FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Pengmas Akuakultur FIKKIA Tebar 5000 Benih Ikan Nila

KABAR FIKKIA – Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi terus berkontribusi dalam tri dharma perguruan tinggi secara berkelanjutan. Tak hanya sekedar riset dan pendidikan bagi civitas akademika saja, pengabdian masyarakat turut menjadi aksi nyata yang terimplementasikan. Termasuk Program Studi Akuakultur FIKKIA yang menggelar pengabdian bertajuk “Peningkatan Ekonomi dan Efisiensi Budidaya Ikan Kelompok Masyarakat Desa Segobang, Licin Berbasis Smart Automated Aquaculture System (SAAS).” Kegiatan tersebut berlangsung selama 6 bulan Mulai Juni hingga November 2024. Pendampingan dilakukan kepada enam tujuh orang yang tergabung pada kelompok pembudidaya ikan Desa Segobang, Kecamatan Licin, Banyuwangi

Minggu (1/9/2024), Program Studi Akuakultur menebar 5000 ekor ikan nila berukuran 3 sampai 5 cm pada kolam pendederan. Dosen Akuakultur, Arif Habib Fasya, S.Pi, M.Si. mengatakan ikan yang baru datang sebelumnya harus diaklimatisasi untuk penyesuaian air sebelum ditebar. Proses berjalan mulai dengan pengapungan plastik berisi ikan pada kolam yang akan digunakan sampai plastik tampak mengembun. Hal tersebut menunjukkan suhu dalam dan luar kantong telah sama. Jika pembudidaya melewatkan proses tersebut, maka ikan berpotensi menjadi stres dan mengganggu produktivitas.

Penebaran 5000 ekor bibit nila di kolam budidaya Desa Segobang. Sumber: Penulis

Monitoring Ikan Bersama Kelompok Masyarakat

Setelah pelepasan, tim pengabdian bersama kelompok masyarakat tersebut melakukan monitoring ikan setiap hari. Mereka harus mengevaluasi panjang ikan, kualitas air Suhu, pH, nitrit, nitrat, hingga amoniak. Pemberian pakan harian secara terjadwal dapat dilakukan sebanyak 1 hingga 3 kali. Bobot pakan harian yang dapat diberikan adalah 5% dari total berat tubuh keseluruhan ikan. Fasya juga menjelaskan bahwa pemberian pakan berlebihan memberikan dampak buruk. Ikan bukan bertambah bobotnya, tetapi pencernaan ikan tidak dapat bekerja dengan baik hingga menyebabkan pertumbuhan terhambat.

Kelompok binaan tersebut juga wajib mengecek kualitas air secara menyeluruh. Hal tersebut untuk memastikan aliran oksigen dalam air tetap terjaga. Mereka juga harus mewaspadai perubahan suhu pada air karena sangat berpengaruh bagi kesehatan ikan. Jika dalam kondisi air dingin, pemberian pakan juga harus dikurangi demi menjaga kuantitas kotoran agar tidak menjadi racun bagi ikan. Kotoran yang tinggi dapat meningkatkan amoniak dalam air. Selain pakan, penambahan vitamin dan imunostimulan dapat menjaga kesehatan ikan. Daya tahan tubuh ikan menjadi kuat dan tak mudah sakit. Penggunaan bahan seperti vitamin dan mineral sebanyak 1 sdm/Kg untuk total bobot ikan. Selain itu dapat melakukan penambahan bahan herbal seperti bawang putih dan kunyit yang ditumbuk, Penggunaannya dapat ditambahkan pada campuran pakan yang akan diberikan.

Praktik pencampuran sesuai formulasi yang dibutuhkan. Sumber: Penulis

Tim pengabdian Akuakultur FIKKIA menghaturkan terima kasih telah memberikan fasilitas menyediakan tempat untuk pengabdian. Pengabdian tertuju bukan menjadi ajang menggurui. Namun, menjadi jembatan saling bertukar informasi dapat meningkatkan produktivitas dalam hal budidaya ikan antara akademisi dan pelaku budidaya. Pengalaman budidaya harus terbagikan menjadi  untuk menjadi hal yang lebih bagus. Setelah kegiatan berlangsung dapat terus berlanjut untuk meningkatkan aktivitas perikanan di Desa Segobang

Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-14 Life Below Water dan ke-17 Partnership for the Goals

Penulis: Azhar Burhanuddin

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *