FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

One Health Bukan Lagi Pilihan, Tetapi Keharusan Global

KABAR FIKKIA – Peran dokter hewan tidak hanya terbatas pada penyembuhan hewan sakit, tetapi juga mencakup kesehatan masyarakat, lingkungan, hingga mendukung ketahanan pangan nasional. Hal ini terungkap dalam kuliah umum bertema Profesionalisme Dokter Hewan, Etika, Regulasi Global, dan One Health yang disampaikan oleh Prof. Bambang Pontjo Priosoeryanto, drh., MS, Ph.D, APVet., DACCM, Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB), IPB University yang sekaligus Sekretaris Jenderal Federation of Asian Veterinary Association (FAVA). Kuliah Tamu PPDH Gelombang 3 berlangsung Rabu (27/08/2025) di Aula Kampus Mojo FIKKIA UNAIR.

Prof. Bambang menjelaskan bahwa profesi dokter hewan memiliki keistimewaan karena menyangkut tiga aspek penting: manusia, hewan, dan lingkungan.

“Fungsi utama dokter hewan adalah menyembuhkan hewan, melindungi manusia dari penyakit zoonosis, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan” ujarnya.

Profesi ini menurutnya bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah pengabdian yang berlandaskan etika, tanggung jawab moral, serta regulasi yang ketat agar tidak terjadi malpraktik.

Prinsip Kolaboratif One Health

Selain etika profesi, konsep One Health menjadi perhatian utama. One Health merupakan pendekatan kolaboratif lintas disiplin kedokteran manusia, kedokteran hewan, kesehatan lingkungan, hingga ilmu sosial untuk mencegah dan mengendalikan penyakit menular, khususnya zoonosis.

“Kesehatan manusia tidak bisa berdiri sendiri. Kita terhubung dengan hewan, tumbuhan, dan lingkungan” kata Prof. Bambang.

Ia mencontohkan kasus rabies yang hanya bisa dikendalikan dengan kerja sama lintas sektor: dokter hewan melakukan vaksinasi pada hewan, dokter manusia menangani korban gigitan, ekolog memberi masukan terkait pelestarian satwa, hingga media dan pendidik yang menyebarkan informasi pencegahan. Tanpa koordinasi, biaya sosial dan ekonomi akibat wabah zoonosis bisa sangat besar.

Prof. Bambang juga menekankan pentingnya pembangunan kapasitas tenaga kesehatan lintas bidang melalui pendidikan, penelitian, dan pelatihan. Hal ini sejalan dengan visi jaringan universitas di Asia Tenggara yang berkomitmen mencetak sumber daya manusia tangguh di bidang One Health. Konsep ini mendapat relevansi besar pasca-pandemi Covid-19, ketika masyarakat dunia menyadari betapa rapuhnya hubungan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Penulis: Hanifa Khansa Kairunnisa

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *