KABAR FIKKIA – Di tengah tantangan ekonomi global dan krisis iklim, sektor perikanan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pendorong kemandirian ekonomi nasional. Sayangnya, potensi ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Menurut Arif Habib Fasya, S. Pi. , M. P. sektor perikanan memiliki dua segmen pasar, yaitu domestik dan internasional. Kedua segmen ini menjanjikan, namun masing-masing juga memiliki tantangan tersendiri.

Kondisi Pasar Perikanan Domestik dan Internasional
Dosen Divisi Manajemen Kesehatan Ikan Prodi Akuakultur FIKKIA UNAIR , menyebut pasar domestik memiliki potensi cukup potensial. Namun, kondisi lingkungan, pemanasan global, dan daya beli masyarakat lokal menjadi tantangan tersendiri.
Sedangkan pasar internasional, membuka peluang besar ekspor, terutama udang dan hasil laut lainnya. Komoditas laut Indonesia dibutuhkan di Eropa, Amerika, China, dan Jepang. Namun, produsen dalam negeri harus mematuhi regulasi ketat negara tujuan ekspor. Termasuk standar mutu, perizinan, dan kebijakan ekonomi seperti pajak impor.
“Pajak penalti yang diterapkan Presiden Trump masih berdampak pada harga udang kita,” tambah Fasya.

Lebih lanjut Fasya menjelaskan, solusi yang bisa dilakukan saat ini adalah dengan memperkuat pasar lokal dan meningkatkan konsumsi di Indonesia. Langkah ini tidak hanya akan meningkatkan ketahanan ekonomi nasional, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pasar global yang tidak stabil. Peningkatan konsumsi domestik juga membuka peluang usaha baru berbasis perikanan.
Diversifikasi Produk Perikanan Adalah Kunci
Sektor perikanan tidak hanya terbatas pada ikan konsumsi dari laut maupun air tawar. Bidang akuakultur juga mencakup ikan hias, aquascape, hingga bahan baku farmasi dan kosmetik berbasis mikroalga. Namun, tantangan utama adalah sifat komoditas yang cepat rusak dan memiliki nilai jual rendah. Diversifikasi produk menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah perikanan Indonesia.
“Solusinya adalah mengolah komoditas agar lebih bernilai di pasaran,” ungkap Fasya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara petambak dan industri pengolahan ikan. Kerja sama ini akan memastikan hasil tambak terserap optimal dengan harga yang kompetitif. UMKM juga berperan besar dalam menciptakan produk olahan ikan yang modern dan diminati pasar.

“UMKM kini banyak memproduksi olahan kekinian, seperti dimsum, nugget ikan, dan frozen food lainnya,” jelas Fasya.
Produk-produk ini memiliki daya tahan lebih lama dan harga jual yang lebih tinggi di pasaran. Peran UMKM menjadi vital dalam rantai nilai perikanan, terutama untuk skala lokal dan menengah.
Mahasiswa Perlu Disiapkan Jadi Wirausahawan Tangguh
Fasya mendorong mahasiswa untuk terjun ke dunia wirausaha berbasis perikanan yang terus berkembang. Wirausaha di bidang ini menuntut kreativitas, ketahanan mental, dan kemampuan menyelesaikan masalah secara sistematis.
“Karakter tangguh harus dibentuk sejak kuliah agar mampu bersaing dan berinovasi,” ujarnya.
Dengan pendekatan yang tepat, sektor ini bisa menjadi sumber penghasilan nyata dan berkelanjutan. Dunia wirausaha bukanlah dunia yang mudah dan tanpa rintangan, justru di sinilah karakter yang tangguh diperlukan untuk beradaptasi dan berinovasi.
Penulis: Nirmala Sagita
Editor: Avicena C. Nisa
