KABAR FIKKIA – Fluktuasi harga bahan pangan asal hewan seringkali terjadi saat momen tertentu baik liburan maupun menjelang hari raya.Tak hanya itu, kelangkaan produk juga dapat terjadi karena alur produksi yang panjang. Kerusakan produk selama pengiriman, jarak yang panjang, penyimpanan tidak bertanggung jawab dalam transportasi selama alur distribusi menuju pasar menjadi hambatan utama. Solusi tersebut terjawab dalam webinar Universitas Airlangga bertajuk “Healty Food, Health Body and Mind: Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Melalui Pemilihan Makanan yang Tepat.” Kegiatan tersebut berlangsung secara daring melalui zoom meeting pada Rabu (5/3/2025).
Solusi Menjawab Kondisi Geografis Indonesia
Dosen Kedokteran Hewan FIKKIA, Igo Syaiful Ihsan, drh. ,M.Si. menyebut kelangkaan bahan pangan juga dapat terjadi akibat keberagaman kondisi wilayah. Jawa hingga saat ini masih menjadi pusat lumbung ternak nasional. Jawa barat mengakomodir produksi domba dan itik tertinggi. Jawa Tengah menjadi daerah produksi tertinggi untuk ayam buras, ayam pedaging, dan kelinci. Sedangkan Jawa Timur menjadi daerah dengan produksi tertinggi ternak paling beragam mulai dari sapi potong, sapi perah, kambing, ayam petelur, dan puyuh. Daerah luar Pulau Jawa dengan produksi kerbau, kuda, dan babi tertinggi berasal dari wilayah Nusa Tenggara Timur.

Biaya transportasi dan distribusi antar wilayah menjadi hambatan. Mengingat jarak antar provinsi di Indonesia sangat jauh membuat harga ikut melambung. Proses bahan pangan asal hewan dari produksi hingga siap konsumsi juga melewati rantai supply chain yang panjang. Mulai dari hewan asal peternakan, pemotongan, packaging, pemasaran, hingga diterima oleh konsumen.

Igo menyebut konsep From Farm to Table dapat menjadi solusi memendekkan rantai pasokan pangan. Pemberdayaan peternak lokal melalui penjualan langsung ke konsumen disekitarnya dapat menekan harga secara maksimal. Sehingga ketersediaan daging merah (sapi dan kambing), unggas (ayam, kalkun, bebek), telur, susu (sapi dan kambing), keju, kefir, ikan, dan seafood semakin terjamin dan lebih murah.
Tantangan dan Upaya Pengelolaan
Kontaminasi silang menjadi tantangan dalam penerapan konsep From Farm to Table. Kondisi tersebut terjadi karena proses produksi yang belum sepenuhnya menggunakan teknologi high tech. Penerapan prinsip aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) oleh Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementan RI mengurangi risiko tersebut melalui supervisi yang ketat dari pejabat veteriner. Terakhir adalah pengelolaan dampak lingkungan dari aktivitas peternakan yang masih tradisional seperti pencemaran sumber air dan emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu, penting bagi unit usaha peternakan untuk mengadopsi standar kebersihan dan keamanan pangan yang ketat serta menerapkan prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare).
Manfaat From Farm to Table dalam Makan Bergizi Gratis
Salah satu keuntungan utama dari konsep From Farm to Table adalah dapat menjaga kualitas pasokan makan bergizi gratis yang penting dalam program pemerintah pusat saat ini. Dengan rantai distribusi yang lebih pendek, risiko degradasi kualitas MBG dapat diminimalkan sehingga produk tetap dalam kondisi terbaik saat dikonsumsi oleh anak.
Penerapan rantai pasokan pendek melalui konsep from farm to table adalah di Jepang yang dapat dijadikan role model kedepan. Selain itu, konsep ini juga mendukung edukasi prinsip ASUH bagi anak sekolah. Pangan yang berasal langsung dari sumber terpercaya lebih mudah diawasi dalam aspek kebersihan, keamanan, serta kehalalannya. Dengan demikian, konsumen mendapatkan produk yang lebih sehat dan berkualitas.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-12 Responsible Consumption and Production
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Avicena C. Nisa
