat tinggi. Terdapat hewan lain yang hidup seperti Ajag (Cuon alpinus javanicus), Kijang (Muntiacus muntjak muntjak), Kancil (Tragulus javanicus pelandoc), hingga Macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Termasuk unggas endemik seperti Ayam Hutan Hijau (gallus varius) dan Ayam hutan merah (Gallus gallus) yang ditemui pada awal perjalanan memasuki kawasan Taman Nasional Baluran setelah melewati gerbang masuk.
Tantangan Seru Melewati Jalan Berlumpur
Kegiatan sempat diwarnai hujan yang cukup deras sebelum perjalanan dimulai. Pantai Bama menjadi lokasi istirahat sebelum mengawali tracking mengarungi Savana Bekol. Peserta terlebih dahulu mendapatkan informasi selayang pandang tentang sejarah dan peraturan yang mesti dipatuhi selama berjalan kaki dari pemandu TN Baluran bernama bapak Hendri Reskiyono. Risiko basah kuyup akibat hujan dan kelelahan karena pijakan berlumpur yang membebani alas kaki harus siap dihadapi dengan kondisi alam yang dipenuhi awan gelap pada hari itu.

Titik nol perjalanan bermula di Africa van Java mengarungi jalan setapak rumput savana yang kini menghijau. Pijakan tanah yang lembek dan berlumpur menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa CMU dan FIKKIA sepanjang perjalanan dari awal hingga akhir. Mereka juga harus siap menghadapi akasia berduri (Acacia nilotica) yang tumbuh subur. Selama perjalanan itu, mereka melakukan identifikasi jejak satwa, kotoran, dan kawanan yang berkeliaran. Ditemukan jejak dan kotoran dari Banteng (Bos javanicus javanicus) yang merupakan hewan ikonik dari Taman Nasional Baluran. Berbagai jenis burung seperti burung merak (Pavo muticus), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), dan elang juga terlihat terbang hingga hinggap di kawasan padang rumput itu. Terpantau pula kawanan rusa (Cervus timorensis russa) dan kerbau liar (Bubalus bubalis) berjalan berkelompok menuju titik savana sebelum gelapnya malam menyapa. Perjalanan peserta juga ditemani momen sunset yang indah sembari menyelami savana yang luas tersebut.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-15 Life on Land, dan ke-17 Partnerships for the Goals
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Avicena C. Nisa
