FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Penanaman Pandan Laut oleh FIKKIA UNAIR bersama Eidyl Natura Kuatkan Eduwisata Pulau Santen Banyuwangi

KABAR FIKKIA – Senin (06/05/2024) Pulau Santen memiliki panorama Selat Bali yang memukau. Pasir pantai yang hitam dan hangat kerap menjadi jujugan penyu lekang meletakkan telurnya. Potensi ekowisata sebagai tempat konservasi penyu di Pulau Santen terus diupayakan  oleh Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga dan Pokdarwis setempat. Program Pengabdian Masyarakat (PENGMAS) berkala yang dilakukan, berangsur membawa dampak positif bagi masyarakat Pulau Santen. Saat ini terdapat rumah edukasi penyu yang terletak tepat di depan gazebo. Dengan mempertahankan fungsi ekologis pulau, diharapkan dapat ikut mendongkrak pertumbuhan pariwisata yang lebih baik.

Setelah sebelumnya dilakukan penanaman mangrove di muara Pulau Santen, kali ini FIKKIA bersama partner baru PT Eidyl Natura, dan rekanan lainnya melakukan penanaman pandan laut di pesisir utara pantai Pulau Santen. PT Eidyl Natura merupakan produsen kosmetik yang mengklaim produknya berbahan organik.

Penanaman pandan laut di pantai Pulau Santen. Sumber: UKIP

Pengmas didukung oleh, Kepala Dinas Lingkungan Hidup  Kabupaten Banyuwangi, Founder Banyuwangi Sea Turtle Foundation, Ketua Bank Sampah Banyuwangi, Komandan Kodim Banyuwangi, Kapolsek Banyuwangi Kota, Lurah Kelurahan Karangrejo, Founder SkyFarm Glenmore, Ketua Yayasan Ecolaku Lestari, K2SOS Karangrejo, Ketua Pokdarwis Pantai Pulau Santen, Danlatamal Banyuwangi dan mahasiswa perwakilan Central Mindanao University Thailand.

Kolaborasi antara Prodi Kesehatan Masyarakat, Akuakultur, dan Kedokteran Hewan dan pihak Eidyl Natura menjadi wujud komitmen untuk berkontribusi menjaga dan melestarikan alam dengan lebih baik demi terwujudnya masa depan yang berkelanjutan.

Penanaman pandan laut dukung upaya konservasi penyu

Kegiatan diawali dengan pelepasan 20 ekor tukik saat matahari sudah sedikit meninggi. Pelepasan tukik ke laut menggunakan wadah batok kelapa. Ini dilakukan agar tukik beradaptasi dengan bau laut dan melakukan pembiasaan serta penyesuaian diri di ekosistem laut.

Setelah memastikan tukik mencapai bibir pantai dan berenang ke laut, peserta bergegas menuju titik lokasi penanaman pandan. 30 batang pandan berhasil ditanam bersama masyarakat yang hadir. Pandan laut memiliki fungsi sebagai penahan abrasi. Keberadaan pandan laut di sekitar pantai akan menjadi tempat untuk penyu pada musim bertelur. hal ini sejalan dengan adanya konservasi penyu yang dilakukan.

Mahasiswa CMU ikut ramaikan pengabdian masyarakat pagi itu. Sumber: UKIP

Dari segi ekonomi, daun pandan laut bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan anyaman. Hasil anyaman dapat dikembangkan tas, tikar, topi, maupun cindera mata lainnya.

Adanya kegiatan tanam pandan laut dan konservasi penyu ini diharapkan mampu memupuk kepekaan serta membuka wawasan tentang lingkungan. Dekan FIKKIA Prof Dr Soetojo, dr., Sp.U.(K) berpesan bahwa menjaga alam adalah bentuk investasi masa depan.

“Lingkungan harus dijaga serta dilestarikan, lingkungan sebagai tempat seluruh makhluk hidup tumbuh. Jangan sampai alam rusak oleh manusia. Akibatnya, kita kehilangan tempat hidup layak untuk anak cucu kita.” tuturnya

Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-14 Life Below Water, ke-15 Life on Land, ke-17 Partnership for the Goals, dan poin ke-3 Good Health and Well Being

Penulis: Lauren Mercy

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *