Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang ditularkan oleh gigitan nyamuk bernama Aedes Aegypti. Penyakit ini masih menjadi salah satu isu kesehatan masyarakat di Indonesia. Dilansir melalui laman kemenkes.go.id tercatat hingga Mei 2024 terdapat hampir 88.593 kasus DBD di 213 Kabupaten/ Kota di Indonesia. 624 kasus diantaranya berakhir dengan kematian pasien.

Meskipun DBD dapat disembuhkan, namun perlu waspada kemungkinan komplikasi. Terjadinya syok pada DBD atau istilah medisnya Dengue Shock Syndrome (DSS) juga bisa berujung kematian. Syok dapat terjadi karena penderita DBD terlambat mendapatkan penanganan, termasuk kurangnya kewaspadaan terhadap tanda-tanda syok dini.
Pemeriksaan IgM/IgG Anti Dengue akan dilakukan untuk mendiagnosa pasien bergejala demam berdarah. Tak berhenti disitu saja, pemeriksaan lebih lanjut dilakukan saat dan sesudah pasien dinyatakan sembuh. Screening dilakukan agar pasien benar-benar bersih dan mencegah terjadinya DBD yang timbul dari kasus sebelumnya.
Lalu, bagaimana kita dapat mendeteksi DBD? Berikut penjelasan dr. Aditya Ignasius Sigit., Sp.PK dosen Prodi Kedokteran FIKKIA UNAIR yang sehari-hari praktik di RS Yasmin, Banyuwangi
Tanda-Tanda Dengue Shock Syndrome (DSS):
- Muntah terus-menerus
- Nyeri perut hebat
- Kaki dan tangan (akral) pucat,
- Dingin dan lembab
- Nadi melemah
- Lesu, gelisah
- Perdarahan
- Jumlah urin menurun
Jika mengalami gejala demam lebih dari 3 hari disertai mual, muntah, nyeri otot, nyeri di belakang telinga, dan sakit kepala, segera periksa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat dan lakukan pemeriksaan darah.
Parameter pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan meliputi :
- Darah lengkap/Hematologi
- Fungsi Liver (SGOT/SGPT, albumin)
- Fungsi Ginjal (Ureum, Creatinine)
- Urinalisis
- Serum Elektrolit (Na, K, Cl, Ca, Mg, Ph)
- Pemeriksaan imunoserologi (NS-1 Antigen, IgM/IgG Anti Dengue)
Pemeriksaan imunoserologi IgM dan IgG Anti Dengue
Pemeriksaan antibodi IgG dan IgM Anti Dengue berguna dalam diagnosis infeksi virus dengue. Kedua antibodi ini muncul 5-7 hari setelah infeksi. Bila pemeriksaan dilakukan sebelum periode tersebut, bisa kemungkinan hasilnya negatif palsu. Pemeriksaan yang lebih tepat untuk periode awal adalah dengan memeriksakan NS-1 Antigen, dimana dapat terdeteksi sekitar 2-9 hari (idealnya) setelah gejala muncul.
IgM akan tidak terdeteksi 30-90 hari setelah infeksi, sedangkan IgG dapat tetap terdeteksi seumur hidup. IgM yang positif memiliki nilai diagnostik bila disertai dengan gejala yang mendukung terjadinya demam berdarah.
Membedakan infeksi dengue primer atau sekunder.
Dengue primer terjadi pada pasien tanpa riwayat terkena infeksi dengue sebelumnya. Pada pasien dapat dideteksi IgM muncul secara lambat dengan titer yang rendah. Dengue sekunder terjadi pada pasien dengan riwayat paparan virus dengue sebelumnya. Kekebalan terhadap virus dengue yang sama atau homolog muncul seumur hidup.

Setelah beberapa waktu bisa terjadi infeksi dengan virus dengue yang berbeda. Pada awalnya akan muncul antibodi IgG, sering muncul pada masa demam, yang merupakan respon memori dari sel imun. Selain itu juga muncul respon antibodi IgM terhadap infeksi virus dengue yang baru.
Selain itu juga bisa digunakan rasio IgM/IgG Anti Dengue. Rasio > 1,2 lebih mendukung infeksi dengue primer, sedangkan raso ≤ 1,2 lebih ke arah infeksi dengue sekunder
Penulis: dr. Aditya Ignasius Sigit., Sp.PK
Editor: Avicena C. Nisa
