Ikan lele merupakan salah satu komoditas unggulan dalam akuakultur air tawar yang dibudidayakan secara luas di hampir 90 negara di dunia. Popularitasnya didorong oleh harga yang terjangkau, nilai gizi yang tinggi, serta kemampuannya tumbuh dengan cepat dan beradaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan. Di Indonesia, ikan lele menunjukkan pertumbuhan produksi yang signifikan. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (2024), produksi ikan lele meningkat sebesar 4,27% dari tahun 2018 hingga 2022. Lele menjadi komoditas akuakultur dengan tingkat pertumbuhan rata-rata tertinggi di antara semua jenis ikan budidaya.
Karakteristik intrinsik ikan lele seperti efisiensi konversi pakan, toleransi terhadap kepadatan tinggi, serta ketahanannya terhadap fluktuasi kualitas air menjadikannya pilihan utama bagi para pembudidaya, baik skala kecil maupun industri besar. Selain itu, teknik budidaya ikan lele yang relatif sederhana dan biaya produksi yang rendah semakin memperkuat daya tarik komoditas ini di pasar domestik maupun internasional
Ancaman Edwardsiella tarda dalam Budidaya Ikan Lele
Dibalik kemudahan budidaya ikan lele, terdapat ancaman penyakit Bakteri Edwardsiella Tarda. Penyakit E. Tarda mengakibatkan tingginya angka kematian dan berpengaruh terhadap kualitas panen yang kurang baik. Maka dari itu diperlukan suatu penanganan deteksi dini untuk mencegah terjadinya E. Tarda menurut temuan (Kurniawati dkk.,2025).
Edwardsiella tarda adalah bakteri yang mengakibatkan berbagai perubahan seperti luka di bagian kepala, perut, atau pangkal sirip , terjadi bercak merah terutama di sekitar perut, mulut dan insang serta E. Tarda juga memengaruhi jumlah sel darah merah, sel darah putih, kadar Hb, dan jumlah leukosit diferensial.
Ikan Wader Sebagai Agen Penular
Fakta penting yang sering diabaikan dalam sistem budidaya ikan campuran adalah bahwa ikan lokal seperti wader (Rasbora argyrotaenia) berperan sebagai carrier (pembawa) patogen berbahaya, tanpa menunjukkan gejala sakit. Meskipun tampak sehat, wader terbukti membawa E. tarda, yang kemudian menular dan memicu infeksi sistemik ikan lele.
Bukti paling kuat dari infeksi terlihat dari perubahan hematologis ikan lele pasca cohabitation. Terdapat penurunan signifikan sel darah merah dan hemoglobin, yang mengindikasikan anemia. Sebaliknya, terjadi peningkatan sel darah putih ,neutrofil, dan monosit tanda itu mencerminkan perlawanan tubuh terhadap infeksi bakteri. Penurunan limfosit juga memperlihatkan adanya stres imunologis atau bahkan imunosupresi.
Penelitian ini memberi peringatan serius bagi pelaku budidaya ikan air tawar khususnya pembudidaya ikan lele. Pembawa asimptomatik dapat menjadi sumber utama wabah penyakit di kolam bahkan tanpa pernah kita sadari. Maka dari itu, perlu adanya skrining kesehatan, karantina, dan pemisahan spesies sebelum dilakukan pemeliharaan bersama. Budidaya yang aman tidak hanya bergantung pada kualitas pakan dan air, tetapi juga pada manajemen risiko penyakit seperti yang ditunjukkan dalam studi ini.
Pencegahan E. tarda dengan Biosekuriti
Karantina ikan baru wajib dilakukan sebelum dimasukkan ke kolam utama selama 14 hari. Ikan baru sering membawa patogen meskipun tidak menunjukkan gejala klinis. Melakukan tes untuk memastikan tidak ada patogen yang terbawa. Selain karantina, langkah lain yang dilakukan adalah memisahkan spesies berisiko tinggi, seperti ikan wader. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan pemisahan spesies dalam satu kolam agar risiko kontaminasi antar spesies dapat diminimalkan.
Secara keseluruhan, mencegah E. tarda dalam budidaya ikan lele memerlukan lebih dari sekadar pengelolaan pakan dan kualitas air. Langkah-langkah seperti karantina ikan, pemisahan spesies berisiko, penerapan biosekuriti yang ketat, dan penggunaan teknologi deteksi dini sangat penting untuk mengurangi kemungkinan wabah penyakit. Pendekatan pencegahan yang tepat akan memastikan bahwa budidaya ikan lele dapat berlangsung dengan aman dan menguntungkan dalam jangka panjang.
Penerapan biosekuriti yang ketat juga sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran patogen dalam budidaya ikan lele. Langkah-langkah biosekuriti meliputi menjaga kebersihan kolam, rutin membersihkan peralatan budidaya, serta menghindari kontak antara kolam yang berbeda. Hal ini akan membantu mencegah penyebaran penyakit dari satu kolam ke kolam lainnya. Selain itu, manajemen kualitas air yang baik juga berperan besar dalam mencegah infeksi E. tarda Patogen ini berkembang lebih baik di lingkungan yang buruk, seperti air yang tercemar atau tidak stabil. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kondisi air dengan memantau suhu, pH, dan sirkulasi air. Menggunakan probiotik untuk menjaga keseimbangan mikrobiota air juga bisa membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi ikan (Ariadi dkk.,2022)
Jenis Probiotik
Menurut Lawal dkk. (2019, pemberian bakteri Bacillus subtilis pada ikan lele dapat meningkatkan fungsi usus dalam mencerna makanan dan penyerapan nutrisi. Sedangkan Baisakhi dkk (2024) menggunakan kombinasi B. Subtilis dan Saccharomyces cerevisiae meningkatkan sekresi enzim pencernaan pada ikan mas asal India. Lactobacillus casei terbukti nyata meningkatkan pertumbuhan, daya cerna ikan, dan ketahanan ikan terhadap penyakit serta dapat mengubah komposisi mikrobiota usus.
Pemberian Lactobacillus platanum yang merupakan jenis bakteri asam laktat yang sudah dikenal ramah lingkungan. Penggunaannya erpengaruh nyata terhadap hematologi (eritrosit, leukosit dan hemoglobin) yang terinfeksi bakteri Edwardsiella Tarda dengan perlakuan terbaik kepadatan 108 cfu.ml-1
Aplikasi Pada Pakan dan Air Kolam
Dalam praktik lapangan, probiotik sebaiknya dicampurkan ke dalam pakan dengan metode pelapisan (coating). Menggunakan perekat alami seperti minyak ikan, agar bakteri tetap hidup dan menempel pada pelet. Hindari percampuran probiotik ke pakan bersuhu tinggi. Suhu di atas 40°C dapat membunuh bakteri probiotik.
Aplikasi probiotik juga bisa dilakukan melalui air kolam, khususnya Lactobacillus plantarum. Penggunaannya efektif diberikan langsung ke media pemeliharaan dalam bentuk cair dengan kepadatan 10⁸ CFU/mL. Idealnya diberikan setiap hari atau minimal 3 kali seminggu selama masa kritis, seperti fase adaptasi, pergantian musim, atau saat terindikasi adanya infeksi.
Kombinasi probiotik dengan prebiotik alami (misalnya inulin atau oligosakarida) juga dianjurkan. Perpaduan keduanya dapat meningkatkan efektivitas sebagai sinbiotik yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan dan memperkuat daya saing terhadap patogen. Pembudidaya biasanya melakukan, pemberian probiotik tersebut dapat dilakukan melalui campuran dalam pakan maupun aplikasi langsung ke air kolam.
Dosis umum berkisar antara 10⁷ hingga 10⁸ CFU per gram pakan atau per mililiter air, dan diberikan secara rutin setiap hari atau selang dua hari selama 2–4 minggu tergantung kondisi kolam dan status kesehatan ikan. Pemberian probiotik tidak hanya membantu memperkuat sistem imun ikan tetapi juga menjaga keseimbangan mikrobiota usus serta memperbaiki efisiensi metabolisme. Penggunaan probiotik ini sangat direkomendasikan sebagai bagian dari sistem manajemen kesehatan ikan yang berkelanjutan , terutama dalam menghadapi ancaman laten seperti Edwardsiella tarda yang sering kali muncul melalui carrier asimptomatik seperti ikan rasbora.
Penulis: Lauren Mercy (Mahasiswa Akuakultur FIKKIA UNAIR)
Editor: Avicena C. Nisa
