Budidaya udang Windu (Penaeus monodon) merupakan peluang usaha yang menggunakan media air laut sebagai lingkungan hidup udang dengan modal yang kecil tetapi menuai untung yang melimpah. Udang Windu adalah salah satu jenis udang yang sering digunakan untuk berbagai jenis hidangan siap pangan. Oleh karena itu, eksistensinya membuat udang ini memiliki posisi pasar yang tinggi dalam distribusinya. Udang satu ini juga memiliki nilai komoditi ekspor yang tinggi. Dibandingkan udang Vaname, harga jual udang Windu mencapai Rp150 ribu per kg di pasaran.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik Indonesia, komoditas perikanan dan kelautan menyumbang 1,06% dari devisa negara (Luneto, 2022). Namun, tak lepas dari permasalahan budidaya yang selalu menjamur, parasit atau bakteri merugikan yang menyerang habitat udang menjadi titik kritis bagi setiap petambak. Dalam budidaya udang, salah satu bakteri yang menyebabkan mortalitas massal adalah bakteri Vibrio sp. Menurut Supono dan Elisdiana (2022), bakteri ini menyebabkan penyakit White Feces Disease (WFD) dan Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND). WFD ditandai dengan gejala klinis yakni kotoran atau feses putih udang yang mengambang di permukaan air, kotoran yang berwarna abnormal ini disebabkan oleh rusaknya kelenjar pencernaan (hepatopankreas) yang mengakibatkan jaringan tersebut luruh dan membentuk agregat yang menyatu dengan kotoran.
Sedangkan gejala klinis udang yang terkena AHPND adalah hepatopankreas mengalami nekrosis (kematian sel) yang menyebabkan usus mengerut dan kosong. AHPND pada kondisi parah dapat menyebabkan kematian di awal budidaya yakni sekitar hari ke 35-45, bahkan telah terdapat kasus kematian massal sebelum 30 hari budidaya dengan tingkat mortalitas (kematian) 40-100% dalam 4 hari. Pada kalangan pewirausaha udang, bakteri ini seringkali menghantui kolam budidaya meski air laut yang digunakan telah melalui proses sterilisasi secara ketat.
Salah satu cara inovatif untuk mengurangi keberadaan bakteri Vibrio adalah melalui sterilisasi air pada kolam budidaya dengan membuat biofilm dari susunan batu kali. Menurut Zamroni (2018), susunan batu ini dibentuk tanpa menggunakan perekat semen dan disusun menyerupai trickling atau bendungan yang menjebak air. Batu-batu ini dalam 6-12 bulan akan tumbuh bakteri biofilm yang bersifat menguntungkan (gram positif) yang akan berkompetisi secara nutrient dan ruang dengan Vibrio sp (gram negatif). Biofilm dapat memurnikan air secara alami ketimbang desinfektan yang seringkali digunakan oleh para petambak, yang pada kemungkinan minimnya dapat meresistensi bakteri Vibrio. Biofilm ini dapat menguraikan senyawa-senyawa berbahaya dalam perairan.
Penggunaan batu kali ini lebih menguntungkan dari segi perekonomian, karena dapat menghemat sampai dengan Rp20 juta untuk biaya produksi dan Rp150 juta untuk biaya kaporit (desinfektan) (pada luasan lahan budidaya 6,2 Ha). Dengan adanya inovasi ini, pengantisipasian parasit Vibrio dapat dilakukan dengan mudah dan solutif, melihat bakteri Vibrio sangat mematikan bagi udang. Inovasi yang diharapkan tetap solutif di masa futuristik yang akan datang.
Penulis: Dhea Puspita Hakim (Mahasiswa S-1 Akuakultur SIKIA)
Editor: Acn
Daftar Pustaka
Luneto, R. 2022. Competitive Advantage Udang Windu Pinrang Dalam Perdagangan Internasional. Review Of International Relations, 4(1): 1-20.
Supono, S., & Elisdiana, Y. 2022. Efektivitas Ekstrak Mangrove Rhizophora Apiculata (Tomlinson, 1986) Dalam Menghambat Vibrio Parahaemolyticus Penyebab Penyakit Pada Udang Vaname Litopenaeus Vannamei (Boone, 1931). Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 10(2): 199-211.
Zamroni, M., 2018. Batu Kali Melawan Bakteri Udang. [Online] Available at: https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://kkp.go.id/brsdm/artikel/5545-batu-kali-melawan-bakteri-udang&ved=2ahUKEwjKrKm1yaj-AhUe-jgGHcjrBhkQFnoECAwQAQ&usg=AOvVaw3qvqXXjBlIDhKC_yVpbEDV [Accessed 2 April 2023].
